Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara - Hasil dan Nilai Kebudayaan Masyarakat pada Masa Praaksara

Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara - Hasil dan Nilai Kebudayaan Masyarakat pada Masa Praaksara

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 2
Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara


Pendalam Materi


E. Hasil dan Nilai Kebudayaan Masyarakat pada Masa Praaksara


    Amatilah gambar di samping! Cara menikmati hidangan seperti gambar di samping merupakan salah satu contoh budaya. Masyarakat pada masa praaksara juga menghasilkan kebudayaan. Hasil kebudayaan masyarakat pada masa praaksara terbagi dalam tiga wujud, yaitu artefak, gagasan, dan aktivitas. Dalam kehidupan sehari-hari ketiga wujud kebudayaan tersebut dicontohkan dengan dua hasil kebudayaan utama. Wujud artefak (benda) dicontohkan dengan alat-alat teknologi. Sementara itu, gagasan dan aktivitas dapat berkaitan dengan sistem kepercayaan. Bagaimana perkembangan budaya masyarakat pada masa praaksara? Mari temukan jawabannya dalam uraian berikut.


1. Penemuan Teknologi Sederhana

    Apa yang Anda ketahui tentang teknologi? Kemukakan pendapat Anda! Teknologi dapat diartikan sebagai sarana untuk memudahkan kehidupan manusia. Teknologi juga selalu mengalami perkembangan dari sederhana menuju modern. Sejak zaman praaksara, manusia sudah mengenal teknologi untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh masyarakat masa praaksara sebagai berikut.

   a. Penemuan Api

    Beberapa peneliti memperkirakan penemuan api terjadi pada periode manusia purba jenis Homo erectus. Pada masa itu api ditemukan secara tidak sengaja saat petir menyambar pohon-pohon di sekitar lingkungan koloni mereka. Sejak penemuan api, kehidupan manusia purba menjadi lebih maju. Mereka menggunakan api untuk mengolah makanan, menghangatkan badan, menerangi ruangan, dan mengusir binatang buas.

    Pada masa bercocok tanam manusia meng gunakan api untuk membuka hutan. Mereka menebang pohon-pohon berukuran besar lalu membakarnya (slash and burn) agar lahan menjadi bersih dan mudah ditanami. Sistem pertanian tersebut dikenal sebagai ladang berpindah. Sampai sekarang sistem ini masih tetap dilakukan oleh sebagian penduduk Indonesia yang tinggal di Kalimantan dan Sumatera.

    Pada awalnya pembuatan api dilakukan dengan cara membenturkan batu api dan menggosokkan kayu. Percikan api yang dihasilkan kemudian diarahkan pada dedaunan kering, lumut, dan rumput halus yang mudah terbakar. Setelah itu, nyala api diperbesar dengan menambahkan kayu bakar.

   b. Peralatan dari Batu dan Tulang

    Peralatan dari batu dan tulang telah berkembang sekira 600.000 tahun lalu atau pada zaman paleolitikum. Peralatan tersebut difungsikan sebagai alat untuk mencari makanan. Dalam per kembangannya, alat-alat batu yang dibuat oleh manusia purba terus berevolusi menjadi bentuk yang lebih halus. Kebudayaan yang mengembangkan peralatan dari batu dan tulang di Indonesia terbagi menjadi dua daerah berikut.

     1) Kebudayaan Pacitan

    Peninggalan alat-alat batu dari kebudayaan Pacitan pertama kali diteliti oleh von Koenigswald pada 1935. Di Pacitan von Koenigswald menemukan banyak peninggalan budaya berupa kapak perimbas (chooper). Alat tersebut berbentuk kapak yang terbuat dari batu sangat kasar. Alat budaya Pacitan diperkirakan berasal dari lapisan pleistosen tengah (lapisan Trinil). Pendukung kebudayaan Pacitan adalah Homo erectus.

    Ciri-ciri kapak perimbas antara lain berbentuk besar, masif, dan kasar. Selain itu, kulit batunya masih melekat pada permukaan alat. Daerah persebaran kapak perimbas terutama terdapat di tempat-tempat yang mengandung banyak batuan. Tempat-tempat penemuan tradisi kapak perimbas antara lain Pacitan, Jawa Timur; Lahat, Sumatra Selatan; Awangbangkal, Kalimantan Selatan; Sukabumi, Jawa Barat; dan Gombong, Jawa Tengah.

