PK Biologi XI - Semester 1 - Struktur dan Fungs Jaringan Hewan - Bagian 1

PK Biologi XI - Semester 1 - Struktur dan Fungs Jaringan Hewan - Bagian 1

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I





BAB 3
Struktur dan Fungsi Jaringan Hewan


Pendalam Materi



Mengamati Organ yang Tersusun dari Beberapa Jenis Jaringan




Perhatikan gambar anatomi kulit berikut. Kemukakan beberapa pertanyaan kepada guru Anda mengenai hal-hal yang ingin Anda ketahui berkaitan dengan berbagai macam jaringan penyusun organ tubuh. Misalnya, jaringan-jaringan apakah yang menyusun kulit tubuh kita?


Hewan merupakan organisme multiseluler yang terdiri atas banyak sel. Sel-sel tersebut membentuk jaringan, beberapa jaringan akan membentuk organ, dan beberapa organ akan membentuk sistem organ. Jaringan, organ, dan sistem organ apakah yang terdapat pada hewan vertebrata? Pada bab ini, akan dibahas berbagai macam jaringan, organ, dan sistem organ pada hewan vertebrata yang juga terdapat pada manusia. Berbagai macam jaringan pada manusia dikaji oleh cabang biologi yang disebut histologi tubuh manusia.



I. Jenis Jaringan pada Hewan Vertebrata


Jaringan hewan vertebrata dan manusia dapat diamati dengan mikroskop cahaya maupun mikroskop elektron. Preparat kering irisan berbagai jaringan biasanya dibuat dengan teknik pulasan warna agar mudah diamati. Teknik pulasan warna umumnya menggunakan zat kimia hematoksilin-eosin, hematoksilin besi, asam Mallory, Masson, asam peryodat Schiff, azure A, impregnasi perak, orsein, hitam sudan B, dan fosfatase alkali.


Jaringan tubuh hewan Vertebrata dapat dibedakan menjadi empat jaringan dasar, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat (jaringan penyambung), jaringan otot, dan jaringan saraf. Jaringan ikat memiliki sel-sel yang terpisah jauh oleh sejumlah substansi intersel yang relatif besar. Jaringan otot memiliki sel-sel yang memanjang, mengandung filamen sitoplasma, memiliki sel-sel yang saling berhubungan erat, dan dipisahkan oleh jaringan ikat vaskuler halus. Jaringan saraf terdiri atas sel-sel yang sangat besar, bercabang-cabang panjang, dan berkelompok menjadi massa yang agak terpisah


A. Jaringan Epitel


Jaringan epitel dapat berupa membran atau berupa kelenjar. Membran epitel tersusun dari sel-sel yang melapisi permukaan luar atau membatasi permukaan dalam suatu rongga. Sementara itu, kelenjar epitel berkembang dari permukaan epitel dengan cara tumbuh ke dalam jaringan ikat di bawahnya. Seluruh jaringan epitel terletak pada suatu lamina basalis (lapisan membran basal) yang memisahkan epitel dari jaringan ikat di bawahnya dari pembuluh darah dan dari jaringan saraf. Permukaan sel yang berhadapan dengan lumen disebut permukaan apikal, permukaan yang terletak di antara sel-sel disebut permukaan lateral, dan permukaan yang berhadapan dengan membran basal disebut permukaan basal.


Jaringan epitel memiliki ciri-ciri sebagai berikut.


•Terdiri atas sel-sel yang bersisi, bersudut banyak (poligonal), dan terkadang bentuknya tidak teratur.

•Sel-sel tersusun rapat tanpa atau sedikit substansi interseluler.

•Sel epitel memiliki daya regenerasi yang tinggi untuk menggantikan sel-sel epitel yang telah rusak.

•Beberapa jenis jaringan epitel memiliki tonjolan yang disebut mikrovili.

•Tidak mengandung pembuluh darah dan pembuluh limfa sehingga nutrisi diperoleh secara difusi dari cairan jaringan ikat di bawahnya.


Fungsi jaringan epitel, yaitu sebagai berikut.


•Untuk melindungi jaringan di bawahnya dari dehidrasi atau pengaruh agen kimiawi maupun biologi.

