Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara - Kehidupan Manusia Purba

Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara - Kehidupan Manusia Purba

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 2
Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara


Pendalam Materi



B. Kehidupan Manusia Purba


    Manusia purba memiliki ciri-ciri fisik berbeda dengan manusia pada masa kini. Coba amati gambar di samping Gambar di samping merupakan salah satu fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia. Apa yang membedakan manusia purba dan manusia pada masa kini? Coba diskusikan dengan teman Anda.

    Indonesia merupakan salah satu tempat penemuan manusia purba. Beberapa lokasi penemuan situs purbakala tersebar di seluruh Indonesia, salah satunya situs Sangiran. Situs Sangiran merupakan situs penting dalam mengkaji kehidupan manusia pada masa praaksara. Selain Sangiran, di mana saja lokasi situs penemuan fosil manusia purba? Apa jenis manusia purba yang ditemukan di situs tersebut?
Mari temukan jawabannya dalam uraian berikut.

1. Lokasi Penemuan Manusia Purba

    Wilayah Indonesia diperkirakan menjadi tempat hunian manusia purba. Beberapa daerah di Indonesia yang menjadi tempat hunian manusia purba antara lain Sangiran, Trinil, Wajak, dan Flores. Tempat tempat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Sangiran

    Secara geografis, Sangiran terletak di kaki Gunung Lawu sekira 15 km dari lembah Sungai Bengawan Solo. Karakteristik wilayah Sangiran berbentuk menyerupai kubah raksasa dengan cekungan besar di pusat kubah akibat erosi di bagian puncaknya. Kubah raksasa tersebut diwarnai dengan perbukitan bergelombang. Kondisi deformasi geologis tersebut menyebabkan tersingkapnya berbagai lapisan batuan yang mengandung fosil-fosil manusia purba dan binatang, termasuk artefak. Oleh karena itu, Sangiran menjadi salah satu pusat kajian tentang keberadaan manusia sejak 150.000 tahun yang lalu.

    Penelitian purbakala di Sangiran diawali oleh P.E.C. Schemulling pada 1864. Schemulling meneliti beberapa penemuan fosil vertebrata di sekitar Sangiran. Selanjutnya, pada 1895 Eugene Dubois mendatangi tempat ini. Pada 1932 seorang ahli geografi, L.J.C. van Es membuat peta geologi di kawasan Sangiran dengan skala 1:20.000. Peta ini kemudian dimanfaatkan von Koenigswald untuk melakukan survei eksploratif wilayah Sangiran. Berbekal peta tersebut, Koenigswald menemukan sekira seribu alat yang terbuat dari batuan kalsedon. Di sela-sela survei tersebut, pada 1936 seorang penduduk menyerahkan sebuah fosil rahang kanan manusia purba kepada Koenigswald. Inilah temuan pertama fosil manusia purba yang diberi kode S (Sangiran 1).

b. Trinil

    Trinil terletak di tepi Sungai Bengawan Solo. Secara administratif, Trinil berada di Desa Kawy, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Trinil menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya masa pleistosen tengah atau sekira 1 juta tahun lalu. Penelitian manusia purba di Trinil dilakukan pertama kali oleh Eugene Dubois.

    Penelitian Eugene Dubois diawali dengan penggalian pada endapan aluvial Sungai Bengawan Solo. Dari penggalian di lapisan tersebut ditemukan tulang rahang. Dalam penggalian berikutnya, Eugene Dubois berhasil menemukan gigi geraham, bagian atas tengkorak, dan tulang paha kiri. Selanjutnya, Eugene Dubois melakukan rekonstruksi terhadap hasil temuannya tersebut. Eugene Dubois memberi nama penemuannya Pithecanthropus erectus atau Homo erectus.

