Biologi XI - Semester 3 - Jaringan Hewan - Struktur, Letak, dan Fungsi Jaringan Hewan

Biologi XI - Semester 3 - Jaringan Hewan - Struktur, Letak, dan Fungsi Jaringan Hewan

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 3
Jaringan Hewan


Pendalam Materi


    Berdasarkan kegiatan apersepsi di depan, Anda sudah sedikit mengetahui tentang stem cell. Stem cell memanfaatkan sel atau jaringan yang terdapat pada tubuh. Misalnya dalam pembuatan Lab-grown Meat membutuhkan jaringan otot sebagai sel punca. Jaringan otot tersusun atas kumpulan sel-sel otot. Jaringan otot berfungsi untuk melakukan pergerakan dalam organ tubuh karena memiliki serabut kotraktil berupa filamen aktin dan miosin. Selain jaringan otot terdapat beberapa jaringan lain yang menyusun tubuh hewan dan manusia. Setiap jaringan penyusun tubuh terbentuk atas jenis sel yang berbeda sehingga memiliki struktur dan fungsi yang berbeda pula. Apa saja jaringan penyusun tubuh yang lainnya? Bagaimana struktur dan fungsi dari beberapa jaringan tersebut? Anda akan mengetahui jawabannya setelah membaca materi tentang struktur, letak, dan fungsi jaringan hewan.


Struktur, Letak, dan Fungsi Jaringan Hewan


    Setiap jaringan penyusun tubuh memiliki struktur dan fungsi tertentu. Jaringan penyusun tubuh manusia memiliki persamaan karakteristik dengan jaringan pada tubuh hewan. Apa yang dimaksud dengan jaringan? Apa saja jaringan yang menyusun tubuh manusia? Apa fungsi jaringan-jaringan tersebut? Untuk mengetahuinya, lakukan terlebih dahulu kegiatan berikut.

    Berdasarkan kegiatan tersebut, Anda telah mengetahui bahwa tubuh manusia terdiri atas berbagai macam jaringan. Jaringan merupakan sekumpulan sel yang memiliki struktur yang sama sehingga dapat melaksanakan tugas tertentu. Jaringan yang berkelompok dan bekerja sama dalam melaksanakan fungsi tertentu akan membentuk suatu organ, misalnya organ lambung dan organ ginjal Untuk mempelajari lebih detail mengenai berbagai macam jaringan, simaklah uraian materi berikut dengan cermat.

1. Jaringan Penyusun Organ pada Hewan

    Jaringan penyusun tubuh hewan dibedakan menjadi empat yaitu jaringan epitel, jaringan pengikat jaringan otot, dan jaringan saraf.

a. Jaringan Epitel

    Jaringan epitel tersusun atas sel-sel yang saling terikat oleh zat pengikat yang kuat sehingga hampir tidak ada ruang antarsel Jaringan epitel merupakan jaringan penutup permukaan tubuh, baik permukaan tubuh sebelah luar maupun sebelah dalam. Permukaan tubuh sebelah luar yang memiliki jaringan epitel adalah kulit. Sementara itu, permukaan sebelah dalam tubuh yang tersusun atas jaringan epitel antara lain permukaan dalam usus dan pembuluh darah. Fungsi jaringan epitel sebagai berikut.

      1) Jaringan epitel di bagian luar tubuh dan permukaan luar tubuh berfungsi sebagai pelindung tubuh dari luka akibat gangguan mekanis, serangan mikroorganisme patogen, dan kehilangan cairan.
      2) Jaringan epitel yang terdapat di permukaan dalam organ tubuh berfungsi dalam proses absorpsi dan proteksi.
      3) Sebagian jaringan epitel berfungsi sebagai kelenjar.

    Jaringan epitel dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk dan jumlah lapisan sel serta berdasarkan struktur dan fungsinya.

