Biologi XI - Semester 3 - Struktur dan Fungsi Sistem Peredaran Darah pada Manusia - Komposisi darah dan golongan darah

Biologi XI - Semester 3 - Struktur dan Fungsi Sistem Peredaran Darah pada Manusia - Komposisi darah dan golongan darah

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 5
Struktur dan Fungsi Sistem Peredaran Darah pada Manusia


Pendalam Materi


    Berdasarkan apersepsi di depan, Anda telah mengetahui salah satu teknik untuk melihat kondisi kesehatan jantung yaitu kateterisasi jantung. Dengan teknik tersebut dapat diketahui kondisi jantung. Jika jantung dalam kondisi baik, jantung dapat memompa darah ke seluruh tubuh dengan optimal Dengan demikian, darah dapat beredar ke seluruh bagian tubuh.
Sistem peredaran darah tersusun atas tiga komponen yaitu darah, jantung, dan pembuluh darah. Darah memiliki fungsi sangat penting dalam proses pengangkutan berbagai zat dalam tubuh. Darah tersusun atas beberapa komponen yang masing-masing komponen memiliki peranan berbeda. Apa saja komponen darah? Bagaimana darah dapat beredar ke seluruh tubuh? Apakah dalam peredaran darah tersebut dapat mengalami gangguan? Nah, dalam bab ini Anda akan mempelajari tentang komponen darah, alat-alat peredaran darah, serta jenis-jenis gangguan dan teknologi pada sistem peredaran darah.


A. Komposisi Darah dan Golongan Darah


    Darah memiliki peran penting dalam proses transportasi zat di dalam tubuh. Darah mengandung berbagai komponen yang memiliki fungsi masing-masing. Komponen-komponen apa saja yang menyusun darah? Apa fungsi komponen-komponen tersebut? Ayo, kerjakan tugas berikut untuk mengetahui komponen-komponen darah beserta fungsinya!

    1. Mengatur suhu tubuh melalui aliran darah.
    2. Mengangkut zat makanan dan zat sisa hasil metabolisme.
    3. Mencegah hilangnya darah melalui mekanisme pembekuan darah.
    4. Mengangkut zat buangan dan substansi beracun menuju hati untuk dinetralkan.
    5. Mengangkut zat buangan dan substansi beracun menuju ginjal untuk dikeluarkan dari tubuh.
    6. Melindungi tubuh dari bakteri dan virus dengan mensirkulasikan antibodi dan sel darah putih.
    7. Mendistribusikan hormon dari kelenjar dan organ yang memproduksinya ke sel-sel tubuh yang membutuhkan.

    Pada dasarnya, sistem peredaran darah berfungsi untuk transportasi atau pengangkutan berbagai zat seperti zat makanan, zat sisa hasil metabolisme, dan zat buangan. Bagian sistem peredaran darah yang sangat berperan dalam proses pengangkutan zat adalah darah. Darah tersusun atas beberapa komponen yang masing masing komponen memiliki peran berbeda. Ayo, baca uraian berikut untuk mengetahui komponen-komponen darah!

1. Komponen Penyusun Darah

    Volume darah manusia kurang lebih 8% dari total berat badan manusia yaitu sekitar 4,5-5,5 liter. Darah tersusun atas 55% plasma darah dan 45% sel-sel darah.

a. Plasma Darah

    Plasma darah terdiri atas 90% air dan 10% sisanya zat-zat yang terlarut di dalamnya. Kandungan plasma darah beserta fungsinya dapat Anda cermati dalam tabel berikut.

b. Sel-Sel Darah

    Di dalam darah terdapat tiga macam sel darah yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).

1) Sel Darah Merah (Eritrosit)

    Eritrosit merupakan komponen utama sel darah yaitu sekitar 99%. Dalam 1 mm darah pada seorang laki-laki terdapat ±5 juta sel darah merah dan pada seorang perempuan terdapat ±4 juta sel darah merah. Karakteristik sel darah merah sebagai berikut. Sumber: Bloiogy Eighth Edition, Pearson.

      a) Berbentuk bikonkaf sehingga memiliki permukaan yang lebar. Bentuk sel darah merah dapat Anda amati pada Gambar 5.2.
      b) Tidak memiliki inti sel sehingga tidak dapat hidup lama. c) Berwarna merah karena mengandung hemoglobin.