     2) Kebudayaan Ngandong

    Kebudayaan Ngandong berkembang di daerah Ngandong, Jawa Timur. Sedangkan besar peralatan yang ditemukan di Ngandong terbuat dari tulang, tanduk, dan duri ikan. Oleh karena itu, kebudayaan Ngandong disebut kebudayaan tulang. Alat-alat tulang dari kebudayaan Ngandong ditemukan oleh von Koenigswald pada 1941. Beberapa alat yang ditemukan antara lain alat penusuk seperti belati yang terbuat dari tulang dan tanduk rusa di gua Sampung.

    Von Koenigswald juga menemukan beberapa alat seperti ujung tombak dengan gigi-gigi pada sisinya. Alat ini kemungkinan digunakan untuk menangkap ikan. Alat-alat dari kebudayaan Ngandong berasal dari lapisan pleistosen atas. Manusia pendukung kebudayaan Ngandong adalah Homo wajakensis dan Homo soloensis.

   c. Teknik Pembuatan Peralatan Batu

    Teknologi pembuatan alat-alat batu yang digunakan oleh manusia purba terus mengalami perkembangan. Secara garis besar, teknologi pembuatan peralatan batu sebagai berikut.

     1) Teknik Pemangkasan

    Teknik pemangkasan dilakukan dengan cara menempatkan batu yang akan dijadikan alat pada sebuah paron (landasan untuk menempa) atau dipegang. Selanjutnya, permukaan batu yang diinginkan dipangkas menggunakan martil batu (batu lain yang lebih keras) untuk memperoleh bentuk permukaan yang tajam dan bagian pegangan. Tradisi pembuatan alat-alat batu dengan teknik pemangkasan berlangsung pada masa paleolitikum. Alat-alat batu yang dibuat dengan teknik pemangkasan antara lain kapak genggam, kapak perimbas, dan kapak penetak.

     2) Teknik Levallois

    Teknik levallois adalah teknik pembuatan alat serpih batu yang menghasilkan dataran pukul berfaset atau berbidang-bidang. Teknik ini ditemukan 300 ribu tahun lalu dan lebih maju dibandingkan teknik pemangkasan. Knapper (pembuat alat batu) menyiapkan inti batu berbentuk tempurung kura-kura yang memperlihatkan permukaan cembung. Dari beberapa pukulan, bentuk serpihan yang telah ditentukan dapat terlepas dari inti. Bahan batuan yang digunakan dalam teknik ini berasal dari jenis batuan tufa, gamping kersikan, dan batuan endap. Di Indonesia penggunaan teknik levallois ditemukan pada peninggalan alat-alat serpih dari kebudayaan Pacitan

     3) Teknik Upam

    Teknik upam adalah teknik mengasah batu untuk mendapatkan alat-alat berbentuk halus. Teknik ini dikenal masyarakat Indonesia pada masa neolitikum. Alat yang digunakan untuk mengasah biasanya berasal dari jenis batuan andesit. Teknik upam digunakan oleh manusia purba pada masa bercocok tanam dan beternak. Mereka menerapkan teknik upam pada perlengkapan batu yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti beliung persegi, kapak lonjong, mata tombak, dan mata panah.

   d. Pembuatan Tempat Tinggal

    Tempat tinggal mulai dikenal manusia purba setelah hidup secara menetap. Pada zaman mesolitikum manusia purba sudah mengenal pola hidup menetap meskipun mereka masih mencari penemuan makanan dengan cara berburu dan menangkap ikan. Informasi ini diketahui dari kjokkenmoddinger dan abris sous roche.

     1) Kjokkenmoddinger

    Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, yaitu kjokken dan modding. Kjokken berarti dapur dan modding berarti sampah. Dengan demikian, kjokkenmoddinger dapat diartikan sampah-sampah dapur. Kjokkenmoddinger merupakan timbunan atau tumpukan fosil kulit kerang dan siput yang menggunung. Para ahli memperkirakan manusia purba yang hidup pada zaman ini menetap di tepi pantai dalam waktu lama. Fakta itu terlihat dari tinggi kjokkenmoddinger yang mencapai tujuh meter.

    Berbagai peninggalan manusia purba ditemukan di sekitar kjokkenmoddinger. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. van Stein Callenfels pada 1925 berhasil menemukan sejumlah kapak genggam (chopper) di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera. Kapak tersebut memiliki bentuk berbeda dengan kapak genggam dari zaman paleolitikum. Kapak genggam ini kemudian diberi nama pebble atau kapak sumatra.

