Biologi X - Semester 1 - Keanekaragaman Hayati pada Makhluk Hidup - Klasifikasi Keanekaragaman Hayati

Biologi X - Semester 1 - Keanekaragaman Hayati pada Makhluk Hidup - Klasifikasi Keanekaragaman Hayati

BIOLOGI SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 2
Klasifikasi Keanekaragaman Hayati


Pendalam Materi


C.  Klasifikasi Keanekaragaman Hayati

    Apabila Anda hendak mempelajari suatu tumbuhan atau hewan sebagai objek studi, tentu Anda harus mengetahui hewan atau tumbuhan yang dimaksud. Kenyataannya, jumlah hewan dan tumbuhan sangat banyak dan beranekaragam sehingga sulit untuk dipelajari. Bagaimana cara Anda agar mudah mempelajarinya? Lakukan kegiatan berikut untuk mengetahui jawabannya.

    Berdasarkan kegiatan tersebut, Anda telah memperoleh gambaran tentang cara mengelompokkan makhluk hidup. Makhluk hidup seperti tumbuhan dan hewan dikelompokkan berdasarkan persamaan sifat yang dimiliki. Misalnya persamaan bentuk tulang daun pada tumbuhan dan persamaan penutup tubuh pada hewan.

    Keanekaragaman makhluk hidup yang melimpah sangat sulit dipelajari. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelompokan (klasifikasi) makhluk hidup. Klasifikasi yang dilakukan oleh para ahli Biologi mempunyai beberapa tujuan berikut.

    1.  Mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup untuk membedakan tiap-tiap jenis agar mudah dikenali.
    2.  Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan ciri-cirinya.
    3.  Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup.
    4.  Mengetahui evolusi makhluk hidup atas dasar kekerabatannya.
    Selain itu, klasifikasi juga memiliki manfaat yang secara langsung dapat diterapkan bagi kepentingan manusia. Manfaat klasifikasi makhluk hidup bagi manusia sebagai berikut.

    1.  Klasifikasi memudahkan kita mempelajari makhluk hidup yang beraneka ragam. Contoh pengelompokan tumbuhan berdasarkan manfaatnya.




    2.  Klasifikasi dapat digunakan untuk melihat hubungan kekerabatan antar makhluk hidup yang satu dengan yang lain. Contoh harimau memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan kucing daripada dengan komodo karena harimau dan kucing memiliki persamaan lebih banyak.

    3.  Klasifikasi dapat digunakan untuk mengetahui ciri-ciri dan sifat setiap makhluk hidup.

    4.  Klasifikasi dapat digunakan untuk mengetahui adanya saling ketergantungan antara makhluk hidup satu dengan makhluk hidup yang lain.


1.  Perkembangan Sistem Klasifikasi

    Sistem klasifikasi makhluk hidup terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya Taksonomi. Saat ini diketahui terdapat tiga sistem klasifikasi makhluk hidup yaitu klasifikasi artifisial (buatan), klasifikasi sistem alami, dan klasifikasi sistem filogenetik.

  a.  Klasifikasi Sistem Artifisial atau Buatan

    Sistem ini menggunakan struktur morfologi, anatomi, maupun fisiologi (terutama alat reproduksi dan habitatnya) sebagai dasar pengklasifikasian. Theopratus dalam bukunya Historia Plantarum menggolongkan tumbuhan berdasarkan perawakannya (habitus) meliputi pohon, perdu, semak, dan gulma. Tokoh lain dalam klasifikasi sistem artifisial yaitu Aristoteles dan Carolus Linnaeus. Dalam bukunya Historia Animalium, Aristoteles membagi makhluk hidup menjadi dua kelompok berdasarkan ada tidaknya klorofil dan kemampuan berpindah tempat yaitu kelompok tumbuhan (Plantae) dan kelompok hewan (Animalia). Carolus Linnaeus mengelompokkan tumbuhan berdasarkan alat reproduksinya.

  b.  Klasifikasi Sistem Alami

    Perintis sistem klasifikasi ini adalah Michael Adams dan Jean Baptiste de Lamarck. Sistem ini menghendaki terbentuknya kelompok-kelompok takson yang alami. Artinya, anggota-anggota yang membentuk unit takson terjadi secara alamiah atau sewajarnya seperti yang dikehendaki oleh alam.

    Klasifikasi sistem alami menggunakan dasar persamaan dan perbedaan morfologi (bentuk luar tubuh) secara alami atau wajar. Contoh klasifikasi sistem alami sebagai berikut.
    1).  Berdasarkan cara geraknya: hewan berkaki, hewan bersayap, dan hewan bersirip.
    2).  Berdasarkan penutup tubuhnya: hewan bersisik, hewan berbulu, hewan berambut, dan hewan bercangkang
    Adapun pada tumbuhan dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kelompok tumbuhan biji berkeping satu (Monocotyledoneae) dan biji berkeping dua (Dicotyledoneae).

