Biologi XI - Semester 3 - Sistem Pencernaan Manusia - Struktur dan Fungsi Sistem Pencernaan

Biologi XI - Semester 3 - Sistem Pencernaan Manusia - Struktur dan Fungsi Sistem Pencernaan

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 6
Sistem Pencernaan Manusia


Pendalam Materi


    Berdasarkan apersepsi di depan, Anda telah mengenal salah satu teknologi yang digunakan untuk mendiagnosis adanya gangguan pada saluran pencernaan. Saluran pencernaan merupakan saluran yang sangat panjang meliputi mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus. Dalam setiap saluran pencernaan tersebut terjadi proses pencernaan yang berbeda-beda. Zat makanan yang kita konsumsi akan mengalami proses pencernaan menjadi sari-sari makanan yang kemudian diserap oleh tubuh. Zat makanan apa saja yang diperlukan oleh tubuh? Bagaimana mekanisme pencernaan tersebut? Nah, dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh, organ-organ pencernaan, dan gangguan pada sistem pencernaan. Anda juga akan mempelajari mengenai jenis-jenis teknologi pengolahan pangan.


B. Struktur dan Fungsi Sistem Pencernaan


    Di dalam sistem pencernaan terjadi proses pencernaan makanan. Proses pencernaan makanan adalah proses pemecahan makanan menjadi molekul sederhana. Proses pencernaan melibatkan organ-organ pencernaan dan kelenjar-kelenjar pencernaan. Satu kesatuan antara proses pencernaan, organ-organ pencernaan, serta kelenjarnya membentuk sistem pencernaan. Bagaimana proses pencernaan makanan yang berlangsung di dalam saluran pencernaan makanan? Nah, untuk mengawali pemahaman Anda lakukan terlebih dahulu kegiatan berikut.

    Berdasarkan kegiatan tersebut Anda telah mengetahui bahwa proses pencernaan manusia dibedakan menjadi pencernaan mekanis dan kimiawi. Pencernaan mekanis yaitu pengolahan makanan dari bentuk kasar menjadi bentuk halus atau kecil dengan bantuan gerakan alat-alat pencernaan, seperti gigi dan lambung. Pada pencernaan mekanis tidak terjadi perubahan susunan molekul bahan makanan yang dicerna. Pencernaan kimiawi yaitu pelarutan dan pemecahan makanan oleh enzim-enzim pencernaan dengan mengubah makanan yang bermolekul besar menjadi molekul yang berukuran kecil Proses pencernaan makanan pada manusia melibatkan alat-alat pencernaan. Alat-alat pencernaan manusia terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus. Kelenjar pencernaan menghasilkan enzim-enzim yang dibutuhkan dalam proses pencernaan. Kelenjar pencernaan terdapat di mulut, lambung, usus halus, pankreas, dan hati.


1. Organ-organ Pencernaan

a. Mulut

    Makanan masuk pertama kali melalui mulut. Di dalam mulut terjadi pencernaan makanan secara mekanis dan kimiawi. Di dalam mulut terdapat beberapa alat yang berperan dalam proses pencernaan yaitu gigi, lidah, dan kelenjar ludah.

1) Gigi

    Gigi berfungsi sebagai alat pencernaan mekanis karena membantu memotong makanan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil Hal ini akan membantu enzim-enzim pencernaan agar dapat mencerna makanan lebih efisien dan cepat.

    Gigi manusia mengalami perubahan selama masa pertumbuhan dan perkembangan, mulai dari gigi susu menjadi gigi tetap (permanen). Gigi pertama tumbuh pada bayi yang berusia sekitar 6 bulan. Gigi pertama ini disebut gigi susu (dens lakteus). Pada anak berusia sekitar 6 tahun, gigi berjumlah 20 yang terdiri atas 8 gigi seri, 4 gigi taring, dan 8 gigi geraham depan. Gigi susu ini akan tanggal dan digantikan oleh gigi tetap. Orang dewasa mempunyai 32 gigi tetap yang terdiri atas 8 gigi seri, 4 gigi taring. 8 gigi geraham depan, dan 12 gigi geraham belakang .