•Transpor zat-zat antarjaringan atau rongga yang dipisahkan.

•Absorpsi (penyerapan sari makanan), misalnya pada epitel usus halus.

•Sekresi, menghasilkan zat atau enzim dari epitel membran maupun kelenjar.

•Ekskresi, membuang sisa-sisa metabolisme air, CO,, dan garam-garam tertentu.

•Eksteroreseptor, menerima stimulus dari lingkungan. Cabang-cabang terminal serat saraf halus yang terdapat di dalam;jaringan ikat dapat menembus membran basal dan menyusup di antara sel-sel epitel.

•Membantu respirasi, misalnya pada hewan yang hidup di air.


Berdasarkan bentuk sel, jaringan epitel dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu jaringan epitel pipih, kubus, silindris, transisional, dan kelenjar.


1. Jaringan Epitel Pipih


Epitel pipih berbentuk sangat tipis seperti lembaran dan tingginya lebih rendah daripada lebarnya. Jika dilihat dari samping, terlihat melebar di bagian inti selnya. Inti sel tampak seperti cakram. Berdasarkan susunannya, epitel pipih dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.


a. Epitel pipih selapis tersusun dari satu lapisan sel-sel, semua sel terletak di atas membran basal dan mencapai permukaan. Jika dilihat dari permukaannya, tampak seperti lantai ubin dengan batas tepi sel yang tidak teratur. Contoh epitel pipih selapis terdapat pada endotelium, mesotelium, lapisan parietal kapsul Bowman dan lengkung Henle pada ginjal, alveolus paru-paru, selaput pada telinga tengah, serta selaput pada telinga dalam. Endotelium dan mesotelium berasal dari mesoderm. Endotelium melapisi pembuluh darah dan pembuluh limfa, sedangkan mesotelium melapisi rongga serosa tubuh, misalnya pleura (selaput pembungkus paru-paru), perikardium (selaput pembungkus jantung), dan peritoneum (selaput perut). Jaringan epitel selapis berfungsi dalam proses difusi, osmosis, filtrasi, dan ekskresi.


b. Epitel pipih berlapis banyak merupakan membran yang tebal. Membran tersebut terdiri atas lebih dari satu lapisan sel-sel yang berbentuk pipih, tetapi pada lapisan sel-sel yang lebih dalam dapat berbentuk kuboid atau silindris. Membran yang tebal berfungsi sebagai pelindung dari pengaruh fisik, biologi, dan kimiawi. Di bagian permukaan tubuh yang biasa terkena tekanan, gesekan, dan dehidrasi, sel-sel mengalami keratinasi membentuk lapisan zat tanduk (keratin) yang permukaannya menjadi lapisan mati dan kering sehingga relatif tahan terhadap invasi bakteri dan kedap air, contohnya kulit. Pada vagina, rongga mulut, esofagus, dan anus, permukaan epitelnya lembap, basah dan tidak memiliki lapisan tanduk. Pada kornea mata, permukaannya licin dan teratur. Epitel lainnya bisa membentuk tonjolan (papila) berbentuk mirip jari dari jaringan ikat di bawahnya, contohnya pada vagina, esofagus, dan kulit.


2. Jaringan Epitel Kubus (Kuboid)


Jaringan epitel kubus tersusun dari sel-sel berbentuk kubus. Jika dilihat dari permukaan, sel-selnya tampak berbentuk seperti heksagonal atau poligonal. Namun, jika dilihat dari samping, tampak seperti kotak atau segi empat pendek dengan inti berbentuk bulat dan berada di tengah sel. Berdasarkan susunannya, epitel kubus dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.


a. Epitel kubus selapis tersusun dari satu lapisan sel berbentuk kubus. Epitel kubus selapis berfungsi sebagai pelindung, sekretori, dan absorpsi. Epitel jenis ini banyak ditemukan pada kelenjar, baik pada bagian sekretori maupun saluran keluarnya, contohnya pada ginjal (bagian nefron, tubulus kontortus proksimal, dan tubulus kontortus distal), ovarium (bagian permukaan luar dan folikel), kelenjar ludah, tiroid, pankreas, dan lensa mata.


b. Epitel kubus berlapis banyak terdiri atas lebih dari satu lapis sel-sel berbentuk kubus. Sel-sel bagian permukaannya berukuran lebih kecil daripada sel-sel yang terletak pada lapisan basal. Epitel kubus berlapis banyak berfungsi untuk proteksi, absorpsi, dan sekresi. Contohnya, pada saluran keluar kelenjar keringat yang terdiri atas dua lapisan sel kubus.