  с.  Klasifikasi Sistem Filogenetik

    Klasifikasi sistem filogenetik muncul setelah teori evolusi dikemukakan oleh para ahli Biologi. Sistem ini pertama kali dikemukakan oleh Charles Darwin pada tahun 1825, Menurut Darwin, terdapat hubungan antara klasifikasi dengan evolusi.

    Klasifikasi sistem filogenetik disusun berdasarkan jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara takson yang satu dengan yang lain. Selain mencerminkan persamaan dan perbedaan sifat morfologi, anatomi, serta fisiologinya, sistem ini juga menjelaskan bahwa semua makhluk hidup memiliki kesamaan molekul dan biokimia, tetapi berbeda-beda dalam bentuk luar, faal, tingkah laku yang dapat diamati, dan pewarisan keturunan. Contoh klasifikasi sistem filogenetik adalah klasifikasi yang dilakukan oleh R.H. Whittaker yang dikenal dengan sistem lima kingdom.

    Perkembangan sistem klasifikasi yang pernah diperkenalkan oleh para ahli taksonomi sebagai berikut.
    1).  Sistem dua kingdom, Carolus Linnaeus (1758) membagi makhluk hidup menjadi dunia hewan (Animalia) dan dunia tumbuhan (Plantae).
    2).  Sistem tiga kingdom, Ernest Haeckal (1866), membagi makhluk hidup menjadi dunia hewan (Animalia), dunia tumbuhan (Plantae), dan dunia Protista (termasuk Bacteria, Protista (Proto zoa), dan Sponge (Porifera)). Sementara Antonie van Leeuwenhoek juga membagi makhluk hidup menjadi tiga kingdom yaitu dunia hewan (Animalia), dunia tumbuhan (Plantae), dan dunia jamur (Fungi).
    3).  Sistem empat kingdom, Copeland (1956), membagi makhluk hidup menjadi dunia hewan (Animalia), dunia tumbuhan (Plantae), dunia Protoctista, dan dunia Monera (termasuk Bacto ria). Pendapat lain, misalnya Eduard Chatton (1939), membagi makhluk hidup menjadi dunia Prokariota, dunia Fungi, dunia Animalia, dan dunia Plantae.
    4).  Sistem lima kingdom, Robert H. Whittaker (1969), membagi makhluk hidup menjadi dunia hewan (Animalia), dunia tumbuhan (Plantae), dunia Monera, dunia Protista, dan dunia jamur (Fungi).

    Dalam kegiatan pengelompokan makhluk hidup dapat digunakan metode dengan pendekatan sistematika yang disebut kladistika. Pengelompokan makhluk hidup ini dilakukan dengan menggunakan karakter derivat yang dimiliki Dengan menggunakan metode ini, spesies makhluk hidup ditempatkan dalam kelompok-kelompok yang disebut klad. Data kladistika dapat disajikan dalam bentuk kladogram. Kladogram dibuat untuk membantu dalam menganalisis hubungan kekerabatan pada makhluk hidup. Berikut ini merupakan contoh analisis karakter derivat beberapa hewan dan pembuatan kladogramnya.



    Anda telah mempelajari pengelompokan makhluk hidup menggunakan metode kladistika. Sekarang, lakukan kegiatan berikut untuk menguju pemahaman Anda.

    Dalam klasifikasi makhluk hidup, tingkat takson tertinggi yaitu kingdom (dunia), baik untuk hewan maupun tumbuhan. Tingkat tersebut masih dapat dibagi-bagi lagi menjadi unit takson yang lebih rendah Urutan peringkat dalam klasifikasi dari tertinggi sampai terendah Sebagai berikut.



    Kategori takson yang sering digunakan dalam praktik kehidupan sehari-hari ada tiga yaitu familia genus, dan spesies.
    a.  Familia (suku) adalah takson yang mencakup sejumlah genus (marga) dengan spesies-spesiesnya yang dianggap berasal dari nenek moyang yang sama.
    b.  Genus (marga) adalah takson yang mencakup sejumlah spesies yang menunjukkan persamaan dalam struktur alat reproduksi.
    c.  Spesies (jenis) adalah populasi yang setiap individunya memiliki persamaan sifat morfologi anatomi maupun fisiologi yang diturunkan ke generasi berikutnya.


2.  Pemberian Nama Ilmiah

    Prinsip lain yang perlu diperhatikan dalam sistem klasifikasi yaitu pemberian nama ilmiah pada makhluk hidup. Pemberian nama ilmiah makhluk hidup dikenal dengan sistem tata nama ganda (binomial nomenclature). Binomial nomenclature artinya pemberian nama ilmiah makhluk hidup dengan dua kata. Kata pertama menunjukkan genus (marga), sedangkan kata kedua menunjukkan penunjuk spesies.
    Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam menulis nama ilmiah makhluk hidup dengan sistem tata nama binomial sebagai berikut.

  a.  Nama Jenis (Spesies)

    Nama jenis untuk hewan maupun tumbuhan harus terdiri atas dua kata tunggal yang sudah dilatinkan. Contoh nama jenis pohon pisang yaitu Musa paradisiaca. Nama jenis cacing pita yaitu Taenia saginata. Kata pertama merupakan nama marga (genus), sedangkan kata kedua merupakan penunjuk spesies atau jenis. Dalam penulisan nama marga, huruf pertama harus dimulai dengan huruf besar. Adapun nama penunjuk jenis seluruhnya menggunakan huruf kecil. Selanjutnya, setiap nama jenis (spesies) makhluk hidup ditulis dengan huruf cetak miring atau digarisbawahi secara terpisah agar dapat dibedakan dengan nama atau istilah lain (bahasa tulis teksnya).

