Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Manusia dan Sejarah - Berpikir dengan Perspektif Sejarah

Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Manusia dan Sejarah - Berpikir dengan Perspektif Sejarah

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 1
Manusia dan Sejarah


Pendalam Materi


C. Berpikir dengan Perspektif Sejarah


    Apakah Anda pernah berbeda pendapat dengan teman sekelas mengenai peristiwa yang sama? Perdebatan pendapat merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Perdebatan biasanya disebabkan oleh perbedaan pendapat mengenai cara memandang suatu masalah. Cara pandang itulah yang dimaksud dengan perspektif.

    Ketika Anda melihat sebuah benda berbentuk tabung, akan ada dua kemungkinan kesimpulan. Pertama, ketika Anda melihat tabung tersebut dari sisi atas hanya bentuk lingkaran yang tampak. Kedua, ketika Anda melihat tabung tersebut dari samping bangun yang tampak adalah sisi terpanjang tabung. Tabung seperti kehidupan sehari-hari. Manusia memiliki cara pandang atau perspektif berbeda ketika melihatnya.

    Berpikir dengan perspektif sejarah artinya upaya memaknai kehidupan manusia melalui perspektif sejarah. Dengan kata lain, perspektif sejarah digunakan untuk memahami proses kehidupan manusia. Apa saja perspektif yang digunakan dalam kajian sejarah? Perhatikan uraian berikut!

1. Konsep Kronologis

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) kronologi berarti urutan waktu dari sejumlah peristiwa atau kejadian. Dalam kisah sejarah peristiwa harus disusun berdasarkan urutan waktu kejadiannya. Oleh karena itu, sejarawan yang sedang menulis kisah sejarah harus memastikan bahwa peristiwa yang dijabarkan benar-benar runtut. Urutan-urutan peristiwa yang dituliskan tidak boleh melompat-lompat. Apabila ada urutan peristiwa yang melompat menyalahi aturan waktu, tulisan tersebut menjadi anakronis.

    Anakronisme sejarah adalah penempatan tokoh, peristiwa, dan objek sejarah yang tidak sesuai dengan urutan waktu. Sejarah yang disusun dengan menyalahi urutan waktu dapat mengaburkan hubungan sebab akibat. Selain itu, anakronisme menjadikan sejarawan kesulitan membandingkan peristiwa sejarah di tempat lain dalam waktu yang sama. Coba ingat peristiwa yang Anda alami selama seminggu terakhir. Selanjutnya, susunlah peristiwa tersebut berdasarkan urutan waktu. Apabila Anda mampu menyusun peristiwa yang Anda alami selama seminggu berdasarkan urutan waktu yang tepat, berarti Anda telah menerapkan konsep kronologis.

    Penyusunan kisah secara kronologis dapat Anda amati pada susunan kronologi persiapan kemerdekaan Indonesia berikut.

2. Konsep Diakronik

    Istilah diakronik berasal dari bahasa Yunani terdiri atas dua kata, yaitu "dia" yang berarti "melintas─▒" dan "kronos" yang berarti perjalanan waktu. Sesuai konsep diakronik setiap peristiwa berkembang berdasarkan perjalanan waktu. Peristiwa tidak hadir sebagai peristiwa tunggal. Sebaliknya, sebuah peristiwa pasti mempunyai hubungan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Konsep diakronik melihat bahwa peristiwa dalam sejarah mengalami perkembangan dan bergerak sepanjang masa. Diakronik pemerintahan di Indonesia. Cara berpikir diakronik akan menghasilkan pemahaman bahwa pemerintahan lebih mengutamakan memanjangnya dimensi waktu, dengan sedikit keluasan ruang.

    Contoh cara berpikir diakronik dalam sejarah adalah ketika Anda mengamati perkembangan di Indonesia mengalami perkembangan berdasarkan perjalanan waktu dari pemerintahan Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, hingga reformasi. Pergantian pemerintahan tersebut mengalami perkembangan dan kesinambungan apabila dilihat dalam rentang perjalanan waktu.

3. Konsep Sinkronik

    Sifat ilmu sejarah adalah diakronik, yang berarti melihat perkembangan aktivitas manusia berdasarkan waktu. Sejarah mencatat proses-proses tersebut berjalan berdasarkan waktu. Akan tetapi, ruang lingkup sejarah bersifat sempit atau terbatas. Lantas, bagaimana penerapan konsep sinkronik dalam sejarah?

    Menurut Kuntowijoyo, sejarah akan menjadi ilmu yang bersifat sinkronik ketika sejarah bersentuhan dengan ilmu sosial lain seperti sosiologi, antropologi, politik, dan ekonomi. Ketika sejarah ditulis dengan pendekatan ilmu sosial, sejarah bukan hanya memanjang dalam waktu, melainkan juga melebar dalam ruang. Oleh karena itu, dengan cara ditulis menggunakan pendekatan ilmu sosial, sejarah dapat bersifat diakronik dan sinkronik.

