Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara - Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara - Nenek Moyang Bangsa Indonesia

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 2
Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara


Pendalam Materi


C. Nenek Moyang Bangsa Indonesia


    Apakah Anda pernah mendengar lirik lagu tersebut. Coba carilah informasi mengenai lagu dengan lirik tersebut. Selanjutnya, nyanyikan lagu tersebut bersama teman Anda. Lagu tersebut menceritakan nenek moyang bangsa Indonesia adalah seorang pelaut. Pelaut dalam lagu ini dapat diartikan sebagai pengembara. Menurut pendapat Anda, benarkah isi lirik lagu tersebut? Coba diskusikan dengan teman Anda.

    Indonesia merupakan negara dengan jumlah suku bangsa terbanyak di dunia. Masyarakat Indonesia hidup berdampingan secara harmonis dengan keragaman budaya dan bahasa. Meskipun demikian, bangsa Indonesia memiliki nenek moyang yang sama. Lantas, dari manakah asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia? Mari belajar bersama dalam uraian berikut.


1. Teori-Teori tentang Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia

    Asal usul bangsa yang mendiami wilayah Indonesia menjadi kajian menarik di kalangan ahli antropologi. Beberapa ahli mengemukakan teori berbeda mengenai asal-usul bangsa Indonesia. Ada empat teori yang menjelaskan tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia. Teori-teori tersebut memiliki dasar berbeda. Keempat teori tersebut sebagai berikut.

a. Teori Yunan

    Sesuai namanya, teori Yunan menyatakan nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan. Yunan merupakan sebuah wilayah yang terletak di Tiongkok. Salah satu tokoh yang mendukung teori ini adalah Mohammad Ali. Menurut Mohammad Ali, bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol. Mereka terdesak ke selatan karena suku-suku lain yang lebih kuat. Teori ini juga disetujui oleh RH. Geldern dan J.H.C. Kern.

    Dasar dari teori Yunan adalah hasil temuan teknologi dan persamaan bahasa. Berdasarkan penemuan kapak tua di wilayah Nusantara, bentuk kapak tersebut memiliki kesamaan dengan temuan kapak di wilayah Asia Tengah. Dapat disimpulkan penduduk Asia Tengah telah bermigrasi ke kepulauan Nusantara. Sementara itu, dari segi kebahasaan, bahasa Melayu yang berkembang di Nusantara memiliki kesamaan dengan bahasa Champa yang berkembang di Kamboja. Persamaan ini memunculkan dugaan bahwa penduduk di Kamboja berasal dari Daratan Yunan. Selanjutnya perpindahan penduduk terjadi dari Kamboja menuju ke selatan hingga wilayah Nusantara.

b. Teori Nusantara

    Teori Nusantara merupakan teori yang bertolak belakang dengan teori Yunan. Teori Nusantara mengemukakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Teori ini didukung oleh Muhammad Yamin, Gory's Keraf, dan J. Crawford. Argumentasi yang melandasi teori ini sebagai berikut.

1) Bangsa Melayu merupakan bangsa yang berperadaban tinggi. Oleh karena itu, peradaban ini tidak mungkin dicapai tanpa proses perkembangan dari kebudayaan sebelumnya.

2) Berdasarkan perbandingan kebahasaan, bahasa Melayu memang mempunyai kesamaan dengan bahasa Champa (Kamboja). Meskipun demikian, teori Nusantara berpandangan bahwa kesamaan bahasa tersebut hanya sebuah kebetulan.

3) Orang Melayu bukan berasal dari luar, orang Melayu merupakan keturunan dari Homo soloensis dan Homo wajakensis.

4) Adanya perbedaan bahasa antara bahasa Austronesia yang berkembang di Nusantara dengan bahasa Indo-Eropa yang berkembang di Asia Tengah.

c. Teori Out of Africa

    Teori Out of Africa merupakan teori yang didasarkan pada penelitian DNA. Teori ini menyatakan asal-usul manusia modern di berbagai belahan dunia berasal dari Afrika. Menurut ahli genetika asal Amerika Serikat, Max Ingman, manusia modern berasal dari Afrika antara kurun waktu 100-200 ribu tahun lalu. Penelitian Ingman juga menunjukkan tidak adanya gen manusia yang bercampur dengan gen spesies manusia purba.

    Teori Out of Africa menjelaskan manusia Afrika bermigrasi sekira 50.000 hingga 70.000 tahun silam. Wilayah tujuan migrasi tersebut adalah Asia Barat dan melewati dua jalur. Pertama, jalur yang mengarah ke Sungai Nil, melintasi Semenanjung Sinai, dan ke utara melewati Arab Levant. Kedua, jalur yang bermula dari Afrika kemudian melewati Laut Merah.

d. Teori Out of Taiwan

    Teori Out of Taiwan dikemukakan oleh Peter Bellwood dan Robert Blust. Dalam teori yang juga didukung oleh Harry Truman Simanjuntak ini menyatakan manusia di kepulauan Nusantara berasal dari Taiwan. Melalui pendekatan linguistik, didapatkan kesimpulan bahwa keseluruhan bahasa yang digunakan oleh suku-suku di Nusantara memiliki rumpun sama, yaitu rumpun Autronesia. Dengan kata lain, akar dari keseluruhan cabang bahasa yang digunakan oleh leluhur di Nusantara berasal dari rumpun Austronesia di Formosa atau Taiwan. Teori Out of Taiwan merupakan pertentangan dari teori yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Yunan.


