Biologi X - Semester 1 - Protista - Ciri-Ciri dan Klasifikasi Protista Menyerupai Hewan (Protozoa) serta Peranannya bagi Kehidupan

Biologi X - Semester 1 - Protista - Ciri-Ciri dan Klasifikasi Protista Menyerupai Hewan (Protozoa) serta Peranannya bagi Kehidupan

BIOLOGI SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 5
Protista


Pendalam Materi


D. Ciri-Ciri dan Klasifikasi Protista Menyerupai Hewan (Protozoa) serta Peranannya bagi Kehidupan

    Pada bab sebelumnya Anda telah mengetahui bahwa beberapa Protista dikelompokkan ke dalam kelompok Alga karena memiliki kemiripan dengan tumbuhan. Nah, pada subbab ini Anda akan mempelajari Protista yang memiliki kemiripan dengan hewan sehingga dikelompokkan ke dalam kelompok Protozoa.


1. Ciri-Ciri Protozoa

a. Struktur Tubuh

    Protozoa nemiliki ukuran tubuh antara 100-300 mikron sehingga bersifat mikroskopis. Proto zoa merupakan organisme bersel satu (uniseluler). Semua kegiatan dilakukan oleh satu sel tunggal. Setiap sel terdiri atas bagian-bagian seperti membran plasma, sitoplasma, vakuola makanan, vakuola kontraktil, inti sel, dan mitokondria. Membran sel berfungsi sebagai pelindung serta pengatur pertukaran makanan dan gas. Sitoplasma adalah cairan sel yang berada di dalam membran sel. Vakuola makanan adalah vakuola yang berfungsi untuk mencerna makanan. Vakuola kontraktil adalah vakuola yang mengeluarkan sisa makanan. Inti sel berfungsi untuk mengatur aktivitas sel. Sebagian besar anggota Protozoa memiliki alat gerak. Alat gerak Protozoa berupa kaki semu (pseudopodia), bulu getar (silia), dan bulu cambuk (flagelum). Adanya alat gerak tersebut mengakibatkan Protozoa bersifat motil dan inilah salah satu alasan Protozoa disebut sebagai Protista yang menyerupai hewan.

b. Reproduksi

    Sebagian besar Protozoa melakukan reproduksi aseksual dengan cara pembelahan biner. Namun, ada juga beberapa jenis Protozoa yang melangsungkan reproduksi seksual dengan cara penyatuan sel generatif (gamet) dan atau penyatuan inti sel vegetatif. Perkembangbiakan seksual dengan penyatuan inti vegetatif disebut konjugasi. Dalam siklus hidupnya, Protozoa akan membentuk kista jika kondisi lingkungannya tidak menguntungkan. Jika kondisi lingkungannya sudah membaik, kista akan pecah dan Protozoa keluar untuk memulai hidupnya kembali.

с. Habitat dan Cara Hidup

    Protozoa dapat hidup soliter atau berkoloni pada berbagai jenis habitat. Sebagian besar Proto zoa hidup bebas di perairan. Beberapa jenis lainnya ada yang hidup di tanah. Ada juga yang hidup di dalam tubuh organisme lainnya seperti hewan dan manusia dengan cara bersimbiosis. Protozoa merupakan organisme heterotrof yang memangsa bakteri, Protista lain, dan sampah organisme. Oleh karena itu, Protozoa sangat berperan dalam mengontrol jumlah bakteri di lingkungan.

2. Klasifikasi Protozoa Beserta Peranannya bagi Kehidupan

    Berdasarkan alat geraknya, Protozoa diklasifikasikan menjadi enam filum yaitu Rhizopoda, Acti nopoda, Foraminifera, Zooflagellata, Ciliata, dan Sporozoa.

a. Filum Rhizopoda (Sarcodina)

    Bentuk sel Rhizopoda dapat berubah-ubah. Rhizopoda bergerak dengan penjuluran sitoplasma sel yang membentuk pseudopodia (kaki semu). Sitoplasma terdiri atas ektoplasma yang berbatasan dengan membran dan endoplasma yang berada di bagian dalam sel. Pseudopodia digunakan sebagai alat gerak dan menangkap mangsanya. Pada proses makan, pseudopodia mengelilingi makanannya dan membentuk vakuola makanan. Makanan dicerna di dalam vakuola makanan. Zat makanan hasil pencernaan di vakuola makanan masuk ke sitoplasma dengan cara berdifusi. Adapun sisa makanan dikeluarkan dari vakuola ke luar sel melalui membran plasma. Habitatnya di air tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan sebagian kecil hidup di dalam tubuh hewan atau manusia.



    Salah satu contoh Rhizopoda adalah Amoeba. Sel Amoeba dilindungi oleh membran sel yang berfungsi sebagai pelindung sel, pengatur pertukaran zat atau gas, penerima rangsang kimia dari lingkungan, dan sebagai alat gerak dengan cara membentuk pseudopodia. Rhizopoda berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan biner.



