Biologi X - Semester 1 - Protista - Ciri-Ciri dan Klasifikasi Protista Menyerupai Tumbuhan (Algae) serta Peranannya bagi Kehidupan

Biologi X - Semester 1 - Protista - Ciri-Ciri dan Klasifikasi Protista Menyerupai Tumbuhan (Algae) serta Peranannya bagi Kehidupan

BIOLOGI SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 5
Protista


Pendalam Materi


C. Ciri-Ciri dan Klasifikasi Protista Menyerupai Tumbuhan (Algae) serta Peranannya bagi Kehidupan

    Beberapa jenis Protista dikelompokkan ke dalam kelompok Protista mirip tumbuhan (Algae), misalnya rumput laut. Tentu saja, pengelompokan ini berdasarkan persamaan ciri yang dimiliki antara Algae dengan tumbuhan sesungguhnya. Apakah ciri yang dimaksud? Nah, untuk mengawali pemahaman Anda lakukan terlebih dahulu kegiatan berikut.


1. Ciri-Ciri Algae

a. Ukuran dan Bentuk Tubuh

    Ganggang (Algae) memiliki ukuran beranekaragam dari yang tidak dapat dilihat (mikroskopik) sampai yang dapat dilihat menggunakan mata telanjang (makroskopik). Algae ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler. Algae uniseluler ada yang hidup secara soliter dan ada yang hidup berkoloni. Beberapa jenis Algae uniseluler memiliki bulu cambuk (flagela) untuk membantu bergerak. Algae multiseluler biasanya berbentuk lembaran atau benang. Struktur tubuh Algae yang berbentuk lembaran sangat sederhana karena tidak dapat dibedakan antara akar, batang, dan daun. Struktur yang demikian disebut talus. Oleh karena itu, Algae dikelompokkan ke dalam Tallophyta.

b. Struktur dan Fungsi Tubuh

    Sel-sel yang menyusun Algae baik yang uniseluler maupun multiseluler berupa sel eukariotik. Sel Algae dilapisi oleh dinding sel dan di dalamnya terdapat kloroplas yaitu organel plastida yang mengandung zat warna (pigmen). Pigmen dalam kloroplas berfungsi untuk menyerap energi cahaya matahari yang akan digunakan untuk melangsungkan fotosintesis. Jenis pigmen yang dominan menentukan warna Algae dan menjadi dasar klasifikasi Algae.

c. Reproduksi

    Algae bereproduksi baik secara aseksual mapun seksual. Reproduksi secara aseksual berlangsung dengan pembelahan sel (pembelahan biner), fragmentasi, dan pembentukan spora. Pembelahan sel menghasilkan dua sel anak yang masing-masing akan menjadi individu baru. Pembelahan sel terjadi pada Algae uniseluler. Fragmentasi terjadi pada Algae multiseluler. Pada fragmentasi, filamen atau talus yang putus dapat tumbuh menjadi Algae baru. Pembentukan spora dapat terjadi baik pada Algae uniseluler maupun multiseluler. Spora tersebut akan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi seksual melibatkan peleburan dua gamet yang berbeda jenis untuk membentuk zigot dan tumbuh menjadi individu baru. Pada beberapa jenis Algae terutama yang berbentuk talus, dalam daur hidupnya terjadi metagenesis (pergiliran keturunan) yaitu antara generasi penghasil spora dan generasi penghasil gamet.

d. Habitat dan Cara Hidup

    Alga memiliki kloroplas sehingga mampu melangsungkan proses fotosintesis. Dengan bantuan energi cahaya matahari, Algae dapat mensintesis makanannya sendiri dari bahan-bahan anorganik. Oleh karena itu, Algae termasuk organisme fotoautotrof. Algae hidup bebas di perairan misalnya kolam, danau, sungai, rawa, dan laut. Di perairan Algae menyusun fitoplankton yang berperan sebagai produsen.