1) Jaringan Epitel Berdasarkan Bentuk dan Jumlah Lapisan Sel

    Berdasarkan bentuknya, jaringan epitel dibedakan menjadi bentuk pipih, kubus, dan silindris. Adapun berdasarkan jumlah lapisannya, jaringan epitel dibedakan menjadi epitel simpleks dan epitel kompleks.

a) Jaringan Epitel Simpleks

    Jaringan epitel simpleks tersusun atas satu lapis sel. Perhatikan jenis-jenis jaringan epitel simpleks beserta letaknya pada tabel.

b) Jaringan Epitel Kompleks

    Jaringan epitel kompleks tersusun atas beberapa lapisan sel Lapisan sel terbawah yang selalu membelah diri untuk mengganti sel-sel permukaan yang rusak disebut lapisan germinativa. Jenis-jenis jaringan epitel kompleks dijelaskan dalam Tabel 3.2.

2) Jaringan Epitel Berdasarkan Struktur dan Fungsi

    Berdasarkan struktur dan fungsinya, jaringan epitel dibagi menjadi dua yaitu jaringan epitel kelenjar dan epitel penutup.

a) Jaringan Epitel Kelenjar

    Jaringan ini terdapat pada kelenjar-kelenjar yang berfungsi dalam pembuatan, penyimpanan, dan sekresi zat-zat kimia. Jaringan epitel kelenjar dibagi menjadi dua yaitu kelenjar eksokrin dan kelenjar endokrin.

b) Jaringan Epitel Penutup

    Jaringan epitel penutup berfungsi melapisi permukaan tubuh dan jaringan lainnya. Jaringan epitel penutup terdapat di permukaan tubuh, permukaan organ, melapisi rongga, atau merupakan lapisan di sebelah dalam dari saluran yang ada pada tubuh misalnya dinding sebelah dalam saluran pencernaan dan pembuluh darah.

b. Jaringan Pengikat

    Jaringan pengikat jaringan penyambung) merupakan jaringan yang berhubungan dengan jaringan lainnya. Jaringan ini terbentuk dari perkembangan lapisan mesoderma embrio. Ciri-ciri jaringan pengikat di antaranya letak sel-sel penyusunnya berpencar-pencar dan jika berhubungan hanya pada ujung-ujung protoplasmanya. Adapun fungsi jaringan pengikat yaitu melekatkan suatu jaringan dengan jaringan ain, membungkus organ-organ, mengisi rongga di antara organ-organ, dan menghasilkan imunitas.

1) Komponen Jaringan Pengikat

    Pada dasarnya, jaringan pengikat tersusun atas matriks dan sel-sel penyusun jaringan pengikat. Matriks terdiri atas beberapa macam serabut dan bahan dasar. Adapun sel-sel penyusun jaringan pengikat yaitu fibrobas, makrofag, sel mast, sel lemak, dan leukosit. Untuk mengetahui penjelasan dari komponen penyusun jaringan ikat, Anda dapat memindai QR code berikut.

2) Jenis-Jenis Jaringan Pengikat

    Berdasarkan struktur dan fungsinya, jenis jaringan pengikat dapat dikelompokkan menjadi jaringan pengikat biasa dan jaringan pengikat dengan sifat khusus.

a) Jaringan Pengikat Biasa

    Jaringan pengikat biasa dibedakan menjadi jaringan pengikat longgar dan jaringan pengikat padat.

(1) Jaringan Pengikat Longgar

    Jaringan pengikat longgar memiliki susunan serat-serat yang longgar. Matriksnya berupa cairan lendir (mucus). Pada matriks terdapat berkas serabut kolagen yang fleksibel, tetapi tidak elastis. Struktur jaringan pengikat longgar dapat Anda amati pada gambar berikut.

    Jaringan ini terdapat di sekitar pembuluh darah, saraf, dan organ dalam tubuh. Jaringan pengikat longgar berfungsi sebagai medium penyokong, pengisi ruang di antara organ, mengelilingi elemen-elemen jaringan lain, dan menyediakan nutrisi bagi elemen jaringan lain yang diselubunginya. Contoh jaringan pengikat longgar adalah jaringan lemak atau jaringan adiposa yang terdapat pada lapisan lemak di bawah kulit.

(2) Jaringan Pengikat Padat

    Jaringan pengikat padat tersusun atas serat yang Nukleus fibroblas Fibroblast Serabut kolagen strukturnya padat terutama serabut kolagen padat.