    Penemuan manusia purba jenis Homo erectus oleh Eugene Dubois mendorong beberapa peneliti lain. Pada 1907-1908 Lenore Selenka melakukan penelitian dan penggalian di Desa Trinil. Dalam penelitiannya ini, Lenore Selenka tidak berhasil menemukan fosil manusia. Akan tetapi, ia berhasil menemukan fosil-fosil hewan dan tumbuhan yang dapat memberikan dukungan untuk menggambarkan lingkungan hidup Homo erectus.

c. Wajak

    Tahukah Anda, di mana letak situs Wajak? Bukalah peta Provinsi Jawa Timur dan temukan letak daerah Wajak. Situs purbakala Wajak terletak di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Situs ini memiliki topografi berupa perbukitan kapur. Nama Wajak mulai mengemuka pada 1889 saat B.D. Reitschoten menemukan sebuah fosil tengkorak di daerah ini. Fosil tersebut kemudian diserahkan kepada C.P. Sluiter, kurator dari Koninklijke Natuurkundige Vereeniging (Perkumpulan Ahli Ilmu Alam) di Batavia pada saat itu. Sluiter kemudian menyerahkan fosil tengkorak Wajak kepada Eugene Dubois.

    Bagi Eugene Dubois, fosil temuan Rietschoten membuka harapan baru untuk menemukan missing link asal-usul manusia. Ini sesuai teori ahli geologi Verbeek yang sepakat bahwa pegunungan batu gamping tersier di Jawa sangat menjanjikan bagi riset Dubois. Ia menyusuri kembali tempat Rietschoten menemukan fosil tengkorak manusia, yaitu di cekungan bebatuan sekitar Wajak. Di sekitar tempat itu Dubois menemukan sisa fosil reptil dan mamalia serta menemukan fosil tengkorak manusia meskipun tidak seutuh temuan Rietschoten. Fosil temuannya dinamakan Homo wajakensis.

d. Flores

    Flores merupakan situs purbakala yang tergolong masih baru. Penelitian kehidupan purba di Flores baru dimulai pada 2003. Penelitian tersebut dilakukan oleh beberapa ilmuwan dari Indonesia dan Australia. Tim Indonesia dipimpin oleh Raden Pandji Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan tim Australia dipimpin oleh Mike Morwood dari Universitas New England. Pada penggalian di gua Liang Bua, Flores, para ilmuwan tersebut menemukan fosil manusia purba yang diberi nama Homo floresiensis.

2. Jenis-Jenis Manusia Purba

    Manusia purba yang ditemukan di Indonesia terdiri atas beberapa jenis. Jenis-jenis manusia purba tersebut yaitu Meganthropus, Pithecanthropus, dan Homo sapiens. Ketiga jenis tersebut memiliki perbedaan ciri fisik. Berikut penjelasan mengenai jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia.

a. Meganthropus

    Secara etimologi, Meganthropus berarti manusia berukuran besar. Fosil Meganthropus pertama kali ditemukan oleh von Koenigswald pada 1941 di Desa Sangiran sekitar lembah Sungai Bengawan Solo. Meganthropus merupakan jenis manusia purba paling tua. Fosil yang ditemukan berupa fragmen rahang bawah sebelah kanan (dengan kedua geraham muka dan geraham bawah), rahang atas sebelah kiri (dengan geraham kedua dan ketiga), dan gigi lepas. Dari hasil penemuan fosil tersebut, diperkirakan bahwa manusia jenis ini memiliki ukuran sangat besar atau raksasa. Oleh karena itu, fosil ini dinamakan Meganthropus palaeojavanicus.

    Berdasarkan fosil yang ditemukan, para ahli memperkirakan Meganthropus palaeojavanicus memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut.

1) Tulang pipi tebal.
2) Kening menonjol.
3) Tidak memiliki dagu.
4) Geraham besar-besar.
5) Memiliki badan tegap.
6) Bentuk muka diduga masif.
7) Rahang bawah sangat tegap.
8) Memiliki bentuk gigi homonim.
9) Memakan tumbuh-tumbuhan.
10) Otot-otot kunyah sangat kukuh.
11) Kepala bagian belakang sangat menonjol.
12) Permukaan kunyah tajuk terdapat banyak kerut.

    Meganthropus palaeojavanicus diperkirakan hidup pada 1-2 juta tahun lalu. Fragmen fosil Meganthropus yang ditemukan masih sangat sedikit. Sampai sekarang belum ditemukan perkakas atau alat-alat yang digunakan oleh Meganthropus. Para ahli mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi keberadaan dan kebudayaan yang ditinggalkan Meganthropus. Oleh karena itu, para ahli nasib berbeda pendapat tentang keberadaan Meganthropus. Sebagian ahli menganggap sebagai Pithecanthropus, tetapi ada juga ahli yang menganggapnya sebagai Australopithecus.

b. Pithecanthropus

    Pithecanthropus merupakan jenis manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Sisa-sisa kehidupan Pithecanthropus dapat ditemukan di Mojokerto, Kedungbrubus, Trinil, Sangiran, Sambungmacan, dan Ngandong. Pada masa lalu daerah-daerah tersebut diduga berupa padang rumput dengan pohon-pohon jarang sehingga cocok sebagai daerah perburuan. Manusia jenis ini hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka tinggal di tempat-tempat terbuka dan berkelompok. Beberapa jenis Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia yaitu Pithecanthropus mojokertensis dan Pithecanthropus erectus. Setiap jenis manusia purba tersebut memiliki ciri fisik berbeda.

