Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara - Perkembangan Kehidupan Masyarakat pada Masa Praaksara

Sejarah Indonesia X - Semester 1 - Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara - Perkembangan Kehidupan Masyarakat pada Masa Praaksara

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas X Semester I




BAB 2
Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara


Pendalam Materi


 D. Perkembangan Kehidupan Masyarakat pada Masa Praaksara


    Coba amati gambar di samping! Pada gambar tampak cara manusia pada masa praaksara memenuhi kebutuhan nya melalui kegiatan berburu. Perkembangan kehidupan masyarakat pada masa praaksara dapat dilihat dari beberapa periode kehidupan, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan; masa bercocok tanam dan beternak; serta masa perundagian. Tiap-tiap periode terlihat adanya per kembangan kehidupan masyarakat, baik dalam bidang sosial, budaya, maupun ekonomi. Agar lebih jelas perhatikan uraian berikut.


1. Kehidupan Manusia pada Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

    Masa berburu dan mengumpulkan makanan merupakan tahap awal kehidupan manusia. Salah satu ciri kehidupan pada masa ini adalah tingginya ketergantungan manusia terhadap alam. Pada masa ini manusia menghabiskan 90% waktu hidupnya dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Selain berburu, manusia mengumpulkan buah-buahan, umbi-umbian, dan menangkap ikan.

a. Kehidupan Sosial Budaya

    Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan kehidupan manusia purba masih sederhana. Pada masa ini manusia purba sudah hidup secara berkelompok meskipun dalam jumlah relatif kecil sekira 10-15 orang. Dengan hidup berkelompok, manusia purba memiliki rasa aman dan mampu menghadapi bahaya dari serangan binatang buas. Selain itu, mereka lebih mudah mendapatkan makanan. Mereka juga telah mengenal pembagian peran dan tugas dalam kelompok, Tugas berburu binatang dilakukan oleh kaum laki-laki, sedangkan kaum perempuan bertugas mengumpulkan makanan, mengurus anak, dan mengajari anaknya meramu makanan.

    Hasil kebudayaan peninggalan masa berburu dan mengumpulkan makanan sebagian besar berupa alat-alat batu yang masih sederhana.
Beberapa peralatan tersebut seperti berikut.

   1) Kapak perimbas memiliki permukaan meruncing pada salah satu sisinya dan kulit batu masih melekat pada bagian pangkal. Kapak perimbas digunakan untuk merimbas kayu, memecah tulang, dan senjata.

   2) Kapak genggam berupa batu yang dibentuk menjadi semacam kapak tetapi belum bertangkai. Peralatan ini digunakan dengan cara digenggam. Kapak genggam digunakan untuk mengorek umbi-umbian, memotong, dan menguliti daging.

   3) Kapak penetak memiliki bentuk mirip dengan kapak perimbas, tetapi ukurannya lebih besar. Alat ini berfungsi untuk membelah kayu, pohon, dan bambu.

   4) Alat-alat serpih atau flakes merupakan batu pecahan sisa pembuatan kapak genggam yang dibentuk menjadi tajam. Alat ini misalnya pisau (memotong daging dan mengupas umbi-umbian), gurdi (membuat lubang pada kulit), dan tombak (menusuk binatang buruan).

b. Kehidupan Ekonomi

    Kehidupan ekonomi manusia pada masa berburu dan mengumpulkan makanan erat hubungannya dengan aktivitas berburu binatang dan mengumpulkan umbi-umbian serta dedaunan untuk dimakan. Manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil, sering berpindah (nomaden), dan tinggal di gua-gua karang sekitar sungai, danau, atau pantai. Biasanya mereka akan lebih lama tinggal di daerah yang mengandung cukup banyak makanan. Dengan anggota kelompok yang kecil, manusia pada masa praaksara mudah memenuhi sebagian besar kebutuhan pokoknya. Apabila di daerah tersebut binatang buruan tinggal sedikit, mereka akan berpindah ke tempat lain.