    Berdasarkan bentuknya, gigi manusia terdiri atas gigi seri, gigi taring, gigi geraham depan, dan gigi geraham belakang Gigi seri (insisivus) berfungsi untuk memotong makanan. Gigi taring (caninus) berfungsi untuk mengoyak dan merobek makanan. Gigi geraham (premolar dan molar) berfungsi untuk mengunyah makanan. Perhatikan Gambar 6.4 dan Gambar 6.5. Struktur gigi terdiri atas tiga bagian yaitu mahkota gigi, leher gigi, dan akar gigi.

      a) Mahkota gigi (corona) merupakan bagian yang tampak dari luar.
      b) Leher gigi (colum) merupakan bagian yang terlindung oleh gusi.
      c) Akar gigi (radix) merupakan bagian gigi yang tertanam di dalam rahang.

    Bagian terluar gigi dilapisi email yang merupakan struktur terkeras dari tubuh. Di bawah lapisan email terdapat tulang gigi (dentin). Bagian dentin yang masuk ke rahang dilapisi semen. Di bagian dalam gigi terdapat sumsum gigi (pulpa) yang berisi pembuluh kapiler, arteri, vena, dan jaringan saraf.

2) Lidah

    Dalam sistem pencernaan, lidah berfungsi membantu mencampur dan menelan makanan, mempertahankan makanan agar berada di antara gigi-gigi atas dan bawah saat makanan dikunyah, serta sebagai alat pengecap makanan. Lidah dapat berfungsi sebagai alat pengecap makanan karena mengandung banyak reseptor pengecap atau perasa. Lidah tersusun atas otot lurik dan permukaannya dilapisi dengan lapisan epitelium yang mengandung banyak kelenjar lendir (mukosa).

3) Kelenjar Ludah (Glandula Salivalis)

    Di dalam mulut terdapat tiga macam kelenjar ludah yaitu kelenjar parotis (di dekat telinga), kelenjar submandibularis (di bawah rahang), dan kelenjar sublingualis (di bawah lidah). Kelenjar ludah berfungsi menyekresikan saliva atau air liur. Air liur mengandung enzim ptialin yang dapat mengubah amilum (polisakarida) menjadi maltosa (disakarida). Selain itu, air liur berfungsi membasahi makanan, mencegah mulut dari kekeringan, membunuh mikroorganisme, dan bertindak sebagai buffer (penyangga pH).

b. Kerongkongan

    Kerongkongan merupakan saluran sempit berbentuk pipa dan panjang (£25 cm) yang berfungsi sebagai jalan bolus (gumpalan makanan) dari mulut menuju ke lambung. Bagian dalam kerongkongan senantiasa basah oleh cairan yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar yang terdapat pada dinding kerongkongan untuk menjaga agar bolu menjadi basah dan licin. Keadaan ini akan mempermudah bolus bergerak melalui kerongkongan menuju ke lambung. Bergeraknya bolus dari mulut ke lambung melalui kerongkongan disebabkan adanya gerak peristaltik oleh otot dinding kerongkongan. Gerak peristaltik dapat terjadi karena adanya kontraksi otot secara bergantian pada lapisan otot yang tersusun secara memanjang dan melingkar.

c. Lambung

    Lambung (ventrikulus) merupakan kantong besar yang terletak di sebelah kiri rongga perut. Lambung terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian atas (kardiak), bagian tengah yang membulat (fun- dus), dan bagian bawah (pilorus). Perhatikan Gambar 6.6.

    Di dalam lambung terjadi pencernaan secara mekanis dan kimiawi. Pencernaan mekanis terjadi karena adaya kontraksi otot lambung. Kontraksi otot lambung mengakibatkan bolus atau gumpalan makanan tercampur dan teraduk menjadi bubur (chyme). Sementara itu, pencernaan kimiawi berlangsung dengan bantuan getah lambung. Getah ini dihasilkan oleh kelenjar yang terletak di dinding lambung di bawah fundus. Getah lambung ini dapat dihasilkan akibat rangsangan bolus saat masuk ke lambung. Getah lambung mengandung berbagai jenis zat seperti berikut.

      1) Asam lambung (HCL), berfungsi mematikan bakteri yang terdapat dalam makanan, mengubah sifat protein, merangsang keluarnya sekretin, merangsang keluarnya hormon kolesistokinin yang merangsang empedu agar mengeluarkan getahnya, dan mengaktifkan enzim pepsinogen menjadi pepsin.
      2) Enzim pepsin, berfungsi merombak protein menjadi pepton.
      3) Enzim renin, berfungsi mengaktifkan kaseinogen menjadi kasein.
      4) Hormon gastrin, berfungsi merangsang sekresi getah lambung.

d. Usus Halus

    Usus halus merupakan saluran berkelok-kelok yang panjangnya sekitar 6-8 meter dan lebar 25 mm. Usus halus terdiri atas tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).