1) Pithecanthropus Mojokertensis

    Pithecanthropus mojokertensis merupakan manusia purba jenis Pithecanthropus tertua yang ditemukan di Indonesia. Pithecanthropus yang ditemukan oleh von Koenigswald di Mojokerto tahun 1936 pada lapisan pleistosen bawah ini hidup sekira 2,5-1,25 juta tahun lalu. Fosil Pithecanthropus mojokertensis yang berhasil ditemukan berupa tengkorak anak-anak, atap tengkorak, rahang atas, rahang bawah, dan gigi lepas. Berdasarkan temuan tersebut, ciri-ciri fisik Pithecanthropus mojokertensis diperkirakan yaitu tulang pipi kuat, berbadan tegap, tonjolan kening tebal, otot-otot tengkuk kukuh, muka menonjol ke depan, dan volume otak 6501000 cc.

2) Pithecanthropus Erectus atau Homo Erectus

    Pithecanthropus erectus merupakan jenis manusia purba yang memiliki daerah persebaran paling luas. Pada 1890 Eugene Dubois berhasil menemukan beberapa fosil Pithecanthropus erectus di Kedungbrubus, Trinil, dan Ngawi. Beberapa fragmen fosil yang berhasil ditemukan antara lain atap tengkorak, tulang paha, rahang bawah, rahang atas, gigi lepas, dan tulang kering. Sebagian besar fosil tersebut ditemukan di tepi Sungai Bengawan Solo dan terdapat di lapisan pleistosen tengah. Berdasarkan fosil-fosil yang berhasil ditemukan, para ahli memperkirakan ciri-ciri fisik Pithecanthropus erectus yaitu badan tegap, hidung lebar, dagu tidak ada, alat pengunyah kuat, berat badan 80-100 kg, tinggi badan 160-180 cm, terdapat tonjolan kening pada dahi, tulang tengkorak berbentuk lonjong, volume otak 7501000 ce, dan muka didominasi oleh bagian rahang yang menonjol.


    Pada saat ini nama ilmiah Pithecanthropus erectus adalah Homo erectus. Sebagian ahli paleoantropologi menduga bahwa Homo erectus berasal dari Afrika. Homo erectus bermigrasi selama masa pleistosen sekira 2 juta tahun lalu dan menyebar ke seluruh dunia hingga mencapai Asia Tenggara. Studi mengenai Homo erectus pernah dipublikasikan dalam Cambridge Archaeological Journal pada Februari 2013. Dalam jurnal tersebut dipaparkan bahwa Homo erectus memiliki kemampuan intelegensi tinggi yang ditandai dengan kemampuan menggunakan api. Kemampuan penggunaan api membutuhkan perencanaan jangka panjang dan kerja sama kelompok. Bukti dalam studi ini menunjukkan manusia purba jenis Homo erectus mungkin lebih cerdas dari perkiraan sebelumnya.

c.  Homo Sapiens

    Homo sapiens artinya manusia cerdas. Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan membuat peralatan sederhana dari batu dan tulang untuk berburu dan mengolah makanan. Homo sapiens mempunyai volume otak jauh lebih besar daripada jenis manusia purba sebelumnya. Selain itu, atap tengkoraknya jauh lebih bundar dan lebih tinggi.

    Berdasarkan fosil yang ditemukan, Homo sapiens diperkirakan memiliki ciri-ciri fisik antara lain tengkorak besar, volume otak diperkirakan 1.650 cc, muka datar dan lebar, akar hidung lebar, bagian mulut menonjol sedikit, dahi agak miring, di atas rongga mata ada busur kening yang nyata, langit-langit mulut besar dan dalam, rahang bawah masif, gigi besar-besar, gigitan gigi seri atas tepat mengenai gigi bawah, serta tinggi badan sekira 173 cm.