3. Jaringan Epitel Silindris


Jaringan epitel silindris tersusun dari sel-sel berbentuk heksagonal memanjang. Sel-sel tampak tinggi dengan inti berderet pada ketinggian yang sama dan terletak lebih dekat dengan permukaan basal daripada permukaan apikal. Berdasarkan susunannya, epitel silindris dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.


a. Epitel silindris selapis tersusun dari satu lapis sel-sel berbentuk silindris. Di antara sel-sel silindris, umumnya terdapat sel goblet, yaitu sel-sel berbentuk seperti piala yang menghasilkan lendir. Epitel silindris selapis berfungsi untuk sekresi dan absorpsi (penyerapan). Jika diamati dengan perbesaran yang cukup besar, permukaan sel-selnya ada yang bersilia dan ada yang tidak bersilia. Epitel silindris selapis bersilia, contohnya terdapat pada uterus (rahim), tuba uterina (buluh rahim), duktus eferens pada testis, bronkus intrapulmoner, dan kanalis sentralis pada medula spinalis. Epitel silindris tidak bersilia, contohnya terdapat pada sebagian besar saluran pencernaan (lambung, usus halus, dan kantong empedu).


b. Epitel silindris berlapis banyak tersusun dari lapisan sel-sel berbentuk silindris pada lapisan permukaannya, tetapi sel-sel pada lapisan-lapisan basal relatif lebih pendek dan berbentuk polihedral tidak teratur. Epitel silindris berlapis banyak berfungsi untuk perlindungan dan sekresi. Contohnya, terdapat pada uretra, laring, trakea, faring, dan kelenjar ludah.


4. Jaringan Epitel Transisional


Epitel ini disebut transisional karena dahulu dianggap sebagai peralihan antara epitel pipih berlapis banyak tanpa lapisan zat tanduk dengan epitel silindris berlapis banyak. Epitel transisional terdapat pada bagian-bagian yang mengalami tekanan dari dalam dengan kapasitas yang bervariasi. Oleh karena itu, bentuknya bergantung pada derajat peregangan. Lapisan basal terdiri atas sel-sel kubus hingga silindris, lapisan tengah terdiri atas sel-sel kubus polihedral, dan lapisan permukaan dalam (superfisial) terdiri atas sel-sel yang bentuknya bervariasi dari kubus hingga pipih, bergantung pada peregangan. Bagian yang tidak diregangkan umumnya berbentuk cembung. Contohnya, terdapat pada lapisan sistem urinaria (pelvis renalis, ureter, kandung kemih, dan uretra).


5. Jaringan Epitel Kelenjar


Epitel kelenjar tersusun dari sekelompok sel-sel epitel khusus untuk sekresi zat yang diperlukan dalam proses fisiologi tubuh. Proses sintesis zat sekret memerlukan kerja sama berbagai organel sel dan menggunakan energi. Kelenjar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.


a. Kelenjar eksokrin menyalurkan sekretnya ke suatu permukaan tubuh (sekresi eksternal). Hasil sekresi sel sel epitel ini disalurkan melalui sistem saluran menuju ke permukaan tubuh. Saluran keluar berbentuk lurus, bergelung, atau bercabang. Bagian sekresi pada ujung saluran ada yang berbentuk tubular (buluh berongga), alveolar (mirip labu siam), atau kombinasi tubuloalveolar. Sekret berupa cairan jernih seperti air yang mengandung enzim atau musin. Contohnya adalah kelenjar lambung, kelenjar pankreas, kelenjar ludah, dan kelenjar keringat.


b. Kelenjar endokrin mengeluarkan sekretnya langsung ke dalam sistem vaskuler darah atau limfa (sekresi internal). Kelenjar endokrin disebut juga kelenjar buntu karena tidak memiliki saluran. Sekret yang dikeluarkan berupa hormon. Sel-sel epitel yang mengeluarkan hormon terdapat di antara pembuluh-pembuluh darah halus. Epitel kelenjar endokrin dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe deret-kelompok dan tipe folikel. Contohnya adalah kelenjar hipofisis, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar timus, dan kelenjar adrenal.


