Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Indonesia pada Masa Hindu-Buddha - Proses Masuk dan Perkembangan Agama Hindu-Buddha di Indonesia

Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Indonesia pada Masa Hindu-Buddha - Proses Masuk dan Perkembangan Agama Hindu-Buddha di Indonesia

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 3
Indonesia pada Masa Hindu-Buddha


Pendalam Materi


    Masa kerajaan Hindu-Buddha merupakan salah satu periode yang cukup sulit dikaji. Diperlukan kemampuan berbahasa Sansekerta dan penguasaan aksara Pallawa untuk memahami corak kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Kesulitan seperti inilah yang menyebabkan tidak banyak sejarawan pada era modern meneliti periode kehidupan pada masa Hindu-Buddha. Bagaimana upaya menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap sejarah bangsa pada periode Hindu-Buddha? Salah satu caranya adalah mengunjungi situs peninggalan kerajaan Hindu-Buddha. Selain itu, Anda dapat mengunjungi pameran sejarah terkait peninggalan periode Hindu-Buddha yang biasanya diselenggarakan direktorat sejarah dan cagar budaya.

    Agama Hindu-Buddha tidak serta-merta berkembang pesat di Indonesia. Perlu waktu beberapa abad bagi agama Hindu-Buddha untuk dapat berkembang di Indonesia. Proses masuk, berkembang, hingga berdirinya kerajaan Hindu-Budha di Indonesia dapat Anda pelajari pada materi berikut.


A. Proses Masuk dan Perkembangan Agama Hindu-Buddha di Indonesia


    Amatilah peta pada gambar 3.1! Apa informasi yang dapat Anda peroleh dari peta tersebut? Diskusikan bersama teman Anda. Selanjutnya, kemukakan pendapat Anda secara santun. Peta kuno tersebut menunjukkan wilayah Kepulauan Indonesia. Berdasarkan peta tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kepulauan Indonesia memiliki letak strategis. Fakta ini dapat dilihat dari letak Kepulauan Indonesia di persilangan antara dua benua dan dua samudra, Letak ini menyebabkan sejak zaman kuno Kepulauan Indonesia telah menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan India dan Tiongkok.

    Pada masa perdagangan kuno sepanjang kota di pesisir Indonesia berkembang menjadi pusat perdagangan, terutama Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Pedagang yang singgah di kota-kota pesisir berasal dari dalam dan luar negeri. Pedagang dari luar negeri didominasi oleh pedagang India dan Tiongkok. Selain melakukan transaksi jual beli, mereka singgah untuk menunggu angin sekaligus mengisi perbekalan untuk melanjutkan perjalanannya. Aktivitas perdagangan tersebut berkembang menjadi interaksi kebudayaan. Interaksi tersebut tidak hanya terbatas antara para pedagang asing dan pedagang lokal, tetapi juga melibatkan penguasa setempat.

    Selama berdagang dan singgah, para pedagang India mengenalkan kebudayaannya kepada penduduk lokal. Kebudayaan tersebut menarik penduduk lokal untuk mengetahuinya. Selanjutnya, penduduk lokal mempelajari dan mengembangkan kebudayaan tersebut. Dalam perkembangannya, muncul kebudayaan kebudayaan baru hasil akulturasi kebudayaan India dan lokal seperti candi dan arca. Penduduk lokal pun tertarik dengan ajaran agama yang dibawa para pedagang India. Dari interaksi itulah, agama dan kebudayaan Hindu-Buddha berkembang di wilayah Kepulauan Indonesia.


1. Teori Kedatangan Agama Hindu-Buddha

    Kedatangan agama Hindu-Buddha di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari hubungan perdagangan. Mengapa demikian? Coba diskusikan dengan teman-teman Anda. Berdasarkan penelitian para ahli muncul beberapa teori mengenai kedatangan agama Hindu-Buddha di Indonesia. Teori yang dikemukakan para ahli tersebut didasarkan pada asumsi atas berbagai peninggalan Hindu-Buddha yang ditemukan di Indonesia. Teori apa sajakah yang menjelaskan tentang masuknya Hindu-Buddha di Indonesia? Perhatikan penjelasan berikut!

a.  Teori Ksatria

    Teori Ksatria menyatakan bahwa agama Hindu-Buddha dibawa oleh golongan prajurit (kesatria). Teori Ksatria didukung oleh lima ahli berikut.