    Berdasarkan tempat hidupnya, terdapat dua jenis Amoeba yaitu Ektoamoeba dan Entamoeba. Ektoamoeba merupakan Amoeba yang hidup bebas (di luar tubuh organisme lain), misalnya Amoeba proteus yang hidup bebas di tanah lembap, Difflugia yang hidup bebas di air tawar, dan Globigerina yang hidup bebas di air laut. Entamoeba merupakan Amoeba yang hidup dalam tubuh organisme lain, misalnya Entamoeba histolytica, Entamoeba coli, dan Entamoeba gingivalis.



    Entamoeba histolytica hidup di dalam usus besar manusia dan bersifat parasit. Entamoeba histolytica masuk ke dalam tubuh manusia melalui minuman atau makanan dan mengakibatkan penyakit diare yang disebut juga penyakit amebiasis. Apabila tidak diobati, kista Amoeba dapat mencapai hati dan tinggal di dalamnya. Dalam jangka waktu lama kista tersebut dapat menyerang organ hati. Entamoeba coli hidup dalam tubuh manusia dan tidak bersifat parasit. Entamoeba gingivalis hidup dalam rongga mulut. Organisme ini menguraikan sisa makanan dalam rongga mulut. Organisme ini dapat mengakibatkan peradangan dalam rongga mulut yang disebut gingivitis.

b. Filum Actinopoda

    Actinopoda memiliki alat gerak berupa axopodia yaitu pseudopodia yang ramping dan menyebar. Contoh Actinopoda yaitu Heliozoa dan Radiolaria. Heliozoa hidup dalam air tawar. Rangkanya terdiri atas lempengan yang tidak menyatu dan mengandung silika. Radiolaria hidup di air laut dan memiliki rangka yang menyatu membentuk suatu potongan halus. Rangka Acti nopoda dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembentuk gelas, bahan penggosok, dan bahan peledak.



c.  Filum Foraminifera

    Semua anggota Foraminifera hidup di laut. Foraminifera memiliki cangkang berpori yang tersusun dari silika dan zat kapur (kalsium karbonat). Pseudopodia keluar memanjang melalui pori pori tersebut. Di antara Foraminifera yang terkenal adalah Polistomella dan Globigerina. Cangkang Foraminifera digunakan untuk menunjukkan sumber minyak. Selain itu, Foraminifera juga digunakan untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan sedimen laut. Hal ini dikarenakan cangkang Foraminifera ditemukan di semua lapisan batuan. Rangka Foraminifera yang telah mati akan mengendap di dasar laut dan dalam waktu yang lama akan hancur menjadi tanah globigerina.



d. Filum Zooflagellata (Zoomastigophora)

     Zooflagellata memiliki ciri utama berupa adanya satu atau beberapa filamen panjang (flagela) yang terdapat di bagian depan sel (anterior) atau di bagian belakang sel (posterior) yang berfungsi sebagai alat gerak. Zooflagellata berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan biner membujur.

    Anggota Zooflagellata ada yang hidup bebas di lingkungan berair (baik air tawar maupun air laut), hidup bersimbiosis, atau parašit dalam tubuh hewan. Contoh Zooflagellata yang hidup bersimbiosis yaitu Trichonympha dan Myxotricha yang hidup di dalam usus rayap. Spesies ini menghasilkan enzim selulase yang berguna untuk mencerna selulosa dalam kayu yang dimakan rayap. Adapun contoh Zooflagellata yang bersifat parasit dan dapat mengakibatkan penyakit dapat dilihat dalam tabel berikut.

No.
Nama Spesies
Keterangan
1.
Trypanosoma gambiense dan T. Rhodosiensi
Mengakibatkan penyakit tidur pada manusia dan hospes intermediatnya adalah lalat tse-tse (Glossina palpalis).
2.
Trypanosoma evansi
Penyebab penyakit sura pada hewan ternak dan hospes intermediatnya adalah lalat tabanus.
3.
Trypanosoma cruzi
Hidup dalam darah manusia dan mengakibatkan anemia.
4.
Leishmania donovani
Penyebab penyakit kala-azar.
5.
Leishmania tropica
Penyebab penyakit kulit.
6.
Trichomonas vaginalis
Parasit pada alat kelamin wanita yang mengakibatkan peradangan vagina. Peradangan ini ditandai oleh keluarnya cairan dari vagina disertai rasa gatal pada alat kelamin.


e. Filum Ciliata (Ciliophora)

    Salah satu ciri utama kelompok Ciliata yaitu bergerak menggunakan rambut getar (silia). Silia terdapat di seluruh permukaan sel atau hanya pada bagian tertentu saja. Selain untuk bergerak, silia juga berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam sitostoma (mulut sel). Makanan yang telah berada di sitostoma akan masuk ke sitofaring (kerongkongan sel). Selanjutnya, ujung sitofaring akan membentuk vakuola makanan. Di vakuola makanan inilah terjadi pencernaan makanan dan hasilnya akan berdifusi ke sitoplasma. Di dalam sel Ciliata terdapat dua inti yaitu makronukleus dan mikronukleus. Makronukleus berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Mikronukleus berperan dalam reproduksi yaitu pada peristiwa konjugasi.