     2) Abris Sous Roche

    Abris sous roche adalah gua yang menyerupai ceruk pada batu karang. Gua-gua ini pernah dijadikan tempat tinggal manusia purba karena berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Keberadaan abris sous roche pertama kali ditemukan oleh Dr. van Stein Callenfels di gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo, Jawa Timur. Sebagian besar peralatan yang berhasil ditemukan terbuat dari tulang dan tanduk rusa. Oleh karena itu, kebudayaan abris sous roche disebut Sampung Bone Culture. Selain itu, Alfred Buhler menemukan flakes dan ujung mata panah terbuat dari batu di sebuah gua di Toala, Sulawesi Selatan, Rote, dan Timor.

   e. Peralatan Gerabah

    Gerabah telah dikenal manusia sejak zaman praaksara, khususnya zaman neolitikum. Peralatan gerabah dibuat dari campuran tanah liat dan pasir. Pada zaman ini teknologi yang digunakan masih sederhana. Sejak penyiapan bahan dasar hingga pembuatan bentuk dan penyelesaian akhir hanya menggunakan tangan. Teknik ini terutama digunakan pada masa kehidupan bercocok tanam dan beternak. Gerabah yang dibuat pada masa ini masih berbentuk tebal dan kasar seperti periuk, cawan, piring, dan pedupaan.

    Pada masa perundagian pembuatan gerabah berkembang pesat dengan ditemukannya teknik tatap batu. Teknik tatap batu merupakan teknik yang menggunakan sebilah papan kecil bergagang (tatap) untuk meratakan permukaan luar gerabah (dengan memukul-mukulkan tatap) dan sebuah batu bulat untuk menekan permukaan dalam gerabah. Dalam pembuatan gerabah juga mulai menggunakan roda pemutar untuk menghasilkan permukaan yang halus dan tipis. Sampai sekarang teknik ini masih dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia.

   f. Peralatan Logam

    Pada zaman logam masyarakat mulai mengenal teknik membuat peralatan dari logam. Teknik pengolahan logam yang berkembang di Indonesia berasal dari kebudayaan Dongson yang dibawa oleh bangsa Deutro Melayu. Adapun peralatan logam yang dibuat sebagian besar berasal dari perunggu, yaitu campuran antara timah dan tembaga.

    Berkaitan dengan teknologi pengolahan logam, bangsa Indonesia mengenal dua teknik pengolahan logam perunggu, yaitu teknik a cire perdue dan bivalve. Teknik a cire perdue disebut teknik cetak lilin karena model dari tanah liat yang akan dicetak dilapisi lilin. Teknik a cire perdue digunakan untuk membuat benda-benda perunggu yang memiliki bentuk dan hiasan rumit seperti arca dan patung perunggu. Sementara itu, teknik bivalve disebut juga teknik setangkup karena menggunakan dua keping cetakan yang terbuat dari batu. Cetakan ini dapat dipakai berkali-kali sesuai kebutuhan. Teknik bivalve digunakan untuk mencetak benda-benda yang sederhana dan tidak memiliki bagian-bagian menonjol seperti kapak corong dan kapak perunggu.


2. Sistem Kepercayaan

    Munculnya kepercayaan pada masa praaksara dilatarbelakangi oleh kesadaran adanya jiwa yang abstrak. Dalam pemikiran manusia, jiwa tersebut ditransformasikan sebagai makhluk halus atau roh halus. Mereka dipercaya berada di sekeliling tempat tinggal manusia. Makhluk halus mendapat perlakuan istimewa karena memiliki kekuatan besar di luar kemampuan akal manusia. Oleh karena itu, makhluk halus beserta tempat-tempat yang menjadi kediamannya sering dijadikan objek pemujaan.

   a. Jenis-Jenis Kepercayaan

    Kepercayaan manusia purba mulai muncul sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Pada zaman megalitikum muncul kepercayaan yang mendorong masyarakat melakukan pemujaan terhadap roh leluhur. Berdasarkan kepercayaan tersebut, masyarakat mengembangkan kepercayaan animisme, dinamisme, dan totemisme.

     1) Animisme

    Dalam kepercayaan animisme, manusia percaya bahwa roh nenek moyang akan selalu mengawasi dan melindungi mereka. Roh tersebut akan menghukum manusia jika melakukan perbuatan yang melanggar adat. Oleh karena itu, orang yang mengetahui dan menguasai adat nenek moyang akan menjadi ketua adat atau pemimpin masyarakat. Selanjutnya, ketua adat memimpin masyarakatnya untuk melakukan penghormatan terhadap roh nenek moyang.