B. Jaringan Ikat (Jaringan Penyambung)


Pada awal perkembangan embrio, lapisan mesoderm membentuk jaringan mesenkim (mesos = tengah, enchyme = penyusupan). Selanjutnya, mesenkim berkembang menjadi jaringan ikat (jaringan penyambung). Jaringan ikat memiliki fungsi sebagai berikut


•Pengikat dan penyambung antarjaringan, contohnya jaringan ikat tendon yang menghubungkan jaringan tulang dengan jaringan otot.

•Penyokong dan pembentuk struktur tubuh, contohnya jaringan ikat tulang.

•Penyimpan energi, misalnya jaringan ikat lemak.

•Pertahanan tubuh terhadap invasi bibit penyakit, misalnya jaringan ikat darah yang mengandung antibodi dan sel-sel darah putih.

•Pelindung suatu organ, yaitu jaringan ikat yang berbentuk selaput, yang membungkus organ-organ tubuh.

•Transpor cairan tubuh yang dilakukan oleh jaringan ikat darah dan limpa.


Jaringan ikat tersusun dari bahan intersel (matriks) dan sel-sel penyusun jaringan ikat. Jaringan ikat berbeda dengan jaringan epitel karena jaringan ikat banyak mengandung matriks.


1. Matriks Jaringan Ikat

Matriks terdiri atas substansi intersel amorf (tidak berbentuk) dan substansi intersel fibrosa (scrat).


a. Substansi intersel amorf (tidak berbentuk) merupakan media cair homogen yang berbentuk sol, gel, atau gel kaku. Cairan berbentuk sol dan gel memudahkan terjadinya difusi nutrisi dan zat-zat buangan antara kapiler dengan sel. sedangkan cairan yang berbentuk gel kaku membantu menyokong jaringan. Komponen utama substansi amorf adalah glikosaminoglikans atau asam mukopolisakarida (polisakarida yang mengandung gula amino) dan glikoprotein (protein dengan satu atau lebih rantai heterosakarida). Glikosaminoglikans ada yang bersulfat dan ada pula yang tidak bersulfat. Glikosaminoglikans tidak bersulfat yang paling banyak terdapat pada jaringan ikat adalah asam hialuronat. Semakin banyak asam hialuronat, semakin lentur dan semakin banyak pula air yang dapat diikat matriks, contohnya pada cairan sinovial, badan vitreous mata, dan Wharton's jelly tali pusar. Glikosaminoglikans bersulfat yang paling banyak terdapat pada jaringan ikat adalah kondroitin sulfat. Semakin banyak kondroitin sulfat, semakin kaku matriks, contohnya pada tulang rawan dan tulang keras.


b. Substansi intersel fibrosa (serat) berfungsi sebagai penyokong. Serat dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu serat kolagen, serat retikular, dan serat elastin.


(1) Serat kolagen. Serat ini tersusun dari protein kolagen, berwarna putih bening dengan garis samar-samar yang memanjang, berbentuk lurus atau sedikit bergelombang, dan berdiameter 1 - 12 um (mikrometer). Jika kolagen dimasukkan ke dalam air panas, maka menjadi lunak dan membentuk gelatin. Serat kolagen bersifat liat, ulet, lunak, mudah dibengkokkan, dan relatif tidak elastis. Serat kolagen terdapat pada tendon, ligamen, tulang, dan kulit.


(2) Serat retikular. Serat ini merupakan serat kolagen yang sangat halus, berukuran kurang dari 1 pm, dan berbentuk jala (retikulum). Serat retikular bersifat sama seperti serat kolagen dengan kelenturan yang rendah. Serat ini berfungsi sebagai penyokong yang mengitari pembuluh darah kecil, serat otot, serat saraf, sel lemak, di dalam sekat-sekat halus dari paru-paru, di antara jaringan ikat dengan jaringan yang lain, di bawah membran epitel, serta di dalam jaringan limfoid dan mieloid.