   1)  J.L. Moens berpendapat bahwa golongan yang membawa agama Hindu-Buddha ke Indonesia adalah kaum kesatria atau golongan prajurit. Pendapat J.L. Moens dilatarbelakangi adanya kekacauan politik akibat peperangan antarkerajaan di India pada abad IV-V Masehi. Para prajurit yang kalah perang terdesak dan menyingkir ke wilayah Asia Tenggara. JL. Moens menduga banyak golongan prajurit dari India yang mendirikan kerajaan Hindu-Buddha di

   2) F.D.K. Bosch berpendapat bahwa golongan kesatria menjadi pembawa agama Hindu-Buddha Indonesia. Kondisi ini disebabkan oleh faktor berikut.

     a) Para kesatria dari India yang kalah perang meninggalkan daerahnya menuju daerah lain, termasuk ke Indonesia. Mereka berusaha menaklukkan daerah baru di Indonesia dan membentuk pemerintahan baru. Selanjutnya, mereka mengenalkan agama Hindu Buddha kepada penduduk setempat.

     b) Kekacauan politik di India menyebabkan para kesatria melarikan diri sampai wilayah Indonesia. Di tempat pelarian mereka membentuk koloni dan menyebarkan agama Hindu.

     c) Raja dan para bangsawan India sengaja datang di Indonesia untuk menyerang dan menaklukkan penduduk lokal ke Indonesia. Mereka kemudian mendirikan kerajaan dan menyebarkan agama Hindu.

   3) R.C. Majundar berpendapat bahwa munculnya kerajaan atau pengaruh Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh peranan kaum kesatria atau para prajurit India. Para kesatria diperkirakan melarikan diri dari India dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia dan wilayah Asia Tenggara.

   4) Mookerji berpendapat bahwa pengaruh Hindu-Buddha berkembang di Indonesia akibat kegiatan kolonisasi yang dilakukan golongan kesatria. Proses kolonisasi ini terjadi karena beberapa kerajaan Hindu-Buddha di India melakukan perluasan wilayah kekuasaan. Golongan kesatria ini kemudian melakukan kontak dengan penguasa lokal di Indonesia,

   5) C.C. Berg berpendapat bahwa agama Hindu-Budha di Indonesia dibawa oleh para petualang yang sebagian besar berasal dari golongan prajurit (kesatria). Pendapat ini didasarkan pada perselisihan antarsuku pada waktu itu. Kepala suku kemudian meminta bantuan kepada golongan kesatria dari India. Dalam perselisihan tersebut golongan kesatria membantu salah satu suku yang bertikai dan berhasil meraih kemenangan. Atas dasar itulah, kepala suku kemudian menikahkan golongan kesatria dengan anggota keluarga kepala suku. Pernikahan tersebut memberi jalan bagi golongan kesatria untuk menyebarkan agama Hindu-Buddha kepada keluarga wanita yang dinikahinya.

    Kekuatan teori Kesatria terletak pada fakta bahwa semangat berpetualang pada saat itu dimiliki oleh para kesatria. Meskipun demikian, teori ini menimbulkan sanggahan. Sanggahan muncul karena golongan kesatria diragukan memiliki pengetahuan agama yang cukup untuk diajarkan kepada masyarakat luas.

b. Teori Waisya

    Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar kata "waisya”? Kemukakan pendapat Anda. Teori Waisya dikemukakan oleh N.J. Krom. Menurut N.J. Krom, agama Hindu-Buddha masuk di Indonesia dibawa oleh kaum pedagang da) dari India. Pedagang India tersebut kemudian menetap di Indonesia dan menikah dengan penduduk setempat. Melalui interaksi dengan penduduk setempat, para pedagang memperkenal kan agama Hindu-Buddha. Dengan demikian, kaum pedagang memiliki peranan penting dalam proses penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia.