    Ciliata hidup bebas di lingkungan berair baik air tawar maupun air laut. Ciliata juga hidup di dalam tubuh organisme lain baik secara simbiosis mutualisme maupun parasitisme. Ciliata berkembang biak secara seksual dengan cara konjugasi dan aseksual dengan cara pembelahan biner secara membujur. Contoh anggota Ciliata seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut.

No.
Nama Spesies
Keterangan
1.
Vorticella
Mempunyai bentuk seperti lonceng, tangkai memanjang yang melekat pada dasar dengan silia di sekeliling mulutnya.
2.
Didinium
Hidup di perairan dan menjadi predator Paramecium.
3.
Stentor
Banyak hidup di sawah atau air menggenang yang mengandung banyak bahan organik. Organisme ini berbentuk terompet dengan bagian mulut dikelilingi silia dan bagian tangkainya melekat pada dasar.
4.
Nyctoterus ovalis
Merupakan organisme bersel satu yang hidup di dalam usus kecoak. Organisme ini berbentuk oval dan dapat bergerak karena pada permukaan tubuhnya terdapat silia. Bentuk organisme ini mirip Paramecium.
5.
Paramecium caudatum
Berbentuk seperti sandal. Silia Paramecium caudatum terdapat di seluruh permukaan tubuhnya.
6.
Balantidium coli
Sebagai parasit dalam tubuh manusia dan hewan ternak, hidup dalam usus besar dan dapat mengakibatkan diare.



f.  Filum Sporozoa (Apicomplexa)

    Sporozoa merupakan kelompok Protista uniseluler yang mampu bereproduksi dengan membentuk spora. Sporozoa tidak memiliki alat gerak. Seluruh jenis protozoa hidup secara parasit dalam tubuh organisme lain yaitu hewan dan manusia. Reproduksinya berlangsung secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembelahan biner. Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet dan dilanjutkan dengan penyatuan gamet jantan dan betina. Contoh Sporozoa adalah Plasmodium sp. Jenis Sporozoa ini dapat mengakibatkan penyakit malaria melalui vektor nyamuk Anopheles betina. Plasmodium terdiri atas empat spesies berikut.

1) Plasmodium vivax mengakibatkan penyakit malaria tertiana, masa sporulasinya setiap 2 x 24 jam.

2) Plasmodium malariae mengakibatkan penyakit malaria kuartana, masa sporulasinya setiap 3 x 24 jam.

3) Plasmodium ovale mengakibatkan penyakit malaria dengan gejala mirip malaria tertiana, masa sporulasinya setiap 48 jam.

4) Plasmodium falciparum mengakibatkan penyakit malaria tropika, masa sporulasinya antara 1-3 x 24 jam.


    Plasmodium bereproduksi secara metagenesis atau mengalami pergiliran keturunan. Proses metagenesis ini terbagi dalam dua fase berikut.

1) Fase generatif (sporogoni) yang terjadi dalam tubuh nyamuk.

    Setelah nyamuk mengisap darah manusia yang menderita malaria, mikrogametosit berkembang menjadi mikrogamet (gamet jantan) dan makrogametosit berkembang menjadi makrogamet (gamet betina). Selanjutnya, terjadi fertilisasi antara mikrogamet dan makrogamet di dalam usus nyamuk. Fertilisasi tersebut menghasilkan zigot diploid (ookinet). Ookinet kemudian masuk ke dalam dinding usus nyamuk membentuk kista. Dalam kista tersebut, zigot berkembang menjadi sporozoit. Sporozoit kemudian menuju ke kelenjar ludah nyamuk.

2) Fase vegetatif (schizogoni/membelah diri) yang terjadi dalam tubuh manusia.

    Sporozoit berpindah ke tubuh manusia melalui ludah nyamuk Anopheles betina saat nyamuk itu menggigit. Sporozoit kemudian masuk ke dalam sel-sel hati dan berkembang menjadi merozoit. Merozoit ini dapat menyerang sel-sel darah merah sehingga sel-sel tersebut pecah. Dalam keadaan ini, penderita malaria mengalami demam. Merozoit kemudian berkembang menjadi gametosit (mikrogametosit dan makrogametosit)


Siklus hidup Plasmodium dapat diamati pada gambar berikut.



    Toxoplasma gondii juga termasuk Protozoa. Toxoplasma gondii mengakibatkan toxoplasmosis. Toxoplasma gondii masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan. Infeksi Toxoplasma terutama membahayakan ibu yang sedang hamil. Bayi yang dikandung ibu yang terinfeksi Toxoplasma bisa meninggal sebelum lahir atau dilahirkan dalam keadaan cacat.

    Anggota Protozoa sangat beranekaragam seperti yang telah Anda pelajari. Protozoa hidup di berbagai tempat yang biasanya terdapat banyak bahan organik. Anda dapat membuat media kultur Protozoa misalnya Paramecium. Media kultur Paramecium biasanya menggunakan air rendaman jerami yang telah membusuk. Selain air rendaman jerami, media kultur apa lagi yang dapat digunakan? Coba lakukan kegiatan berikut untuk mengetahuinya.






Post a Comment

0 Comments