(3) Serat elastik. Serat ini berwarna kekuning-kuningan, berbentuk pita pipih atau benang silindris panjang, tipis, berdiameter kurang dari 1-4 um, tetapi pada beberapa ligamen elastis berdiameter antara 10-12 um. Serat bersifat sangat lentur (elastis), mudah direntangkan dan dapat kembali ke bentuk semula jika tegangan dihilangkan, serta tidak terpengaruh oleh air panas maupun dingin. Serat elastik tersusun dari protein elastin albuminoid. Serat elastik terletak di bagian tengah dan dikelilingi oleh mikrofibril (fibrillin). Serat clastik terdapat di sekitar pembuluh darah, antarruas tulang belakang, dan selaput tulang rawan laring.


2. Sel-Sel Penyusun Jaringan Ikat


Sel-sel yang terdapat pada jaringan ikat, yaitu fibroblas, makrofag (histiosit), sel lemak (sel adiposa), mast cell (sel tiang), sel plasma, sel pigmen, leukosit (sel darah putih), dan sel mesenkim.


a. Fibroblas dan makrofag merupakan dua jenis sel yang terdapat paling banyak di jaringan ikat longgar areolar. Fibroblas memiliki ciri-ciri, antara lain bentuk sel besar, pipih, bercabang-cabang (cabang-cabangnya langsing), jika dilihat dari samping, berbentuk gelendong (fusiform), inti sel berbentuk lonjong (memanjang), dan memiliki satu atau dua anak inti serta sedikit granula kromatin yang halus. Fibroblas dapat disebut sebagai sel tetap pada jaringan ikat karena mampu tumbuh dan beregenerasi seumur hidup.


b. Makrofag (histiosit) jumlahnya hampir sama dengan fibroblas di dalam jaringan ikat longgar dan terdapat di dekat pembuluh darah. Makrofag memiliki ciri-ciri, antara lain tidak beraturan, bercabang-cabang pendek dan lebur atau kecil dan panjang, membran plasma terlipat-lipat, jika dirangsang, dapat melakukan gerakan ameboid, serta bersifat fagositosis (memakan zat-zat buangan, sel mati, bakteri, benda asing, dan sel darah yang keluar dari pembuluh darah). Makrofag berfungsi pada reaksi imunologis tubuh dan sekresi enzim enzim, misalnya lisozim, elastase, kolagenase, dan agen anti virus interferon.


c. Sel lemak (sel adiposa) dapat ditemukan hanya satu sel saja atau berkelompok di sepanjang pembuluh darah. Jika berkumpul dalam jumlah yang besar, akan membentuk jaringan lemak. Setiap sel lemak mengandung satu tetes minyak yang besar dan sedikit sitoplasma dengan inti berbentuk pipih pada salah satu sudutnya. Sel lemak merupakan sel yang telah berdiferensiasi sempurna dan tidak mampu membelah diri lagi. Sebelum berisi lemak, sel berbentuk seperti fibroblas. Jika lemak dipakai, sel akan mengerut.


d. Mast cell (sel tiang) tersebar luas dalam jaringan ikat atau membentuk kelompok kecil di dekat pembuluh darah. Sel berbentuk lonjong, tidak teratur, kadang-kadang memiliki pseudopodia yang pendek, serta berinti kecil yang tertutup oleh granula-granula. Sel tiang menghasilkan sejenis antikoagulan heparin dan histamin. Heparin berfungsi dalam pembekuan darah, sedangkan histamin berfungsi untuk meningkatkan permeabilitas pembuluh darah kecil.


e. Sel plasma mirip dengan limfosit, mengandung banyak sitoplasma, dan memiliki jari-jari roda di tepi inti sel yang terbentuk dari gumpalan kromatin. Sel plasma berfungsi untuk menghasilkan antibodi. Sel plasma jarang ditemukan pada jaringan ikat, tetapi sering ditemukan pada membran serosa, jaringan limfoid, serta di bawah membran epitel yang basah pada saluran pencernaan dan pernapasan.