    Jaringan pengikat padat dibedakan menjadi dua yaitu jaringan pengikat padat teratur dan jaringan pengikat padat tidak teratur. Jaringan pengikat padat teratur memiliki berkas kolagen yang tersusun teratur ke satu arah (contoh pada tendon). Jaringan pengikat padat tidak teratur memiliki berkas kolagen yang menyebar dan membentuk anyaman kasar (contoh pada lapisan di bawah kulit). Perhatikan Gambar 3.4.

b) Jaringan Pengikat dengan Sifat Khusus

    Jaringan ini mempunyai fungsi khusus, misalnya menunjang jaringan lunak dan membentuk sel-sel darah. Jaringan pengikat dengan sifat khusus terdiri atas jaringan tulang rawan (kartilago), jaringan tulang keras (osteon). jaringan darah, dan jaringan limfa.

(1) Jaringan Tulang Rawan (Kartilago)

    Jaringan ini merupakan spesialisasi dari jaringan pengikat berserabut tebal dan matriks lentur sehingga tulang rawan bersifat kuat dan lentur. Tulang rawan berfungsi sebagai rangka tubuh pada awal embrio, menunjang jaringan lunak dan organ dalam, serta melicinkan permukaan tulang dan sendi. Matriks jaringan tulang rawan terdiri atas kondrin. Jaringan tulang rawan tersusun atas sel-sel tulang rawan yang disebut kondrosit. Sel kondrosit terletak di dalam rongga kecil yang disebut lakuna.

    Berdasarkan kandungan matriksnya, jaringan tulang rawan dibagi menjadi kartilago hialin, kartilago fibrosa, dan kartilago elastis. Ciri-ciri ketiga macam jaringan tulang rawan tersebut dapat Anda simak pada Tabel 3.3.

(2) Jaringan Tulang Keras (Osteon)

    Jaringan ini merupakan jaringan pengikat yang mengandung mineral Jaringan tulang keras tersusun atas sel-sel tulang yang disebut osteosit. Osteosit dibentuk dari sel induk tulang yang disebut osteoblas. Antara osteosit satu dengan yang lain dihubungkan oleh kanalikuli. Tulang keras bersifat lebih keras dibandingkan dengan tulang rawan karena matriks osteoblas tersusun atas kalsium fosfat. Endapan garam mineral menyusun dan melingkari bagian pusat tulang membentuk lamela. Pada lamela terdapat lakuna yang berisi osteosit.

    Berdasarkan susunan matriksnya, jaringan tulang dibedakan menjadi tulang keras (tulang kompak) dan tulang berongga (tulang spons). Perhatikan Gambar 3.5.

(a) Tulang keras (tulang kompak)

    Tulang keras memiliki matriks yang susunannya rapat. Pada tulang keras terdapat sistem Havers (Gambar 3.6) yang terdiri atas 4-20 lamela yang tersusun konsentris mengelilingi saluran Havers. Saluran Havers mengandung pembuluh darah dan saraf sebagai penyuplai nutrisi tulang. Di antara dua saluran Havers dihubungkan oleh saluran Volkman. Di sekeliling sistem Havers terdapat lamela. Pada lamela terdapat osteosit yang menempati lakuna.

(b) Tulang berongga (tulang spons)

    Tulang spons memiliki susunan matriks longgar atau berongga. Pada tulang spons tidak terdapat sistem Havers. Tulang spons terdiri atas trabekula tulang yang saling berhubungan satu dengan lainnya.

(3) Jaringan Darah

    Jaringan darah terdiri atas substansi cair dan substansi padat. Substansi cair disebut plasma darah, sedangkan substansi padat berupa sel-sel darah. Tipe sel-sel darah dibedakan menjadi sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah (trombosit). Secara umum sel-sel darah dibentuk dalam sumsum tulang, kecuali sel darah putih (limfosit dan monosit) dibentuk dalam kelenjar limfa. Substansi jaringan darah tersebut mempunyai fungsi sebagai berikut.
(a) Eritrosit, berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan karbon dioksida dalam darah.
(b) Leukosit, berfungsi sebagai pelindung terhadap benda asing yang masuk ke tubuh.
(c) Trombosit berfungsi dalam proses pembekuan darah.
(d) Plasma darah, berfungsi sebagai pengangkut sari makanan dan hormon ke bagian tubuh yang memerlukan.