    Hemoglobin yaitu molekul kompleks dari protein globin dan molekul besi hemin. Hemoglobin berperan mengikat oksigen dan karbon dioksida. Peristiwa ini terjadi di paru-paru dengan reaksi sebagai berikut.

Hb + 02 → HbO2 (oksihemoglobin)

    Saat hemoglobin mengikat oksigen di kapiler paru-paru, hemoglobin akan membentuk oksihemoglobin sehingga darah berwarna merah cerah. Setelah sampai di sel-sel tubuh terjadi reaksi pelepasan oksigen oleh Hb.

HbO2 Hb + 0,

    Selanjutnya, terjadi pengikatan CO, oleh Hb dalam bentuk karboksihemoglobin sehingga darah akan berwarna merah gelap.

Hb + CO2 → H6CO2 (karboksihemoglobin)

    Bayi saat dalam rahim ibu, eritrositnya dibentuk dalam hati dan limpa. Setelah dilahirkan, pem bentukan eritrosit berlangsung di sumsum tulang, misal di tulang dada, tulang lengan atas, tulang kaki atas, dan tulang pinggul.

    Umur eritrosit sekitar 120 hari. Eritrosit yang telah mati akan dirombak di hati menjadi bilirubin dan biliverdin (zat warna empedu). Zat besi hasil perombakan tersebut kemudian dikirim ke hati dan limpa untuk digunakan dalam pembentukan eritrosit baru.

2) Sel Darah Putih (Leukosit)

Karakteristik sel darah putih sebagai berikut.

      a) Leukosit memiliki inti sel sehingga dapat bertahan hidup berbulan-bulan
      b) Tidak mengandung hemoglobin sehingga tidak berwarna merah.
      c) Dapat bergerak amoeboid (seperti Amoeba).
      d) Bentuknya tidak tetap.
      e) Dapat menembus dinding pembuluh darah.

    Berdasarkan karakteristik sitoplasmanya, sel darah putih dibagi menjadi dua yaitu granulosit dan agranulosit.

      a) Granulosit merupakan sel darah putih yang sitoplasmanya bergranula. Granulosit terdiri atas neutrofil, eosinofil, dan basofil.
      b) Agranulosit merupakan kelompok sel darah putih yang sitoplasmanya tidak bergranula. Kelompok sel ini meliputi limfosit dan monosit.

    Secara umum leukosit mempunyai fungsi sebagai berikut.

      a) Menghancurkan kuman penyakit dan zat asing secara fagositosis.
      b) Mengangkut lemak dan menghasilkan histamin. Histamin merupakan zat yang berperan dalam timbulnya alergi.
      c) Melumpuhkan kuman penyakit yang berada di luar darah. Caranya dengan menembus keluar dinding pembuluh kapiler dan masuk ke jaringan yang terserang zat asing tersebut. Kemampuan leukosit seperti ini disebut diapedesis.

    Pembentukan leukosit berlangsung di dalam sumsum merah, limpa, dan kelenjar getah bening atau kelenjar limfa. Di dalam tubuh, jumlah leukosit sekitar 7.000 sel per mm darah. Jumlah tersebut dapat meningkat dan menurun. Pada penderita kanker darah, jumlah leukosit akan meningkat sampai 50.000 sel setiap mm darah. Keadaan ini dapat membahayakan tubuh karena dalam jumlah sangat besar leukosit akan memfagosit eritrosit.

    Adapun jumlah leukosit dapat menurun karena terinfeksi kuman (misalnya tifus) atau terkena radiasi yang kuat. Keadaan tersebut dapat mengganggu pembentukan leukosit. Jumlah leukosit yang menurun juga dapat menurunkan tingkat kekebalan tubuh sehingga tubuh mudah terserang penyakit.

3) Keping Darah (Trombosit)

    Keping darah (trombosit) merupakan komponen darah yang berasal dari sel megakariosit. Karakteristik keping darah sebagai berikut.

      a) Keping darah berukuran lebih kecil daripada sel darah merah dan sel darah putih.
      b) Keping darah tidak berinti sehingga berumur pendek.
      c) Bentuknya tidak beraturan.
      d) Tidak berwarna (bening).