2. Proses Migrasi Ras Melanosoid, Proto Melayu, dan Deutro Melayu ke Indonesia

    Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia memunculkan berbagai teori. Masalah mengenai asal usul tersebut juga dapat dijelaskan dengan migrasi ras Melanesia/ras Negroid dan rumpun bangsa Austronesia/ras Mongoloid. Asal mula suku-suku bangsa di Indonesia berasal dari wilayah Yunan yang terletak di Tiongkok bagian selatan. Dalam proses perpindahan dari Yunan, bangsa Melanesia merupakan gelombang pertama yang kemudian diikuti oleh ras Mongoloid. Kedua ras tersebut masuk ke wilayah Nusantara melalui dua gelombang.

a. Bangsa Melanesia/Papua Melanosoide

    Hingga saat ini, para ahli sejarah menganggap bangsa Melanesia sebagai bangsa pertama yang bermigrasi ke kepulauan Nusantara. Bangsa Melanesia berasal dari Teluk Tonkin. Fakta tentang asal bangsa ini didasarkan pada penelitian terhadap benda-benda peninggalan seperti pebble dan kapak pendek. Benda-benda tersebut ditemukan di Pegunungan Bacson di daerah Hoabinh.

1) Ciri Kehidupan

    Melalui artefak yang ditemukan di Teluk Tonkin, bangsa Melanesia/Papua Melanosoide termasuk rumpun Veddoid-Austroloid yang memiliki ciri kulit hitam. Kebudayaan bangsa Melanesia/Papua Melanosoide digolongkan dalam budaya mesolitikum. Bangsa ini sudah hidup menetap dalam kelompok-kelompok kecil serta hidup dengan sistem berburu dan meramu. Bangsa Melanesia/Papua Melanosoide membawa beberapa teknologi baru seperti teknik pembuatan api. Bangsa Melanesia membuat api dengan cara menggesek-gesekkan ranting pohon atau batu. Selain teknologi membuat api, bangsa ini sudah mengenal sistem perladangan walaupun masih bersifat semi nomaden.

    Tepian sungai menjadi tempat pertemuan dua kelompok penduduk, yaitu penduduk asli dan bangsa Melanesia. Pertemuan ini mengakibatkan terjadinya benturan antara kebudayaan paleolitikum dan mesolitikum. Alat-alat sederhana seperti kapak genggam, alat-alat tulang, dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau pebble dan kapak pendek. Pertemuan dan interaksi ini menimbulkan dampak antara lain terdesaknya penduduk asli ke wilayah pedalaman.

2) Daerah Persebaran

    Bangsa Melanesia memiliki ciri-ciri fisik antara lain kulit kehitam-hitaman, badan kekar, rambut keriting, mulut lebar, dan hidung mancung. Keturunan bangsa Melanesia saat ini antara lain di pedalaman Malaya, penduduk Aeta di pedalaman Filipina, suku Sakai di Siak, serta orang-orang Papua dan Kepulauan Melanesia.

b. Bangsa Proto Melayu/Melayu Tua

    Bangsa Proto Melayu mulai bermigrasi ke wilayah Nusantara sekira tahun 2000 sebelum Masehi. Bangsa ini membawa kebudayaan yang lebih tinggi daripada kebudayaan bangsa Melanesia. Bangsa Proto Melayu termasuk rumpun ras Mongoloid dari daerah Yunan. Proses migrasi bangsa Proto Melayu ke wilayah Asia Selatan disebabkan beberapa faktor, yaitu peperangan antarsuku, desakan suku-suku liar dari Asia Tengah, dan bencana alam berupa banjir akibat meluapnya sungai sungai di wilayah Tiongkok Selatan.

Menurut Koentjaraningrat, bangsa Proto Melayu datang ke Nusantara melalui dua jalur berikut.

1) Jalur pertama menyebar dari Yunan menuju kawasan Indocina, Siam, dan kepulauan Nusantara. Setelah mencapai Nusantara, mereka menyebar ke Sulawesi dan Papua dengan membawa kebudayaan neolitikum berupa kapak lonjong. Keturunan Proto Melayu yang menempuh jalur ini antara lain suku Toraja.

2) Jalur kedua menyebar ke Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dengan membawa kebudayaan neolitikum berupa beliung persegi. Keturunan Proto Melayu yang menempuh jalur ini antara lain suku Nias, Batak, Dayak, dan Sasak.