     2) Dinamisme

    Dinamisme merupakan kepercayaan bahwa benda-benda tertentu seperti batu dan pohon besar mempunyai kekuatan gaib. Bahkan, benda-benda yang dibuat manusia seperti tombak, cincin, dan pedang dianggap memiliki kekuatan gaib. Kekuatan abstrak atau gaib yang berdiam pada suatu benda disebut mana. Benda-benda yang mempunyai mana dipercaya dapat mendatangkan pengaruh baik dan buruk bagi manusia. Oleh karena itu, benda-benda tersebut mendapat perlakuan istimewa dan dihormati dengan berbagai macam ritual.

     3) Totemisme

    Totemisme merupakan kepercayaan terhadap binatang-binatang tertentu sebagai lambang nenek moyang. Binatang-binatang yang dianggap sebagai perwujudan nenek moyang di setiap daerah berbeda-beda. Sebagian masyarakat di Papua dan Pulau Seram memercayai kadal adalah binatang perwujudan nenek moyang. Oleh karena itu, binatang tersebut dikeramatkan dan tidak boleh diburu, kecuali untuk kepentingan upacara tertentu.

   b. Penguburan Jenazah

    Munculnya sistem kepercayaan memengaruhi pola kehidupan masyarakat. Selain melakukan berbagai ritual atau pemujaan terhadap roh nenek moyang, masyarakat mengenal sistem penguburan bagi orang meninggal. Sistem penguburan pada masa ini yaitu penguburan primer dan sekunder.

     1) Penguburan Primer

    Penguburan primer disebut juga penguburan langsung. Dalam sistem penguburan ini, mayat hanya dikubur sekali dalam tanah. Akan tetapi, ada juga yang meletakkan mayat dalam sebuah wadah seperti kendi gerabah atau peti batu, kemudian dikuburkan dalam tanah dengan disertakan berbagai ritual penguburan. Sebagai bekal dalam perjalanan ke dunia roh, mayat dilengkapi berbagai macam perhiasan atau manik-manik, seekor anjing, dan unggas. Semua bekal kubur tersebut diletakkan dalam wadah berbentuk periuk. Sistem penguburan ini ditemukan di Anyer (Banten) dan Plawangan, Rembang (Jawa Tengah).

     2) Penguburan Sekunder

    Penguburan sekunder disebut juga penguburan tidak langsung. Dalam sistem ini mayat dikubur langsung dalam tanah tanpa upacara penguburan. Setelah mayat menjadi kerangka, kuburnya digali dan kerangka diambil untuk dibersihkan. Selanjutnya, kerangka diletakkan dalam wadah berupa tempayan atau sarkofagus dan dikubur kembali disertai upacara penguburan. Cara penguburan ini ditemukan di Melolo, Sumba (Nusa Tenggara Timur), Gilimanuk (Bali), dan Lesung Batu (Sumatra Barat).

   c. Benda-Benda Pemujaan

    Seiring munculnya kepercayaan, masyarakat pada masa praaksara membangun benda-benda yang digunakan untuk ritual pemujaan terhadap roh nenek moyang. Benda-benda pemujaan mulai muncul pada zaman megalitikum. Benda-benda tersebut sebagai berikut.

     1) Menhir

    Menhir adalah tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang. Menhir dianggap sebagai lambang dan takhta persemayaman roh leluhur. Bangunan menhir ada yang berdiri tunggal dan ada yang berkelompok serta ada pula yang dibuat bersama bangunan lain seperti punden berundak. Kebudayaan ini bisa ditemukan di Pasemah (Sumatra Selatan), Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.

     2) Punden Berundak

    Punden berundak merupakan bangunan dari batu yang disusun secara bertingkat-tingkat. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Bangunan pundek berundak merupakan cikal bakal bangunan candi pada masa Hindu-Buddha. Pendirian punden berundak dilakukan berdasarkan arah mata angin yang diyakini memiliki kekuatan gaib atau di tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang seperti gunung atau bukit.

     3) Dolmen

     Bangunan ini menyerupai meja dari batu, fungsinya sebagai tempat meletakkan sesajen untuk pemujaan. Dolmen juga berfungsi sebagai tempat duduk kepala suku. Dolmen ditemukan di Cipari, Kuningan (Jawa Barat), Bondowoso dan Jember (Jawa Timur), Pasemah (Sumatra), serta Nusa Tenggara Timur.

     4) Kubur Batu

    Kubur batu dibuat dari papan batu yang disusun persegi empat berbentuk peti mayat yang dilengkapi dengan alas dan bidang atasnya berasal dari papan batu. Kubur batu ditemukan di daerah Cipari, Kuningan, Cirebon (Jawa Barat), Wonosari (Yogyakarta), dan Cepu (Jawa Tengah). Dalam kubur batu ditemukan rangka manusia yang sudah rusak, alat-alat perunggu dan besi, serta manik-manik.