2. Kehidupan Manusia pada Masa Bercocok Tanam dan Beternak

    Masa bercocok tanam dan beternak merupakan tahapan yang menandai perkembangan kemampuan berpikir manusia. Manusia pada masa ini sudah menetap di suatu wilayah. Dalam kehidupan menetap manusia memenuhi kebutuhan dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis-jenis tanaman yang semula tumbuh liar. Dari pola kehidupan bercocok tanam ini manusia sudah dapat menguasai lingkungan alam.

a. Kehidupan Sosial Budaya

    Kehidupan sosial manusia purba pada masa bercocok tanam mengalami perkembangan pesat. Mereka sudah memiliki tempat tinggal tetap dengan cara membangun permukiman yang biasanya berada di sekitar sumber air, seperti tepi sungai, danau, dan pantai. Pola hidup menetap menjadikan hubungan sosial dalam kelompok semakin erat. Kondisi ini menunjukkan pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan.

    Pada masa ini diperkirakan telah muncul sistem masyarakat yang dipimpin oleh seorang kepala suku. Sosok kepala suku merupakan orang yang sangat dipercaya dan ditaati untuk memimpin sebuah kelompok masyarakat. Pemilihan kepala suku biasanya dilakukan dengan menggunakan sistem primus interpares, yaitu orang yang utama atau paling berpengaruh. Syarat-syarat untuk bercocok tanam dan beternak.menjadi kepala suku antara lain harus memiliki kesaktian, kewibawaan, dan jiwa keperwiraan.

    Pada masa ini manusia berhasil membuat perlengkapan pertanian dan perkakas rumah tangga yang lebih efektif dan efisien. Perlengkapan tersebut terbuat dari batu yang sudah diasah sehingga memiliki permukaan halus dan tajam. Berikut beberapa perlengkapan yang dihasilkan pada masa bercocok tanam dan berternak.

   1) Beliung persegi menyerupai kapak berbentuk persegi. Bagian yang tajam dari alat ini diasah miring. Beliung persegi digunakan sebagai kapak untuk memotong kayu dan cangkul untuk mengolah tanah.

   2) Mata panah digunakan untuk keperluan berburu dan menangkap ikan. Mata panah yang digunakan untuk menangkap ikan biasanya terbuat dari tulang dan dibentuk bergerigi.

   3) Kapak lonjong memiliki penampang berbentuk lonjong. Bagian yang tajam diasah dari dua sisi dan diberi tangkai seperti kapak penebang kayu sekarang.

   4) Gurdi dan pisau digunakan untuk memotong dan melubangi kayu atau kulit. Alat-alat ini ditemukan di kawasan tepi danau.

   5) Perhiasan terbuat dari batu kalsedon yang biasanya dibentuk menjadi gelang, kalung, dan anting-anting.

   6) Gerabah dibuat dari campuran tanah liat dan pasir. Barang-barang gerabah yang dihasilkan antara lain berupa periuk, cawan, piring, dan pedupaan.


b.  Kehidupan Ekonomi

    Salah satu indikator kemajuan pada masa bercocok tanam dan beternak adalah sistem pertanian. Sistem pertanian yang dikembangkan oleh manusia pada masa ini adalah berhuma atau ladang berpindah. Apabila ladang yang ditanami mulai berkurang kesuburannya, mereka akan meninggalkan dan mulai membuka ladang baru di tempat lain. Alat-alat yang digunakan pada masa bercocok tanam masih terbuat dari batu, tulang binatang, tanduk, dan kayu. Selain bercocok tanam, manusia pada masa ini memiara hewan ternak seperti kuda, anjing, kerbau, sapi, kambing, dan babi. Kehidupan bercocok tanam dan beternak disebut food producing atau menghasilkan makanan.

    Pada masa bercocok tanam dan beternak, manusia mulai mengenal aktivitas ekonomi perdagangan dengan sistem barter. Sistem ini dilakukan dengan cara tukar-menukar barang. Meskipun masih primitif, aktivitas barter dapat membantu manusia memenuhi kebutuhan sehari hari, terutama kebutuhan terhadap barang-barang yang tidak dihasilkan di daerahnya. Barang barang yang dipertukarkan tidak hanya hasil pertanian, tetapi hasil industri rumah tangga seperti gerabah, perhiasan, ikan, dan garam. Aktivitas barter ini mendorong terbentuknya kelompok pedagang dan pasar tradisional.