2. Klasifikasi dan Peranan Algae

    Berdasarkan dominasi pigmennya, Algae dapat dikelompokkan menjadi tujuh filum yaitu Euglenophyta, Pyrrophyta, Bacillariophyta, Chrysophyta, Phaeophyta, Rhodophyta, dan Chlorophyta.

a. Filum Euglenophyta

    Euglenophyta merupakan organisme uniseluler yang hidup di perairan tawar, misalnya di kolam atau danau. Euglenophyta dapat bergerak bebas menggunakan flagela. Euglenophyta memiliki bintik mata berbentuk piringan berisi fotoreseptor yang ditutupi oleh lapisan pigmen merah (fikobilin). Adanya lapisan pigmen merah ini mengakibatkan Euglenophyta dapat mendeteksi dan bergerak menuju cahaya.



    Euglenophyta memperlihatkan sifat seperti tumbuhan karena mempunyai klorofil a dan klorofil b sehingga dapat melangsungkan fotosintesis. Dari proses fotosintesis tersebut dihasilkan bahan organik yang akan disimpan dalam bentuk makanan cadangan paramilon (sejenis pati). Paramilon disimpan dalam pirenoid. Selain itu, Euglenophyta juga memiliki pigmen karotenoid dan xantofil. Euglenophyta juga memperlihatkan sifat seperti hewan karena tidak memiliki dinding sel. Sel Euglenophyta dibungkus oleh pelikel (suatu protein) sehingga bersifat lentur dan memungkinkan terjadinya perubahan bentuk sel. Contoh Euglenophyta adalah Euglena sp.

b. Filum Pyrrophyta (Alga Api)

    Algae api umumnya merupakan organisme uniseluler yang bersifat fotosintetik. Jenis Algae ini disebut Algae api karena beberapa spesies mampu berpendar (fluoresen) sehingga laut tampak bercahaya pada malam hari, misalnya Noctiluca. Selain itu, beberapa spesies dapat mengakibatkan air laut berwarna kemerahan misalnya Gymnodinium dan Gonyaulax. Algae api memiliki dinding sel dengan lempeng-lempeng selulosa. Algae api disebut juga Dinoflagellata karena sebagian besar anggotanya memiliki dua flagela yang terletak di samping atau di ujung selnya. Algae api memiliki warna yang beranekaragam, antara lain kuning kehijauan, cokelat, dan merah tergantung pigmen dominannya. Secara umum pigmen pada ganggang api yaitu klorofil a dan c, xantofil, dan karotenoid. Algae api bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan biner.

с. Filum Bacillariophyta (Diatom)

    Diatom merupakan organisme uniseluler dan memiliki dinding sel yang unik. Dinding selnya terdiri atas silika hidrat yang terdiri atas dua bagian yaitu wadah (kotak) disebut hipoteka dan tutup disebut epiteka. Kloroplasnya mempunyai bentuk yang bervariasi yaitu seperti cakram, seperti huruf H, dan pipih. Bacillariophyta memiliki pigmen fotosintesis berupa klorofil a dan klorofil b, karotenoid, serta xantofil. Reproduksinya berlangsung secara aseksual dengan membentuk sel anakan dari kotak dan tutup yang membelah menjadi dua. Salah satu spesies Bacillariophyta adalah Navicula yang dapat dimanfaatkan sebagai campuran semen, dinamit, dan bahan penggosok.



d. Filum Chrysophyta (Alga Keemasan)

    Chrysophyta diambil dari bahasa Yunani yaitu chrysos yang berarti emas. Warna emas ini dihasilkan oleh pigmen karotenoid dan xantofil. Selain itu, Algae ini juga memiliki pigmen klorofil a dan klorofil c. Sebagian besar Alga keemasan adalah uniseluler (misalnya Ochromonas), akan tetapi ada juga yang membentuk koloni seperti genus air tawar Dinobryon. Habitatnya di air tawar dan air laut. Reproduksi aseksual dengan cara pembelahan biner pada ganggang uniseluler dan pembentukan spora pada ganggang uniseluler dan multiseluler. Reproduksi seksualnya melalui penyatuan dua jenis gamet.

e. Filum Phaeophyta (Alga Coklat)

    Filum Phaeophyta merupakan kelompok yang talusnya paling besar dan paling kompleks. Seluruh anggota Phaeophyta merupakan organisme multiseluler dan sebagian besar hidup di laut. Warna ganggang cokelat disebabkan oleh pigmen cokelat (fukosantin) yang secara dominan menyelubungi warna hijau dari klorofil. Selain fukosantin, Algae cokelat juga memiliki pigmen klorofil a dan klorofil c serta karotenoid. Reproduksi pada ganggang cokelat terjadi secara seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual dengan pembentukan zoospora berflagela dan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual dengan cara peleburan sel kelamin. Ganggang cokelat mengalami pergiliran keturunan antara generasi gametofit dan generasi sporofit.

