Biologi X - Semester 1 - Fungi - Ciri-Ciri Umum Jamur

Biologi X - Semester 1 - Fungi - Ciri-Ciri Umum Jamur

BIOLOGI SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 6
Fungi


Pendalam Materi


    Pada apersepsi di depan, telah Anda ketahui bahwa jamur Aspergillus tubingensis merupakan jamur yang bersifat uniseluler mikroskopis. Namun, spesies jamur yang lain ada juga yang bersifat multiseluler makroskopis. Apa saja ciri-ciri umum jamur? Bagaimana pengelompokan jamur berdasarkan ciri-ciri tersebut? Nah, pada bab ini Anda akan mempelajari tentang jamur yang meliputi ciri-ciri umum, pengelompokan jamur berdasarkan ciri-cirinya, serta manfaat jamur bagi kehidupan.

A. Ciri-Ciri Umum Jamur

    Dahulu jamur dikelompokkan ke dalam kelompok tumbuhan. Namun, berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki akhirnya jamur dikelompokkan ke dalam kingdom sendiri yaitu kingdom Fungi. Bagaimana ciri-ciri jamur tersebut sehingga tidak dikelompokkan ke dalam kelompok tumbuhan lagi? Anda mungkin sering melihat jamur pada saat musim penghujan. Jamur-jamur tersebut sebagian besar berbentuk seperti payung.

    Berdasarkan kegiatan tersebut, Anda telah mengenal beberapa jenis jamur. Jamur yang ada di alam sangat beranekaragam. Namun, jamur memiliki ciri-ciri umum yang membedakan dengan organisme lain. Apa saja ciri-ciri umum jamur? Untuk mengetahuinya, simaklah uraian berikut.

1. Ukuran dan Bentuk Tubuh

    Beberapa jenis jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Jamur uniseluler berukuran mikroskopis, contohnya Saccharomyces. Jamur multiseluler ada yang berukuran mikroskopis dan ada yang makroskopis. Jamur memiliki bentuk tubuh yang bermacam-macam, ada yang berbentuk oval, berbentuk benang, dan ada yang memiliki tubuh buah. Tubuh buah pada jamur multiseluler ada yang berbentuk payung, mangkuk, kuping, setengah lingkaran, dan bulat.

2. Struktur dan Fungsi Tubuh

    Jamur merupakan organisme eukariotik dengan dinding sel yang tersusun dari zat kitin. Jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melangsungkan proses fotosintesis. Jamur multiseluler memiliki sel-sel memanjang yang disebut hifa. Hifa pada beberapa jenis jamur memiliki sekat antarsel yang disebut septa. Namun, ada juga beberapa jenis jamur yang hifanya tidak memiliki septa yang disebut hifa soenositik. Kumpulan hifa yang bercabang-cabang akan membentuk miselium, Miselium yang berfungsi menyerap makanan disebut miselium vegetatif. Miselium vegetatif pada jamur tertentu memiliki struktur hifa yang disebut haustorium. Sementara itu, bagian miselium yang berdiferensiasi membentuk alat reproduksi disebut miselium generatif.

3. Cara Hidup

    Jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melangsungkan proses fotosintesis. Jamur hidup menyerap zat organik dari lingkungannya. Jamur bersifat heterotrof yang memperoleh zat organik dari hasil sintesis organisme lain. Berdasarkan cara memperoleh makanannya, jamur ada yang bersifat saprofit, parasit, dan mutual. Jamur bersifat saprofit memperoleh zat organik dari sisa-sisa organisme mati dan bahan tak hidup, misalnya daun dan kertas. Jamur dengan sifat ini berperan sebagai dekomposer dalam ekosistem. Jamur bersifat parasit memperoleh zat organik dari organisme lain. Jamur dengan sifat ini merugikan organisme inangnya karena dapat menyebabkan penyakit. Jamur bersifat mutual hidup saling menguntungkan dengan organisme lainnya. Misalnya jamur yang bersimbiosis mutualisme dengan ganggang hijau biru membentuk lumut kerak. Jamur memperoleh zat organik dari ganggang, sedangkan jamur membantu ganggang menyerap air dan mineral yang akan digunakan ganggang untuk melangsungkan proses fotosintesis.

4. Habitat

    Habitat jamur berada di lingkungan yang beranekaragam. Pada umumnya jamur berada di lingkungan lembap dan pH rendah. Beberapa jenis jamur ada yang hidup di lingkungan asam dan di lingkungan dengan konsentrasi gula tinggi. Jamur juga dapat hidup di lingkungan ekstrem, misalnya jamur yang bersimbiosis dengan ganggang membentuk lumut kerak. Selain itu, beberapa jenis jamur ada yang hidup di dalam tubuh organisme lain.

5. Reproduksi

    Jamur dapat bereproduksi secara aseksual maupun seksual. Reproduksi secara aseksual berlangsung dengan pembentukan kuncup (tunas) pada jamur uniseluler, pemutusan benang (hifa) pada jamur multiseluler, dan pembentukan spora aseksual. Spora aseksual dapat berupa sporangiospora dan konidiospora. Adapun reproduksi jamur secara seksual dilakukan oleh spora seksual yang dihasilkan secara singami (penyatuan sel atau hifa yang berbeda jenis). Spora seksual dapat berupa zigospora, askospora, dan basidiospora. Berdasarkan cara reproduksi seksualnya, jamur diklasifikasikan menjadi divisi Zygomycotina, Ascomycotina, Basidiomycotina, dan Deuteromycotina.







Post a Comment

0 Comments