Contoh  :




  b.  Nama Marga (Genus)

    Nama marga tumbuhan maupun hewan terdiri atas suku kata yang merupakan kata benda berbentuk tunggal (mufrad). Huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital dan dicetak miring. Contoh marga tumbuhan Solanum (terung-terungan) dan marga hewan Felis (kelompok kucing).

  c.  Nama Suku (Familia)

    Nama suku pada umumnya merupakan kata sifat yang dijadikan sebagai kata benda berbentuk jamak. Nama suku berasal dari nama marga makhluk hidup yang bersangkutan. dari nama marga ditambahkan akhiran -aceae. Contoh nama suku Solanaceae berasal dari kata Solanum + aceae. Pada hewan, nama suku berasal dari nama marga ditambahkan dengan ideae. Contoh nama suku Felidae, berasal dari kata Felis + ideae.

    Alasan penggunaan nama ilmiah sebagai pengganti nama daerah sebagai berikut.
    a.  Tidak ada kekeliruan dalam mengidentifikasi makhluk hidup karena tidak ada makhluk hidup yang mempunyai nama ilmiah sama.
    b.  Nama ilmiah jarang berubah.
    c.  Nama ilmiah ditulis dalam bahasa yang sama di seluruh dunia.
    d.  Bahasa yang digunakan untuk nama ilmiah adalah bahasa Latin. Bahasa Latin digunakan karena bahasa ini tidak banyak mengalami perubahan.

    Dalam mengklasifikasikan suatu jenis hewan atau tumbuhan diperlukan identifikasi determinasi) ciri-ciri khas hewan atau tumbuhan. Dengan demikian, dapat ditentukan nama hewan atau tumbuhan dengan benar dan menempatkannya dalam sistem klasifikasi hewan dan tumbuhan. Untuk mempermudah pengidentifikasian biasanya digunakan kunci determinasi atau kunci dikotom. Kunci determinasi adalah cara atau langkah untuk mengenali organisme dan mengelompokkannya pada takson makhluk hidup.

    Kunci determinasi terdiri atas sederetan bait atau kuplet yang diberi nomor dan setiap bait terdiri atas dua baris yang disebut penuntun sehingga disebut kunci dikotom. Penuntun berisi ciri-ciri yang berlawanan yang ditandai dengan huruf. Pemakai kunci determinasi akan memilih satu di antara dua sifat yang berlawanan dan akhirnya akan diperoleh jawaban berupa identitas tumbuhan atau hewan yang diteliti.

    Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kunci determinasi sebagai berikut.

    a.  Kunci harus dikotom, yang terdiri atas dua ciri yang berlawanan.
    b.  Kata pertama dari setiap kuplet harus identik, contohnya sebagai berikut.
        1).  Tumbuhan berdaun tunggal . . . .
        2).  Tumbuhan berdaun majemuk . . . .
    c.  Kedua pilihan bagian dari kuplet harus berlawanan satu bagian bisa diterima dan yang sehingga lain ditolak.
    d.  Hindari pemakaian kisaran yang tumpang tindih atau hal-hal yang bersifat relatif dalam contoh panjang daun 5-8 cm.
    e.  Kuplet memuat pernyataan positif, misalnya letak daun berhadapan, bukan letak daun tidak berhadapan.
    f.  Gunakan sifat-sifat yang bisa diamati.
    g.  Pernyataan dua kuplet yang berurutan jangan dimulai dengan kata yang sama.
    h.  Setiap kuplet diberi nomor.
    i.  Buat kalimat yang pendek-pendek.

Perhatikan contoh kunci determinasi dari hewan ayam, cecak, ikan mas, katak, dan, tikus berikut.

    1.  a.  Berkembang biak dengan bertelur . . . . . . . . . . . . . . .  2
         b.  Berkembang biak dengan melahirkan . . . . . . . . . . . .  tikus

    2.  a.  Mengalami fertilisasi eksternal . . . . . . . . . . . . . . . . . .  3
         b.  Mengalami fertilisasi internal . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  4

    3.  a.  Kulit bersisik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  ikan mas
         b.  Kulit berlendir . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  katak

    4.  a.  Berkaki dua . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  ayam
         b.  Berkaki empat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  cecak




Post a Comment

0 Comments