    Faktor yang memperkuat laut teori Waisya sebagai berikut.

   1) Teori Waisya mudah diterima karena dalam kehidupan faktor ekonomi memiliki peran sangat penting. Perdagangan merupakan salah satu kegiatan perekonomian dalam kehidupan masyarakat.

   2) Keberadaan Kampung Keling atau perkampungan para pedagang India di Indonesia. Kampung Keling terdapat di beberapa daerah di Indonesia antara lain di Jepara, Medan, dan Aceh.

    Meskipun teori Waisya memiliki bukti yang kuat, teori ini memiliki kelemahan. Kelemahan teori Waisya sebagai berikut.

   1) Kaum waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.

   2) Sebagian besar kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia terletak di pedalaman.

   3) Motif golongan waisya datang di Indonesia hanya untuk berdagang, bukan menyebarkan agama Hindu-Buddha.

   4) Meskipun terdapat perkampungan India di Indonesia, kedudukan mereka tidak berbeda dengan rakyat biasa di wilayah tersebut.

c. Teori Brahmana

    Sejarawan yang mengemukakan teori Brahmana adalah J.C. van Leur. Ia berpendapat bahwa agama Hindu masuk di Indonesia dibawa oleh kaum brahmana. Mengapa demikian? Kedatangan kaum brahmana diduga karena undangan para penguasa lokal di Indonesia yang tertarik dengan agama Hindu atau sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia. Kekuatan teori Brahmana terletak pada kemampuan dan penguasaan kaum brahmana atas ajaran Hindu dan isi kitab Weda.

d. Teori Sudra

    Teori Sudra dicetuskan oleh Von van Feber. Hanya sedikit ahli yang setuju dengan teori Sudra. Menurut teori Sudra, masuknya agama Hindu di Indonesia dibawa oleh kaum India yang berkasta sudra. Dasar yang digunakan Von van Feber dalam teori ini sebagai berikut.

   1) Kaum sudra menginginkan kehidupan lebih baik. Oleh karena itu, mereka memilih pergi ke daerah lain, termasuk Indonesia.

   2) Kaum sudra sering dianggap orang buangan. Oleh karena itu, kaum ini meninggalkan daerahnya dan pergi ke daerah lain, termasuk Indonesia untuk mendapat kedudukan lebih baik dan lebih dihargai.

e. Teori Arus Balik

    Teori arus balik (Counter-Current) dikemukakan oleh F.D.K. Bosch. Ia mengemukakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki peranan tersendiri dalam penyebaran dan pengembangan agama Hindu-Buddha. Penyebaran tersebut dilakukan oleh kaum terdidik (clerks). Siapa yang dimaksud kaum terdidik? Coba diskusikan bersama teman Anda.

    Interaksi antara penduduk Indonesia dan orang-orang India menyebabkan banyak penduduk kitab suci, sastra, dan budaya tulis. Orang-orang Indonesia tersebut kemudian mendalami agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di India. Setelah belajar di India, mereka kembali ke Indonesia. Ilmu yang diperoleh dari India diolah dan disesuaikan dengan kebudayaan masyarakat Indonesia., Oleh karena itu, agama Hindu-Buddha yang berkembang di Indonesia memiliki perbedaan dengan Indonesia tertarik belajar agama Hindu-Buddha. Penduduk Indonesia kemudian belajar dan dididik oleh orang India di tempat belajar yang disebut sangga. Mereka giat mempelajari bahasa Sanskerta, agama Hindu-Buddha yang berkembang di India.

    Bukti yang memperkuat teori arus balik adalah prasasti Nalanda. Prasasti ini menyebutkan Raja Balaputradewa dari Sriwijaya meminta kepada penguasa di India, Raja Dewapaladewa, untuk mereco membangun wihara di Nalanda sebagai tempat menuntut ilmu agama Buddha. Permintaan tersebut dikabulkan oleh Raja Dewapaladewa. Prasasti tersebut menjadi bukti adanya kaum terdidik yang mempelajari agama Buddha secara langsung di India.