    Masa hidup keping darah +10-12 hari. Dalam setiap 1 mm darah terdapat keping darah sekitar 200000400000 butir. Keping darah berperan dalam proses pembekuan darah. Apabila pembuluh darah rusak, terluka, atau terpotong maka darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah. Namun, darah tersebut akan berhenti mengalir keluar karena terjadi proses pembekuan darah. Bagaimana mekanisme pembekuan darah tersebut?

    Di dalam plasma darah terdapat trombosit yang akan pecah jika me nyentuh permukaan yang kasar. Jika trombosit pecah, enzim tromboplastin (trombokinase) yang dikandungnya akan keluar bercampur dengan plasma darah. Selain trombosit, dalam plasma darah terdapat protrombin. Protrombin akan diubah menjadi trombin oleh enzim tromboplastin. Perubahan protrombin menjadi trombin dipicu oleh ion kalsium (Ca2+). Protrombin adalah suatu pro tein plasma yang pembentukannya memerlukan vitamin K.

    Trombin berfungsi sebagai enzim yang dapat mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrinogen adalah suatu protein yang terdapat dalam plasma. Adapun fibrin adalah protein berupa benang-benang yang tidak larut dalam plasma. Benang-benang fibrin yang terbentuk akan saling bertautan menutup luka sehingga darah tidak keluar lagi.

2. Golongan Darah

    Seseorang dikatakan mengalami kekurangan darah jika volume darahnya kurang dari normal Kekurangan darah dapat disebabkan oleh penyakit atau luka. Dalam keadaan kekurangan darah perlu dilakukan transfusi darah.

    Meskipun semua jenis darah tampak sama, tetapi kandungan proteinnya sangat beragam. Apabila protein asing yang tidak sesuai masuk ke tubuh maka tubuh akan berusaha untuk menyerang dengan cara penggumpalan (aglutinasi). Protein asing tersebut dinamakan antigen atau aglutinogen. Adapun penyebab timbulnya zat penolak dinamakan antibodi atau aglutinin. Aglutinogen terdapat di dalam eritrosit sedangkan aglutinin terdapat dalam plasma darah.

    Pada tahun 1900 Karl Landsteiner, seorang ahli patologi, menemukan perbedaan aglutinogen dan aglutinin yang terkandung dalam darah manusia. Atas dasar inilah Landsteiner memperkenalkan sistem penggolongan darah ABO yang membedakan darah menjadi empat golongan darah yaitu A, B, AB, dan 0.

a. Golongan Darah A
    Apabila eritrosit seseorang mengandung aglutinogen A, sedangkan plasma darahnya mengandung aglutinin B (anti-B) maka orang tersebut bergolongan darah A.

b. Golongan Darah B
    Apabila eritrosit seseorang mengandung aglutinogen B, sedangkan plasma darahnya mengandung aglutinin a (anti-A) maka orang tersebut bergolongan darah B.

c. Golongan Darah AB
    Apabila eritrosit seseorang mengandung aglutinogen A dan aglutinogen B, sedangkan plasma darahnya tidak mengandung aglutinin maka orang tersebut bergolongan darah AB.

d. Golongan Darah O
    Apabila eritrosit seseorang tidak mengandung aglutinogen, sedangkan plasma darah mengandung aglutinin a dan aglutinin B maka orang tersebut bergolongan darah 0.

    Penggolongan darah ABO berperan dalam transfusi darah. Transfusi darah merupakan proses pemindahan darah dari orang yang sehat ke orang yang sakit. Orang yang menerima darah disebut penerima (resipien). Adapun orang yang memberikan darahnya disebut pemberi (donor).
Hal yang harus diperhatikan dalam transfusi darah yaitu jenis aglutinogen donor dan aglutinin resipien. Aglutinin memiliki kemampuan untuk menggumpalkan eritrosit, Jadi, apabila darah donor tidak sesuai dengan resipien maka aglutinogen donor akan bercampur dengan aglutinin resipien yang mengakibatkan darah resipien menggumpal Darah donor yang bercampur dalam tubuh resipien akan dianggap sebagai antigen oleh tubuh.

    Seseorang dengan golongan darah O disebut donor universal karena darahnya dapat ditransfusikan kepada semua golongan darah (sistem ABO). Adapun golongan AB disebut sebagai resipien universal karena dapat menerima darah dari semua golongan darah (sistem ABO). Namun, pada praktiknya hal tersebut jarang dilakukan karena kemungkinan adanya ketidakcocokkan darah di luar sistem ABO.





Post a Comment

0 Comments