    Konsep diakronik dan sinkronik menyebabkan karya sejarah menjadi lebih kaya. Dalam penulisan sejarah politik misalnya, sejarah politik biasanya hanya merekonstruksi perkembangan partai-partai politik. Akan tetapi, dengan pendekatan ilmu sosial sejarah dapat berbicara tentang hubungan partai politik dengan sistem status dan kelas. Sistem status dan kelas tersebut merupakan konsep yang dipinjam dari ilmu sosiologi.

4. Konsep Kausalitas (Sebab Akibat)

    Setiap peristiwa memiliki latar belakang yang menjadi pemicunya. Sejarawan Suhartono dalam buku Teori dan Metodologi Sejarah menyatakan bahwa dalam peristiwa sejarah terdapat sebab umum (general cause) dan sebab khusus (direct cause). Sebab khusus ini sering disebut sebagai pemicu (trigger).

    Konsep kausalitas dapat digunakan untuk menganalisis peristiwa lengsernya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan. Lengsernya presiden yang menjabat selama 32 tahun tersebut diawali situasi krisis ekonomi yang mengakibatkan kesulitan hidup masyarakat Indonesia. Krisis ekonomi pun berkembang menjadi krisis multidimensi. Kondisi ini mendorong para mahasiswa melancarkan serangkaian aksi demonstrasi. Puncaknya, mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Oleh karena sudah tidak lagi mampu mengendalikan keadaan, Soeharto memutuskan mundur dari kursi kepresidenan.

    Dari peristiwa tersebut dapat disimpulkan latar belakang pengunduran diri Soeharto. Kondisi krisis dan tuntutan mahasiswa merupakan aspek penyebab. Sementara itu, pengunduran diri Presiden Soeharto menjadi akibat dari kedua situasi sebelumnya. Kondisi krisis berkedudukan sebagai sebab umum (general cause), sedangkan demonstrasi mahasiswa merupakan sebab khusus.

    Dalam buku Teori dan Metodologi Sejarah, Suhartono memperinci dua jenis sebab yang harus ditelusuri. Sebab-sebab tersebut sebagai berikut

a. Multikausal atau kemajemukan sebab. Multikausal menunjukkan sebab tidak hanya tunggal, tetapi terdiri atas banyak sebab.

b. Seleksi kausal. Seleksi kausal artinya dari sekian banyak sebab yang ada harus diseleksi menurut hierarki tertinggi berupa sebab utama (ultimate cause) atau prima kausa dari sekian banyak sebab.

5. Konsep Periodisasi

    Periodisasi adalah pembabakan waktu yang diterapkan dalam kajian sejarah. Pembabakan waktu diterapkan untuk membatasi kajian sejarah. Sejarah membatasi kajiannya pada kurun waktu tertentu. Dengan pembatasan tersebut, peristiwa sejarah dapat menunjukkan pola tertentu. Pembabakan waktu diterapkan untuk menunjukkan bahwa suatu kurun waktu memiliki corak yang khas.

    Pembabakan dalam sejarah digunakan untuk mengetahui corak atau jiwa zaman (zeitgeist) yang menyertai zaman tersebut. Selain itu, pembabakan waktu mempermudah pembaca untuk mengetahui jalannya peristiwa secara kronologis. Apabila semua peristiwa tidak dibuat pembabakan, rentang waktu sejarah yang diceritakan akan sangat panjang. Contoh periodisasi waktu dapat ditemui dalam buku buku sejarah. Salah satu contoh periodisasi ditulis oleh M.C. Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 sebagai berikut.

    Dengan periodisasi, kisah sejarah yang sangat panjang dapat dikelompokkan menjadi beberapa babakan waktu. Pembabakan tersebut untuk memudahkan pembaca memahami keseluruhan alur kisah sejarah. Pembabakan waktu juga menunjukkan karakteristik setiap zaman. Lantas, bagaimana cara menyusun periodisasi?

    Penyusunan periodisasi didasarkan pada jenis sejarah yang akan ditulis. Periodisasi dapat didasarkan pada perkembangan politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Sebagai contoh, periodisasi berdasarkan politik dalam sejarah Indonesia biasanya ditulis sebagai berikut.

    Pembabakan waktu merupakan produk pemikiran sejarawan. Pembuatan periodisasi didasarkan pada perbandingan satu periode dengan periode sebelum dan sesudahnya. Sejarawan menilai perubahan penting pada periode-periode tersebut.

    Cara berpikir sejarah dapat dikembangkan dengan membangun kesadaran tentang waktu. Sejarah adalah ilmu yang senantiasa menempatkan peristiwa dalam konteks waktu. Setidaknya ada tiga aspek penting yang harus diperhatikan dalam membangun cara berpikir sejarah. Pertama, setiap peristiwa harus ditempatkan pada susunan yang kronologis. Kedua, setiap peristiwa selalu mempunyai hubungan kausalitas dengan peristiwa lainnya. Ketiga, setiap zaman memiliki karakteristik yang berbeda dengan zaman lainnya. Ketiga aspek tersebut menjadi landasan utama dalam cara berpikir sejarah.




Post a Comment

0 Comments