Adapun jenis Homo sapiens sebagai berikut.

1) Homo Wajakensis

    Homo wajakensis (manusia dari Wajak) ditemukan di lembah Sungai Brantas, Wajak, Tulungagung, Jawa Timur. Fosil Homo wajakensis ditemukan pada lapisan pleistosen atas oleh Eugene Dubois pada 1889. Manusia purba ini diperkirakan hidup pada 40-25 ribu tahun lalu. Menurut Eugene Dubois, Homo wajakensis termasuk ras Australoid dan bernenek moyang Homo soloensis. Von Koenigswald mengategorikan Homo wajakensis dalam jenis Homo sapiens (manusia cerdas) karena sudah mengenal upacara penguburan.

2) Homo Soloensis

    Fosil Homo soloensis pertama kali ditemukan oleh von Koenigswald pada 1931-1934 di daerah Ngandong, di tepi Sungai Bengawan Solo. Selain itu, fosil Homo soloensis ditemukan di Sambungmacan dan Ngawi. Ciri-ciri Homo soloensis antara lain volume otak 10002000 cc, tinggi badan 130-210 cm, dan berat badan 30-150 kg. Otak Homo soloensis sudah berkembang, terutama bagian kulit otak dan otak kecil. Bagian belakang tengkorak sudah membulat dan tinggi. Otot-otot bagian tengkuk sudah mengalami reduksi. Alat pengunyah menyusut sehingga gigi dan tulang rahang menjadi kecil. Menyusutnya alat pengunyah ini menyebabkan otot-otot kunyah dan muka Homo soloensis tidak lagi menonjol. Selain itu, Homo soloensis sudah bisa berjalan dan berdiri dengan sempurna. Manusia purba Homo soloensis diperkirakan hidup pada 900-200 ribu tahun lalu.

3) Homo Floresiensis

    Pada 2003 para ilmuwan dari Australia dan Indonesia melakukan penggalian di gua Liang Bua, Flores. Mereka berhasil menemukan fosil tengkorak manusia purba yang diberi nama Homo floresiensis. Ukuran manusia ini tidak lebih besar dari anak-anak usia lima tahun. Homo floresiensis diperkirakan memiliki tinggi badan 100 cm dan berat badan 30 kg. Selain itu, mereka sudah berjalan tegak dan tidak memiliki dagu. Manusia purba ini hidup di Kepulauan Flores sekira 18.000 tahun lalu. Homo floresiensis hidup sezaman dengan gajah-gajah pigmi (gajah kerdil) dan kadal-kadal raksasa (komodo) di Flores.

    Menurut tim ilmuwan yang menemukan fosil tersebut, Homo floresiensis merupakan keturunan spesies Homo erectus yang hidup di Asia Tenggara sekira 1 juta tahun lalu. Akibat proses seleksi alam, tubuh mereka berevolusi menjadi bentuk lebih kecil. Teori ini didasarkan pada penemuan berbagai peralatan yang biasa digunakan oleh Homo erectus di sekitar fosil Homo floresiensis. Selain itu, di Flores ditemukan fosil stegodon (gajah purba) berukuran kecil. Penemuan ini menguatkan hipotesis para ilmuwan bahwa banyak makhluk hidup di pulau ini menyesuaikan diri dengan habitatnya.

    Dalam jurnal ilmiah Nature, para ilmuwan menjelaskan Homo floresiensis sebagai spesies baru manusia. Akan tetapi, pendapat ini ditentang oleh para peneliti dari Universitas Gadjah Mada. Menurut Teuku Jacob, Homo floresiensis bukan merupakan spesies baru, melainkan nenek moyang dari orang-orang Katai di Flores yang menderita penyakit microcephalia, yaitu bertengkorak kecil dan berotak kecil. Hingga saat ini penyakit tersebut masih ditemukan pada beberapa penduduk yang hidup di sekitar gua Liang Bua.


    Masa praaksara identik dengan kehidupan manusia purba yang cenderung primitif. Fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia dapat menjadi petunjuk mengenai kehidupan pada masa praaksara. Meskipun demikian, fosil-fosil tersebut memerlukan kajian lebih lanjut untuk mengungkap kehidupan masa praaksara.




Post a Comment

0 Comments