1) Usus Dua Belas Jari

    Di dalam usus dua belas jari bermuara dua saluran yaitu dari pankreas dan kantong empedu. Kantong empedu berisi cairan empedu yang dihasilkan oleh hati dan berguna untuk mengemulsikan lemak. Pankreas menghasilkan getah pankreas (bersifat basa) yang mengandung beberapa jenis enzim, seperti amilase, tripsinogen, dan lipase. Enzim amilase berfungsi untuk mengubah zat tepung menjadi gula. Tripsinogen diaktifkan oleh enzim en terokinase menjadi tripsin. Tripsin berfungsi mengubah protein menjadi peptida dan asam amino. Lipase berfungsi mengubah trigliserida (lemak) menjadi asam lemak dan gliserol Jadi, di usus dua belas jari berlangsung pencernaan kimiawi.

2) Usus Kosong

    Di dalam usus kosong makanan mengalami pencernaan kimiawi oleh enzim yang dihasilkan oleh kelenjar yang terdapat di dinding usus. Enzim-enzim yang dihasilkan oleh kelenjar yang terdapat di dinding usus sebagai berikut.

      a) Enterokinase, berfungsi mengaktifkan tripsinogen yang dihasilkan pankreas.
      b) Laktase, berfungsi mengubah laktosa menjadi glukosa.
      c) Tripsin, berfungsi mengubah dipeptida atau pepton menjadi asam amino.
      d) Maltase, berfungsi mengubah maltosa menjadi glukosa.
      e) Disakarase, berfungsi mengubah disakarida menjadi monosakarida.
      f) Peptidase, berfungsi mengubah polipeptida menjadi asam amino.
      g) Sukrase, berfungsi mencerna sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
      h) Lipase, berfungsi mengubah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak.

3) Usus Penyerapan

    Di dalam usus penyerapan terdapat banyak lipatan atau lekukan yang disebut vili atau jonjot usus. Vili berfungsi memperluas permukaan usus sehingga proses penyerapan zat makanan akan lebih sempurna. Zat makanan berupa glukosa, asam amino, vitamin larut dalam air (vitamin B dan C), mineral, dan air akan diserap oleh kapiler darah dalam vili yang kemudian diangkut menuju hati melalui pembuluh darah. Sementara itu, zat makanan berupa asam lemak, gliserol, dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K) akan diangkut melalui pembuluh kil yaitu pembuluh getah bening (limfa). Perhatikan Gambar 6.7.

e. Usus Besar

    Usus besar atau kolon memiliki panjang + 1 meter yang terdiri atas kolon ascendens, kolon transversum, dan kolon descendens. Di antara intestinum tenue (usus halus) dan intestinum crassum (usus besar) terdapat sekum (usus buntu). Pada ujung sekum terdapat tonjolan kecil yang disebut apendiks (umbai cacing) yang berisi massa sel darah putih yang berperan dalam imunitas.

    Sisa makanan hasil pencernaan di usus halus masuk ke usus besar. Di usus besar terjadi proses pembusukan sisa makanan menjadi feses oleh bakteri Escherichia coli. Selain membusukkan sisa makanan, bakteri E. coli juga menghasil kan vitamin K dan vitamin B12. Bagian akhir usus besar disebut rektum. Di rektum tidak lagi terjadi penyerapan air. Rektum dapat berkontraksi sehingga menimbulkan defekasi. Defekasi adalah pengeluaran zat zat sisa makanan melalui anus.