(4) Jaringan Limfa (Jaringan Getah Bening)

    Limfa merupakan suatu cairan yang dikumpulkan dari berbagai jaringan dan kembali ke aliran darah. Komponen seluler dalam cairan limfa berupa limfosit dan granulosit (neutrofil, eosinofil, dan basofil). Cairan dalam limfa mengalir dalam saluran yang disebut pembuluh limfa yang berada sejajar dengan pembuluh vena darah. Limfa berfungsi mengangkut cairan jaringan, protein, lemak, dan zat-zat lain dari jaringan ke sistem peredaran.

c. Jaringan Otot

    Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot. Jaringan otot memiliki kemampuan berkontraksi sehingga berfungsi melakukan pergerakan pada organ tubuh atau bagian tubuh. Jaringan otot dapat berkontraksi karena adanya serabut kontraktil yang tersusun atas filamen aktin dan miosin. Jaringan otot dibagi menjadi tiga jenis yaitu otot polos, otot lurik (otot rangka), dan otot jantung. Perbedaan antara ketiga jaringan otot tersebut dapat Anda simak dalam Tabel 3.4.

d. Jaringan Saraf

    Jaringan saraf terdiri atas sel-sel saraf yang disebut neu ron. Neuron berfungsi merespons perubahan lingkungan, membawa impuls-impuls saraf ke pusat saraf atau sebaliknya, dan bereaksi aktif terhadap rangsang. Neuron mendapat suplai makanan melalui sel neuroglia yang menyelubunginya. Neuron terdiri atas badan sel saraf, neurit dan dendrit.
1) Badan sel saraf mengandung inti sel dan neuroplasma.
2) Neurit atau akson berfungsi membawa impuls meninggalkan badan sel saraf.
3) Dendrit berfungsi membawa impuls ke badan sel saraf.

    Akson dikelilingi oleh sel Schwann. Akson diselubungi oleh selaput neurilema. Sebelah dalam neurilema terdapat selubung mielin yang mengandung fosfolipid. Bagian akson yang tidak tertutup oleh selubung mielin disebut nodus Ranvier. Titik pertemuan antara ujung akson yang satu dengan ujung akson yang lain disebut sinapsis. Sinapsis ber lain dengan cara mengeluarkan neurotransmiter.

    Berdasarkan fungsinya, neuron dibedakan menjadi tig ron eferen. Perhatikan Tabel 3.5 berikut.

2. Teknologi yang Berkaitan dengan Jaringan Hewan

    Pemahaman mengenai sel dan jaringan hewan sangat penting dalam penemuan berbagai macam teknologi, misalnya teknologi stem cell. Stem cell dalam bahasa Indonesia disebut juga sel batang, sel punca, atau sel induk. Sel punca adalah sel belum terspesialisasi yang memiliki kemampuan membelah secara terus-menerus dan memperbarui dirinya sendiri serta berkembang menjadi jenis-jenis sel yang spesifik. Kemampuan tersebut memungkinkan sel punca menjadi sistem perbaikan tubuh dengan cara menyediakan sel-sel baru untuk mengganti sel-sel yang rusak akibat penyakit. Adanya teknologi stem cell dalam terapi pengobatan suatu jenis penyakit dapat mengurangi penggunaan obat yang mengandung zat kimia.

    Berdasarkan kemampuannya untuk berdiferensiasi, stem cell dibagi menjadi beberapa jenis yaitu totipoten, pluripoten, multipoten, dan unipoten.

      a. Totipoten adalah sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel misalnya zigot dan morula. Sel-sel ini merupakan sel embrionik awal yang mempunyai kemampuan untuk membentuk berbagai jenis sel termasuk se-sel yang menyusun plasenta dan tali pusat.
      b. Pluripoten adalah sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi tiga lapisan germinal (ektoderm, me mesoderm, dan endoderm), tetapi tidak dapat menjadi jaringan ekstra embrionik seperti plasenta dan tali pusat. Contohnya sel induk embrio (embryonic stem cell).
      c. Multipoten adalah sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi jenis sel tertentu yang tidak jauh berbeda dari sel induk. Sebagai contoh yaitu sel induk hematopoietik yang terdapat pada sumsum tulang. Sel induk ini mempunyai kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel yang terdapat di dalam darah seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit. Contoh lainnya sel induk saraf yang mempunyai kemampuan berdiferensiasi menjadi sel saraf dan sel glia.
      d. Unipoten adalah sel induk yang hanya dapat berdiferensiasi menjadi satu jenis sel. Contohnya sel eritrosit progenitor hanya mampu berdiferensiasi menjadi sel darah merah.