f. Sel pigmen mengandung pigmen (kromatofor). Sel pigmen terdapat pada jaringan ikat padat kulit, lapisan koroid mata, dan pia mater (membran halus yang membungkus otak). Sel pigmen jenis melanosit mengandung melanosom. Melanosom merupakan badan yang memiliki membran berbentuk lonjong berisi pigmen melanin. Pigmen melanin berfungsi untuk menyerap cahaya.


g. Leukosit (sel darah putih) diangkut oleh sirkulasi darah, tetapi melakukan fungsinya di luar pembuluh darah sehingga dapat ditemukan pada jaringan ikat. Leukosit melakukan gerakan ameboid menerobos dinding-dinding pembuluh darah dan menyusup ke dalam jaringan ikat. Leukosit berfungsi sebagai pertahanan terhadap benda asing. Jenis leukosit, yaitu limfosit, monosit, neutrofil, basofil, dan asidofil (cosinofil).


h. Sel mesenkim merupakan sel embrional yang masih dapat ditemukan pada orang dewasa, berukuran lebih kecil daripada fibroblas, dan berbentuk seperti bintang karena memiliki banyak tonjolan memanjang yang mengecil di bagian ujungnya. Sel ini ditemukan di sepanjang pembuluh darah kapiler. Sel mesenkim akan berdiferensiasi menjadi jenis sel penyusun jaringan ikat longgar atau menjadi sel otot polos pada pembuluh darah yang cedera.


Jaringan ikat dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu jaringan ikat sejati, jaringan ikat cair, dan jaringan ikat penyokong.



1. Jaringan Ikat Sejati


Jaringan ikat sejati dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:


a. Jaringan ikat longgar terdiri atas sebagai berikut.


(1) Jaringan mukosa merupakan jaringan embrional yang muncul untuk sementara pada pembentukan jaringan ikat, serta tersusun dari sel-sel fibroblas makrofag, limfosit, kolagen halus, dan substansi dasar yang besar, yang lunak mirip gel berlendir (musin). Jaringan mukosa terdapat pada tali pusar bayi.


(2) Jaringan areolar bersifat fleksibel dengan substansi dasar yang relatif cair. Jaringan areolar mengandung banyak sel fibroblas, makrofag, serat kolagen, dan sedikit serat elastin yang membentuk jaring-jaring. Jaringan ini terdapat di antara kulit dengan otot serta berfungsi sebagai materi pengikat/pembungkus jaringan lain dan organ-organ, termasuk pembuluh darah dan saraf. Biasanya dokter menginjeksikan jarum suntik ke pasien pada jaringan areolar.


(3) Jaringan lemak (adiposa) tersusun dari sel-sel lemak yang dibungkus oleh anyaman serat retikulin yang halus, dengan celah-celah berisi fibroblas, limfosit, cosinofil, dan sejumlah sel tiang. Sel lemak dapat menyintesis lemak dari karbohidrat dan asam lemak di bawah pengaruh hormon insulin. Jaringan lemak berfungsi sebagai bantalan yang melindungi organ-organ, cadangan makanan, dan isolator penjaga suhu tubuh. Jaringan ini terdapat di bawah kulit, di sekitar persendian, sumsum tulang, omentum (selaput pada lambung), mesenterium (selaput pada perut), di sekitar ginjal, dan di belakang bola mata. Pada umumnya, lemak manusia berwarna putih. Lemak khusus yang berwarna cokelat berperan untuk menghasilkan panas dan terdapat pada Mammalia yang melakukan hibernasi, fetus, dan, anak-anak.


(4) Jaringan retikular tersusun dari jaring-jaring serat retikular dan sel-sel dengan sitoplasma yang bercabang cabang panjang. Sebagian sel bersifat fagositosis dan merupakan bagian dari sistem retikuloendotel. Jaringan ini terdapat pada nodus limfa, sumsum tulang belakang, dan hati.


b. Jaringan ikat padat tersusun dari serat-serat yang berhimpitan padat dengan sedikit sel dan substansi dasar. Serat kolagen merupakan bahan yang dominan sehingga jaringan ikar padat sering disebut jaringan kolagen. Jaringan ikat pada bersifat tidak elastis. Jaringan ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut.