2. Gangguan dan Kelainan pada Sistem Pencernaan manusia

    Gangguan pada sistem pencernaan manusia dapat diakibatkan oleh pola makan yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan pada organ pencernaan. Beberapa contoh gangguan pada sistem pencernaan dapat disimak dalam uraian berikut.

a. Gastritis

    Gastritis adalah peradangan (pembengkakan an) pada mukosa lambung. Gastritis dapat disebabkan oleh faktor iritasi, infeksi, dan ketidakteraturan pola makan (terlambat makan, makan terlalu banyak, serta makan makanan yang mengandung terlalu banyak bumbu dan pedas). Faktor-faktor tersebut dapat mengakibat kan terjadinya ketidakseimbangan zat-zat yang dihasilkan oleh lambung. Seperti kita ketahui, lambung adalah organ pencernaan dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk menyimpan makanan, mencerna, dan kemudian mengalir kanker usus kecil. Di dalam lambung terdapat enzim-enzim pencernaan seperti pepsin, asam lambung, dan mukus untuk melindungi dinding lambung. Apabila terjadi ketidakseimbangan di antara faktor-faktor tersebut, misal asam yang berlebih atau mukus yang berkurang, dapat mengakibatkan iritasi dinding lambung sehingga terjadi proses peradangan (gastritis). Selain itu, iritasi dapat juga disebabkan oleh obat-obatan penghilang rasa sakit, alkohol, muntah yang kronis, dan makanan yang mengandung racun.

    Penyakit gastritis ditandai dengan berbagai gejala. Pada kasus akut, gejala yang sering muncul biasanya berupa nyeri di ulu hati, mual, muntah, tidak nafsu makan, kembung, penurunan berat badan, dan perih atau sakit seperti terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk ketika makan. Sementara itu, gastritis yang kronis biasanya tanpa gejala, kalaupun ada hanya sakit yang ringan pada perut bagian atas dan terasa penuh atau tidak selera makan.

c. Apendisitis

    Apendisitis adalah peradangan atau infeksi pada umbai cacing (apendiks). Dalam kasus ringan penyakit ini dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi sebagian besar kasus ini memerlukan laparotomi dengan pemotongan umbai cacing yang terinfeksi. Apabila tidak terawat, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian. Hal ini karena terjadi peritonitis yaitu peradangan pada selaput perut (peritoneum) dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur.

d. Diare

    Diare merupakan penyakit yang merangsang penderitanya sering buang air besar yang encer. Kelainan sistem pencernaan ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri maupun Protozoa pada usus besar. Akibat infeksi tersebut proses penyerapan air di usus besar terganggu sehingga fesesnya menjadi encer. Diare dalam waktu lama dapat mengakibatkan hilangnya air dan garam-garam mineral sehingga dapat mengakibatkan dehidrasi.

    Selain ketiga jenis penyakit tersebut, masih ada gangguan dan penyakit lain yang menyerang sistem pencernaan manusia, misalnya tukak lambung (ulkus), konstipasi, xerostomia, parotitis, dan hemoroid Untuk mengetahui tentang jenis-jenis penyakit tersebut, pindailah QR code berikut.

    Saluran pencernaan kita dapat terserang berbagai jenis kelainan dan penyakit. Oleh karena itu, saluran pencernaan perlu dirawat dengan baik. Beberapa tips merawat saluran pencernaan seperti berikut

      a. Mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih dan sabun.
      b. Mengonsumsi makanan higienis.
      c. Menerapkan pola makan teratur dengan pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang.
      d. Makanlah dengan santai atau tidak terburu-buru. Sangat tidak dianjurkan makan dalam keadaan tegang atau gugup.
      e. Memperhatikan cara menelan makanan, tidak boleh asal menelan. Kunyahlah makanan hingga benar-benar halus dan tercampur merata dengan saliva sebelum ditelan. Setelah selesai makan, istirahatlah yang cukup selama beberapa menit untuk memberi kesempatan alat pencernaan bekerja mencerna makanan.
      f. Menjauhi kegiatan mental dan berpikir berat setelah makan. Setelah makan, sebagian besar darah dialirkan ke perut untuk mencerna makanan sehingga waktu berpikir menjadi tidak efisien pada kondisi ini dan kemungkinan juga akan menimbulkan kelainan pada sistem pencernaan.
      g. Mengonsumsi makanan yang mengandung serat setiap hari, misalnya sayuran dan buah-buahan, serta menghindari makanan yang mengakibatkan sembelit.
      h. Menghindari kebiasaan menahan buang air besar karena dapat mengakibatkan sembelit. Membiasakan buang air besar secara teratur.

    Beberapa jenis gangguan dan kelainan pada sistem pencernaan telah diuraikan di atas. Setiap jenis penyakit pasti dapat dicegah. Coba lakukan kegiatan berikut untuk mengidentifikasi beberapa jenis penyakit serta usaha pencegahannya.





Post a Comment

0 Comments