     5) Sarkofagus

    Bangunan ini berupa keranda batu atau peti mayat yang terbuat dari batu. Bentuknya menyerupai lesung dari batu utuh yang diberi tutup. Di dalamnya terdapat mayat dan bekal kubur berupa periuk, kapak persegi, perhiasan- an, dan benda-benda dari perunggu serta besi.


3. Nilai-Nilai Kebudayaan Masa Praaksara

    Kebudayaan masyarakat pada masa praaksara berkaitan erat dengan kemampuan berpikir manusia untuk bertahan hidup di alam terbuka. Berawal dari pemikiran tersebut, mereka menciptakan peralatan peralatan sederhana yang dapat digunakan sebagai sarana memenuhi kebutuhan. Peralatan-peralatan sederhana tersebut merupakan hasil kebudayaan masyarakat pada masa praaksara yang memuat nilai nilai sebagai berikut.

   a.  Kreativitas

    Teknologi diciptakan mengikuti kebutuhan pada zamannya. Misalnya, saat manusia membutuhkan alat untuk memotong dahan pohon atau daging, manusia menciptakan alat semacam pisau yang terbuat dari bahan batu. Ketika manusia membutuhkan tempat untuk berlindung, manusia memanfaatkan gua-gua menjadi rumah mereka. Tanpa adanya kreativitas manusia tidak dapat menciptakan gagasan-gagasan baru. Dengan mengenali kondisi alam dan belajar dari pengalaman dalam memenuhi kebutuhan, manusia berhasil menciptakan teknologi meskipun dalam tingkat paling sederhana. Bahkan, teknologi tersebut masih digunakan hingga sekarang.

   b. Belajar dari Alam dan Lingkungan

    Kehidupan manusia pada praaksara tidak dapat dipisahkan dari lingkungan alam. Pemenuhan kebutuhan makanan manusia sangat bergantung dengan alam. Bahan makanan diambil dari lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Ketergantungan terhadap alam membentuk pola pikir dan kebiasaan manusia pada masa praaksara. Manusia pada masa praaksara cenderung aktif menjaga lingkungan. Apabila alam rusak, konsekuensinya mereka kesulitan mendapatkan makanan. Oleh karena itu, manusia pada masa praaksara senantiasa menjaga lingkungan alam agar kebutuhan makanan mereka tetap terpenuhi.

    Pada masa sekarang masih banyak contoh kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi keselarasan dengan alam. Contohnya, masyarakat suku Anak Dalam di pedalaman hutan Jambi dan suku Baduy di Banten. Kedua suku tersebut memberi contoh positif tentang hidup berdampingan dengan alam dan pentingnya menjaga lingkungan alam. Sikap positif tersebut perlu Anda teladan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran menjaga alam sangat perlu dimiliki agar generasi masa depan mampu menikmati lingkungan alam yang sehat dan nyaman.

   c. Hubungan Sosial yang Harmonis

    Masyarakat pada masa praaksara bukanlah kelompok manusia yang hidup secara individual. Mereka hidup secara berkelompok di gua-gua. Kehidupan berkelompok juga ditunjukkan dalam upacara penguburan. Adanya upacara penguburan menunjukkan manusia pada masa praaksara mempunyai hubungan yang sangat erat satu dengan lainnya. Mereka memiliki kepercayaan yang dianut bersama-sama. Dalam praktik penguburan misalnya, masyarakat menghormati jenazah kerabat mereka dengan cara melakukan ritual penguburan. Tanpa kebersamaan hidup, praktik penguburan tidak mungkin terjadi.

    Selain ditunjukkan dengan kehidupan keberagaman, kehidupan sosial yang harmonis ditunjukkan dengan kebersamaan dalam membangun kebudayaan. Bahkan, masyarakat pada masa praaksara dapat membangun sebuah kebudayaan yang bernilai tinggi seperti punden berundak. Tanpa adanya kesadaran sosial dan kebersamaan antaranggota kelompok, mereka tidak mungkin menciptakan kebudayaan bernilai tinggi.

    Dari uraian di atas, Anda menyadari bahwa budaya masyarakat pada masa praaksara mengalami perkembangan. Kondisi tersebut diikuti dengan pewarisan kebudayaan ke generasi selanjutnya. Warisan budaya harus dijaga dan dilestarikan. Meskipun demikian, dalam mewarisi budaya kita dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini. Dengan demikian, budaya tetap dapat eksis meskipun zaman telah berganti.





Post a Comment

0 Comments