    Berdasarkan asal jaringannya, ada dua macam stem cell yaitu embryonic stem cell dan adult stem cell.

a. Embryonic Stem Cell (Sel Induk Embrio)

    Embryonic stem cell adalah sel induk yang diperoleh dari embrio pada fase blastosit (5-7 hari setelah pembuahan). Pada fase blastosit, massa sel bagian dalam mengelompok dan mengandung sel sel embrionik. Sel-sel tersebut mampu berkembang dengan baik dalam media kultur optimal Oleh karena itu, sel-sel embrionik dapat diarahkan menjadi semua jenis sel yang dijumpai pada orang dewasa, seperti sel-sel darah, sel-sel otot, sel-sel hati, dan sel-sel ginjal.

    Sel induk embrio mempunyai sifat-sifat berikut.

      1) Pluripoten, artinya stem cell ini mempunyai kemampuan berdiferensiasi menjadi sel-sel yang merupakan turunan dari tiga lapisan germinal, tetapi tidak dapat membentuk membran embrio (tali pusat dan plasenta).
      2) Immortal artinya dapat berumur panjang sehingga dapat memperbanyak diri ratusan kali pada media kultur.
      3) Mempunyai kariotipe yang normal
      4) Dapat bersifat tumorigenik, artinya setiap kontaminasi dengan sel yang tidak berdiferensiasi dapat menimbulkan kanker.
      5) Bersifat alogenik, artinya berpotensi menimbulkan terjadinya penolakan imunitas. Untuk mencegah terjadinya reaksi penolakan jaringan dapat digunakan metode transfer inti sel somatik atau terapi kloning

b. Adult Stem Cell (Sel Induk Dewasa)

    Sel induk dewasa merupakan sel induk atau sel punca yang diperoleh dari tubuh orang yang bersangkutan. Sel induk dewasa ditemukan di antara sel-sel lain yang telah berdiferensiasi dalam suatu jaringan yang telah mengalami maturasi. Dengan kata lain, sel induk dewasa merupakan sekelompok sel yang belum berdiferensiasi bahkan terkadang ditemukan dalam keadaan inaktif pada suatu jaringan yang telah memiliki fungsi spesifik dalam tubuh individu. Jadi, pada dasarnya semua orang memiliki sel induk dalam tubuhnya masing-masing

    Sel induk dewasa memiliki karakteristik sebagai berikut:

      1) Dapat berproliferasi dalam periode yang panjang untuk memperbarui diri.
      2) Dapat berdiferensiasi untuk menghasilkan sel-sel khusus yang mempunyai karakteristik morfologi dan fungsi spesial
      3) Sumber utama sel induk dewasa yang terdapat pada manusia yaitu sumsum tulang, jaringan lemak, dan darah dari plasenta (tali pusat).

    Stem cell sangat bermanfaat dalam pengobatan suatu penyakit. Sebagai contoh dahm pengobatan penyakit parkinson. Penyakit parkinson ditandai dengan kematian neuron-neuron nigra striatal (neuron- neuron dopaminergik). Neuron-neuron dopamin berfungsi dalam gerakan tubuh. Oleh karena itu, kematian neuron dopamin sangat memengaruhi dalam pergerakan tubuh. Melalui transplantasi stem cell, diharapkan dapat mengganti neuron dopamin yang mati dan mengurangi gejala penyakit parkinson.

    Anda telah mengetahui bahwa stem cell dapat diperoleh dari embryonic stem cell dan adult stem cell. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai bagian tubuh yang dapat menghasilkan adult stem cell, lakukan kegiatan berikut.





Post a Comment

0 Comments