    Ganggang cokelat banyak dimanfaatkan dalam industri makanan maupun farmasi. Beberapa jenis Alga coklat misalnya Laminaria dan Macrocystis menghasilkan algin (asam alginat). Asam alginat merupakan bagian koloid dari ganggang cokelat yang digunakan dalam pembuatan es krim, pil, tablet, salep, obat pembersih gigi, losion, dan krim sehabis mencukur. Selain itu, Laminaria juga dimanfaatkan sebagai pupuk dan makanan ternak karena kandungan nitrogen dan kaliumnya yang tinggi.



f.  Filum Rhodophyta (Algae Merah)

    Sebagian besar Algae merah bersifat multiseluler dan talusnya berbentuk seperti rumput. Pada umumnya Algae merah berwarna kemerahan karena adanya pigmen asesoris yang disebut fikoeritrin. Pigmen asesoris tersebut termasuk ke dalam keluarga pigmen fikobilin. Algae merah juga memiliki klorofil a, klorofil d, karoten, dan fikosianin. Algae merah hidup di laut yang dalam dan bersuhu hangat. Reproduksi Algae merah berlangsung secara aseksual dengan pembentukan spora dan secara seksual dengan peleburan sel kelamin (oogami). Dalam siklus hidupnya, Algae merah mengalami metagenesis antara generasi gametofit dan sporofit. Beberapa jenis Algae merah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat agar-agar, misalnya Eucheuma spinosum dan Gelidium robustum. Ada juga anggota Algae merah yang dikonsumsi sebagai makanan misalnya Gracillaria verrucosa dan Chondrus crispus. Jenis Algae merah yang lain adalah Palmaria palmata dan Corallina mediterranea.



g. Chlorophyta (Alga Hijau)

    Chlorophyta dapat ditemukan di berbagai habitat, baik di air laut, air tawar, maupun tempat yang lembap. Algae ini berwarna hijau karena adanya klorofil a dan klorofil b. Selain klorofil, Algae hijau juga memiliki pigmen karotenoid. Algae hijau ada yang uniseluler dan multiseluler. Beberapa jenis Algae hijau uniseluler memiliki alat gerak berupa flagela. Setiap selnya dilapisi oleh dinding sel yang tersusun dari selulosa. Algae hijau berkembang biak secara aseksual dengan membelah diri, pembentukan spora, dan fragmentasi. Adapun perkembangbiakan seksualnya berlangsung dengan cara konjugasi. Beberapa jenis Algae hijau sebagai berikut.


1) Spirogyra

    Spirogyra hidup di air tawar. Algae ini mudah dikenal karena kloroplasnya besar dan menyerupai pita yang melingkar-lingkar seperti spiral. Spirogyra berkembang biak secara aseksual dengan fragmentasi dan secara seksual dengan konjugasi.

2) Ulva

    Koloni Ulva membentuk seperti lembaran daun. Ulva memiliki kloroplas yang bentuknya seperti mangkuk. Ulva ditemukan pada air asin, air payau, dan menempel pada kayu-kayu atau batu-batu karang sepanjang pantai. Reproduksi aseksualnya berlangsung dengan cara pembentukan spora dan reproduksi seksualnya berlangsung dengan penyatuan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Selama daur hidupnya Ulva mengalami pergiliran keturunan (metagenesis).

3) Chlorella

    Chlorella hidup di air laut, air tawar, maupun di tempat-tempat basah. Bentuknya seperti bola dan kloroplasnya berbentuk seperti mangkuk. Chlorella merupakan organisme uniseluler yang tidak memiliki alat gerak. Chlorella banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan, kosmetik, dan bahan makanan karena mengandung protein yang tinggi.