    Penyebaran agama Buddha di Indonesia dilakukan dengan misi khusus, yaitu dharmaduta. Menurut para ahli, misi dharmaduta di Indonesia dilakukan pada abad penemuan arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari II Masehi. Pelaksanaan misi tersebut dibuktikan dengan perunggu di Sikendeng, Mamuju, Sulawesi Barat. Arca ini diperkirakan dibuat pada abad II Masehi. Perkiraan ini didasarkan pada gaya seni, struktur, dan bentuknya yang hampir mirip dengan arca beraliran Amarawati dari India Selatan pada abad II Masehi. Selain arca Buddha Dipangkara, penyebaran agama Buddha dibuktikan dengan penemuan berbagai arca perunggu di Jember (Jawa Timur), Bukit Siguntang (Sumatra Selatan), dan Kota Bangun (Kalimantan Timur). Arca arca tersebut diperkirakan dari abad II-V Masehi.


    Itulah kelima teori kedatangan agama Hindu-Buddha yang berkembang di Indonesia. Teori-teori tersebut memberikan pemahaman mengenai proses masuk agama Hindu-Buddha di Indonesia. Dari kelima teori tersebut, teori manakah yang paling mendukung mengenai proses masuk dan berkembangnya agama Hindu-Buddha di Indonesia? Kemukakan pendapat Anda secara santun!


2. Sumber-Sumber Kedatangan Agama Hindu-Buddha di Indonesia

    Perhatikan prasasti Canggal pada gambar di samping! Prasasti Canggal menjadi salah satu sumber kedatangan agama Hindu-Buddha di Indonesia. Prasasti Canggal merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Selain prasasti Canggal, masih terdapat beberapa sumber mengenai kedatangan agama Hindu-Buddha di Indonesia. Apa sajakah sumber-sumber tersebut? Sumber-sumber sejarah mengenai kedatangan agama Hindu-Buddha di Indonesia secara garis besar dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sumber dari dalam dan sumber dari luar negeri.

a. Sumber dari Dalam Negeri

    Sumber dari dalam negeri merupakan sumber sejarah yang berasal dari berbagai daerah di wilayah Kepulauan Indonesia. Sumber tersebut dapat menjelaskan bukti awal kedatangan agama Hindu-Buddha di Indonesia, misalnya yupa dan sejumlah prasasti tertua yang ditemukan di Indonesia. Yupa dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, prasasti-prasasti Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat, serta prasasti Canggal dari zaman Mataram Kuno di Jawa Tengah dan prasasti Dinoyo di Jawa Timur ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Penggunaan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta menunjukkan pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia berasal dari India.

b. Sumber dari Luar Negeri

    Sumber dari luar negeri merupakan sumber sejarah yang berasal dari catatan perjalanan bangsa asing. Catatan tersebut memuat berita-berita mengenai kepulauan Nusantara. Adapun sumber sumber kedatangan agama Hindu-Buddha di Indonesia dari luar negeri sebagai berikut.

   1) Sumber dari Tiongkok. Kronik-kronik Tiongkok menjelaskan sejak masa Dinasti Han, Dinasti Sung, Dinasti Yuan, dan Dinasti Ming sudah terjadi kontak dagang antara pedagang Indonesia dan Tiongkok. Keterangan ini diperkuat dengan catatan yang dibuat oleh Fa-Hsien. Dalam catatan tersebut, Fa-Hsien terdampar di To lo mo (Kerajaan Tarumanegara) selama lima bulan ketika melakukan perjalanan dari India ke Tiongkok. Selain catatan Fa-Hsien, catatan perjalanan i-Tsing menuliskan kesan tentang Shin lo fo shih atau Fo shih (Kerajaan Sriwijaya) sebagai salah satu pusat agama Buddha di Asia pada abad VII Masehi.

   2) Sumber dari Arab. Saudagar Arab menjelaskan tentang keberadaan kerajaan-kerajaan Nusantara sejak abad VI Masehi. Mereka menyebut Kerajaan Zabaq atau Sribuza untuk Sriwijaya. Raihan Al-Beruni yang menulis sebuah buku tentang India, menyebut Zabaq terletak di sebuah pulau bernama Suwandi yang berarti "Pulau Emas".