    Koentjaraningrat menambahkan ada dugaan bahwa bangsa Proto Melayu datang dari Kepulauan Ryukyu (Jepang) menyebar ke Taiwan, Filipina, Sangihe, kemudian masuk ke Sulawesi yang dibuktikan dengan adanya suku Toala Proto Melayu di Sulawesi Selatan, Suku ini mengembang kan budaya berburu menggunakan busur dan panah.

1) Ciri Kehidupan

    Bangsa Proto Melayu memiliki ciri fisik antara lain kulit sawo matang, rambut lurus, badan tinggi ramping, serta bentuk mulut dan hidung sedang. Kedatangan bangsa Proto Melayu memungkinkan terjadinya percampuran darah dengan penduduk asli Indonesia dan bangsa Melanesia yang telah terlebih dahulu datang di Indonesia. Bangsa Melanesia yang tidak bercampur dengan bangsa Proto Melayu terdesak ke pedalaman.

    Bangsa Proto Melayu memiliki kebudayaan setingkat lebih tinggi daripada Homo sapiens yang ditemukan di Indonesia. Kebudayaan Proto Melayu termasuk kebudayaan batu muda (neolitikum). Benda-benda hasil kebudayaan mereka masih terbuat dari batu dan telah dikerjakan dengan sangat baik. Kebudayaan kapak persegi dibawa oleh bangsa Proto Melayu melalui jalur barat, sedangkan kebudayaan kapak lonjong melalui jalur timur.

2) Daerah Persebaran

    Semakin lama kedudukan bangsa Proto Melayu di Indonesia terdesak akibat migrasi bangsa Deutro Melayu. Suku bangsa di Indonesia saat ini yang termasuk keturunan bangsa Proto Melayu antara lain suku Toraja di Sulawesi Selatan, suku Sasak di Pulau Lombok, suku Dayak di Kalimantan Tengah, suku Nias di pantai barat Sumatra, suku Batak di Sumatra Utara, dan Suku Kubu di Sumatra Selatan.

c. Bangsa Deutro Melayu/Melayu Muda

    Bangsa Deutro Melayu bermigrasi ke wilayah Nusantara pada tahun 500 sebelum Masehi. Bangsa Melayu Muda merupakan hasil percampuran antara bangsa Proto Melayu dan bangsa Arya. Bangsa ini berasal dari wilayah Indocina bagian utara dan sekitarnya. Mereka telah mengenal logam sebagai alat perkakas hidup dan alat produksi.

1) Ciri Kehidupan

    Bangsa Deutro Melayu memiliki ciri fisik yang tidak jauh berbeda dengan mayoritas penduduk Indonesia saat ini. Ciri fisik bangsa Deutro Melayu yaitu tinggi badan 135-180 cm, berat badan 30-75 kg, warna kulit antara kuning langsat dan cokelat hitam, warna rambut antara cokelat dan hitam, serta bentuk rambut antara lurus dan keriting.

    Proses migrasi bangsa Deutro Melayu di kepulauan Nusantara dilakukan melewati jalur barat, yaitu daerah Semenanjung Malaka, Sumatra, kemudian menyebar ke beberapa wilayah di Nusantara. Bangsa ini memiliki kebudayaan lebih maju dibandingkan bangsa Proto Melayu. Kemajuan ini terlihat dari kemampuan mereka dalam membuat benda-benda logam dari bahan perunggu dan besi.

2)  Daerah Persebaran

    Migrasi yang dilakukan bangsa Deutro Melayu berdampak pada keberadaan bangsa Proto Melayu. Bangsa Proto Melayu yang sebelumnya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai terdesak ke pedalaman. Hal ini terjadi karena kebudayaan bangsa Deutro Melayu lebih maju daripada bangsa Proto Melayu. Kebudayaan bangsa Deutro Melayu ber kembang pesat dan menjadi penyumbang terbesar cikal bakal bangsa Indonesia sekarang. Keturunan bangsa Deutro Melayu di Indonesia antara lain orang Aceh, Minangkabau, Jawa, Bali, Bugis, dan Makassar.

    Menurut sejarawan D.G.E. Hall, peninggalan-peninggalan Proto Melayu dan Deutro Melayu dianggap sebagai peradaban Melayu Kuno yang telah memiliki ciri dan karakter, sebelum mendapat pengaruh kebudayaan India. D.G.E. Hall mencatat bahwa beberapa komunitas Proto Melayu dan Deutro Melayu hingga kini masih ada dan tersebar di berbagai kawasan di Indonesia.


    Dari uraian pada subbab ini kita menyadari bahwa proses interaksi antarbangsa sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu seiring berlangsungnya proses migrasi. Melalui proses ini, muncul aneka kebudayaan. Fakta ini memberikan kesadaran mengenai pentingnya interaksi antarbangsa. Interaksi antarbangsa akan semakin terasa pada era globalisasi. Sebagai generasi penerus bangsa, Anda perlu membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat dan karakter yang kuat. Cintailah budaya bangsa agar Anda tidak kehilangan identitas diri dalam interaksi antarbangsa.

Post a Comment

0 Comments