4) Volvox

    Volvox merupakan organisme bersel satu yang dapat bergerak karena memiliki flagela. Volvox berbentuk seperti bola dan banyak ditemukan di air tawar. Perkembangbiakan seksualnya dengan cara konjugasi dan perkembangbiakan aseksualnya dengan cara fragmentasi.

5) Chlamydomonas

    Chlamydomonas merupakan Algae uniseluler yang memiliki dua flagela. Kloroplasnya berbentuk mangkuk. Perkembangbiakan seksualnya berlangsung dengan cara konjugasi dan perkembangbiakan aseksualnya berlangsung dengan cara membentuk zoospora.

6) Hydrodictyon

    Hydrodictyon tidak memiliki alat gerak dan hidup berkoloni. Koloni Hydrodictyon berbentuk seperti jala dan banyak ditemukan di air tawar. Reproduksi seksualnya dengan cara konjugasi. Reproduksi aseksualnya dengan cara fragmentasi dan membentuk zoospora.

7) Chara

    Chara merupakan organisme yang menyerupai batang beruas-luas dan bercabang-cabang. Chara mempunyai kloroplas berbentuk cakram. Hidupnya di air tawar. Pada ruas-ruas tubuh Chara terdapat nukula dan globula. Nakula mengandung arkegonium penghasil ovum. Globula mengandung anteridium penghasil spermatozoid. Pembuahan ovum oleh spermatozoid menghasilkan zigospora yang akan berkembang menjadi individu baru. Reproduksi aseksual Chara dilakukan dengan cara fragmentasi.

8) Chlorococcum

    Mikroorganisme ini bersifat uniseluler, tidak memiliki alat gerak, dan selnya berbentuk bulat telur. Kloroplasnya berbentuk seperti mangkuk. Reproduksi aseksualnya dengan cara membentuk zoospora. Reproduksi seksualnya dengan cara konjugasi.




    Berdasarkan uraian di atas, Anda telah mengetahui ciri-ciri setiap filum Algae. Ciri-ciri yang membedakan ketujuh filum dalam Algae dapat disimak dalam tabel berikut.

Filum
Perkiraan Jumlah Spesies
Tipe Sel
Warna Utama (pigmen fotosintesis)
Makanan cadangan karbohidrat
Jumlah dan porsi flagela
Komponen dinding sel
Habitat
Euglenophyta
800
Uniseluler
Hijau (klorofil a dan b, karotenoid, xantofil)
Paramilon
1-3 di apikal (atas)
Tidak berdinding sel; terdapat protein submembran
Terbanyak di air tawar
Pyrrophyta
1.100
Uniseluler
Cokelat (klorofil a dan c, karotenoid, xantofil)
Amilum
1 di lateral (samping), 1 di posterior
Berupa lempeng-lempeng selulosa
Air tawar dan air laut
Bacillariophyta
10.000
Uniseluler
Cokelat pudar (klorofil a dan c, karotenoid, xantofil)
Laminarin
1 hanya pada sperma
Silikat hidrat dalam matriks organik
Air tawar dan air laut
Chrysophyta
850
Uniseluler dan multiseluler
Cokelat keemasan (klorofil a dan c, karotenoid, xantofil)
Laminarin
1 atau 2 di apikal (atas)
Komponen pektin dengan material silika
Terbanyak di air tawar
Phaeophyta
1.500
Multiseluler
Cokelat pudar (klorofil a dan c, karotenoid, fukosantin)
Laminarin
2 di lateral hanya pada sperma
Matriks selulosa dengan polisakarida lain
Hampir semua di air laut (subur di air laut yang dingin)
Rhodophyta
4.000
multiseluler
Merah hingga hitam (klorofil a, karotenoid, fikobilin, beberapa klorofil d)
Zat tepung florid
Tidak ada
Matriks selulosa dengan polisakarida lain
Terbanyak di air laut dan beberapa di antaranya di air tawar
Chlorophyta
7.000
Uniseluler dan multiseluler
Hijau (klorofil a dan b, karotenoid)
Amilum
2 atau lebih di apikal atau subapikal
Selulosa
Terbanyak di air tawar, tetapi beberapa di antaranya di air laut.



Post a Comment

0 Comments