3. Kehidupan Manusia pada Masa Perundagian

    Masa perundagian merupakan masa dengan tingkat kebudayaan tertinggi pada masa praaksara. Salah satu faktor penyebab kemajuan pada masa perundagian adalah terjadinya interaksi dengan orang lain di luar kelompoknya. Melalui interaksi ini terjadi proses transfer teknologi.

a. Kehidupan Sosial Budaya

    Masa perundagian merupakan tonggak sejarah kemunculan sistem pemerintahan sederhana. Pada masa ini masyarakat mulai membentuk kelompok lebih besar dengan penguasaan terhadap sebuah wilayah. Kelompok masyarakat tersebut dipimpin oleh seorang kepala suku terpandang yang bergelar datu atau datuk. Ia memiliki kekuasaan mutlak di wilayahnya. Oleh karena itu, seluruh masyarakat di wilayah tersebut harus patuh kepadanya.

    Pada masa perundagian masyarakat sudah mengenal sistem pembagian kerja berdasarkan kemampuan tiap-tiap individu. Golongan undagi memiliki kedudukan terpandang dalam masyarakat. Mereka dapat membuat barang-barang logam yang indah sebagai simbol status sosial. Barang barang yang dihasilkan sebagai berikut.

   1) Nekara perunggu merupakan genderang perunggu dengan membran satu. Alat ini berfungsi sebagai sarana upacara seperti upacara memanggil roh leluhur dan upacara memanggil hujan.

   2) Moko merupakan nekara tipe pejeng dengan bentuk dasarnya lonjong seperti genderang berbagai ukuran. Alat ini berfungsi sebagai perlengkapan upacara dan tari-tarian adat. Selain itu, moko digunakan sebagai alat tukar dan simbol status sosial.

   3) Kapak corong memiliki bentuk yang mirip dengan sepatu karena bercorong. Kapak corong digunakan untuk memotong kayu.

   4) Kapak perunggu bentuknya beraneka ragam seperti pahat dan jantung. Kapak perunggu berfungsi sebagai alat upacara dan perkakas untuk bekerja.

   5) Arca perunggu merupakan benda berbentuk manusia dan binatang.

   6) Bejana perunggu berbentuk seperti kepis (wadah ikan para pemancing) dengan pola hias pilin berganda di sisi luar.

   7) Perhiasan dan manik-manik bentuknya berupa gelang tangan, gelang kaki, anting-anting, kalung, bandul, dan cincin.

   8) Senjata berwujud tombak dan pisau atau belati.


b. Kehidupan Ekonomi

    Pada masa perundagian kegiatan ekonomi masyarakat sudah semakin kompleks. Kegiatan tersebut terdiri atas pertanian, peternakan, pertukangan, dan perdagangan. Kegiatan perdagangan semakin sering dilakukan meskipun masih menggunakan metode barter. Masyarakat pada masa perundagian juga sudah mulai melakukan pertanian menetap yang berbasis pada sawah. Pertanian sawah merupakan wujud kebudayaan pertanian yang tinggi. Selain memerlukan pengetahuan tentang iklim, pertanian sawah membutuhkan pengelolaan tanah dan irigasi yang baik.


    Meskipun dalam tingkat sederhana, manusia pada masa praaksara telah memiliki kebudayaan. Kebudayaan ini tumbuh karena manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dan terus mengembangkan kebudayaan dengan memanfaatkan alam. Kebudayaan tersebut dapat membantu manusia dalam menjalani kehidupan dengan baik. Oleh karena itu, sebagai generasi modern Anda hendaknya selalu mengasah kemampuan berpikir agar bisa menciptakan kebudayaan yang lebih baik lagi.





Post a Comment

0 Comments