   3) Sumber dari Vietnam. Kronik Vietnam dari abad VIII Masehi mencatat serangan dari Jawa dan "Pulau-pulau Selatan" yang dilakukan pasukan Syailendra dari Sriwijaya terhadap pusat Kerajaan maritim Kerajaan Chenla di Vyadhapura, Kamboja. Berita tersebut diperkuat oleh catatan dari Champa pada abad VIII Masehi mengenai pasukan Jawa yang telah menghancurkan kuil-kuil dan berkuasa di sebagian wilayah Kamboja.

   4) Sumber dari Yunani. Claudius Ptolomeus, seorang ahli geografi dari Yunani menjelaskan bahwa kapal-kapal Alexandria di Laut Mediterania (Mesir) berlayar melalui Teluk Persia ke bandar bandar Baybaza di Cambay, India dan Maju di Kochi, India Selatan. Dari India pelayaran dilanjutkan menuju Kepulauan Aurea Chersonnesus. Di Aurea Chersonnesus kapal-kapal singgah di Barousae, Sinda, Sabadiba, dan labadium. Aerea Chersonnesus merupakan bandar dagang kuno di pantai barat Sumatra. Sementara itu, Barousae adalah Baros, Sinda adalah Sunda, Sabadiba adalah Swarnadwipa (Sumatra), dan iabadium adalah Javadwipa (Jawa).


3. Jalur Masuk Agama Hindu-Buddha

    Para ahli menduga agama Buddha lebih dahulu masuk di Indonesia daripada agama Hindu. Agama Buddha masuk di Indonesia pada abad II Masehi, sedangkan agama Hindu masuk pada abad III-IV Masehi. Masuknya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia dibawa oleh pedagang dan pendeta dari India dan Tiongkok. Agar lebih jelas, perhatikan peta berikut.

    Apa yang dapat Anda simpulkan dari peta pada gambar di atas? Peta di atas menunjukkan jalur masuknya Hindu-Budha ke wilayah Kepulauan Indonesia (Nusantara). Secara umum, jalur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Jalur Darat

    Agama Hindu-Buddha masuk di Indonesia melalui jalur darat atau yang lebih dikenal dengan sebutan jalur sutra (silk road). Adapun rute jalur sutra terbagi menjadi dua sebagai berikut.

   1) Rute jalur sutra utara yang membentang dari India ke Tibet terus ke utara sampai Tiongkok, Korea, dan Jepang.

   2) Rute jalur sutra selatan membentang dari India Utara menuju Bangladesh, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, kemudian menuju wilayah Indonesia.

b. Jalur Laut

    Masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia melalui jalur laut dilakukan dengan mengikuti rombongan kapal pedagang yang biasa berlayar di jalur India-Tiongkok. Rute ini ditempuh dengan memanfaatkan angin monsun. Rute perjalanan dimulai dari India menuju Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, dan berakhir di Indonesia.


    Itulah jalur yang digunakan oleh para penyebar agama Hindu-Buddha di Indonesia. Jalur manakah yang paling berpengaruh dalam penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia? Diskusikan bersama teman Anda. Setelah itu kemukakan hasil diskusi Anda kepada Bapak/Ibu Guru agar mendapat tanggapan.

    Masuknya budaya India ke Indonesia terjadi melalui proses yang kompleks. Meskipun demikian, masuknya Hindu-Buddha telah memberikan warna baru bagi corak kebudayaan masyarakat lokal Indonesia. Masyarakat menjadi mengenal budaya tulis dan mengakhiri masa praaksara. Selain itu, masyarakat dengan sikap selektifnya mampu menciptakan kebudayaan-kebudayaan baru melalui proses akulturasi. Berbagai dampak positif inilah yang harus senantiasa disyukuri. Sikap selektif hendaknya Anda terapkan dalam mengakses kebudayaan asing. Dengan selektif, kebudayaan lokal akan tetap lestari dan tidak tergerus kebudayaan asing.





Post a Comment

0 Comments