(1) Jaringan ikat padat teratur tersusun dari serat-serat kolagen yang berhimpitan secara paralel dan sangat kuat. Di antara serat-serat tersebut, terdapat sel fibroblas. Contoh jaringan ikat padat adalah tendon (jaringan yang menghubungkan tulang dengan otot), ligamen (jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang), dan aponeurosis (otot yang berbentuk lebar dan pipih).


(2) Jaringan ikat padat tidak teratur berbentuk seperti lembaran-lembaran dengan serat-serat membentuk anyaman kasar yang kuat. Jaringan ini mengandung banyak serat kolagen kasar serta sedikit serat elastin dan retikular. Jaringan ikat padat tidak teratur terdapat pada sebagian besar fasia (selaput pembungkus atau penyekat), dermis kulit, periosteum (lapisan luar tulang), perikondrium (lapisan luar tulang rawan), serta kapsul pembungkus beberapa organ termasuk hati dan testis.



2. Jaringan Ikat Cair


Jaringan ikat cair tersusun dari sel-sel yang berada di dalam suatu matriks berupa larutan atau berbentuk cairan. Larutan tersebut mengandung protein-protein. Jaringan ikat cair di dalam tubuh meliputi darah dan limfa (getah bening).


a. Jaringan darah. Darah terdiri atas plasma darah, trombosit (keping-keping darah), dan sel-sel darah. Plasma darah berupa cairan yang mengandung berbagai macam protein, asam amino, peptida, enzim, hormon, vitamin, dan mineral. Trombosit berbentuk lempengan, tidak bernukleus, dan berfungsi dalam pembekuan darah agar darah tidak keluar jika terjadi luka pada pembuluh darah. Sel-sel darah meliputi eritrosit (sel darah merah) dan leukosit (sel darah putih). Eritrosit berbentuk bulat dengan lekukan pada bagian sentral (bikonkaf), tidak bernukleus, dan memiliki sitoplasma yang mengandung hemoglobin untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida. Leukosit bentuknya bervariasi karena bergerak ameboid, bernukleus, dan berfungsi untuk pertahanan tubuh dari infeksi.


b. Jaringan limfa (getah bening). Limfa merupakan cairan yang dikumpulkan dari jaringan-jaringan dan kembali ke aliran darah. Antibodi dan sel-sel yang sebagian besar berupa limfosit akan ditambahkan pada saat limfa melewati nodus limfa. Nodus limfa terdapat di dalam tonsil, limpa, timus, dan sepanjang saluran pencernaan. Limfa yang mengalir dari dinding usus halus berwarna seperti susu karena mengandung lemak. Limfa dapat membeku, tetapi prosesnya lebih lambat daripada pembekuan darah. Hasil pembekuan limfa lebih lunak daripada pembekuan darah.



3. Jaringan Ikat Penyokong


Jaringan ikat penyokong merupakan jaringan kerangka yang berfungsi sebagai penyokong tubuh. Jaringan ikat penyokong meliputi jaringan tulang rawan (kartilago) dan tulang keras (osteon). Tulang rawan dan tulang keras tersusun dari sel, serat, dan substansi dasar. Serat dan substansi dasar tersebut membentuk matriks.


a Jaringan tulang rawan (kartilago) tersusun dari sel-sel tulang rawan kondrosit dan matriks yang mengandung kondroitin sulfat. Kondrosit berbentuk bulat atau lonjong serta memiliki inti dan beberapa anak inti. Kondrosit berada di dalam rongga kecil yang disebut lakuna. Sel tulang rawan yang masih muda disebut kondroblas, kecuali pada permukaan persendian. Tulang rawan dibungkus oleh lapisan perikondrium. Jaringan tulang rawan tidak memiliki saraf dan bersifat avaskuler (tidak memiliki pembuluh darah dan pembuluh limfa). Nutrisi, sisa-sisa metabolisme, dan gas-gas yang terlarut berdifusi di antara pembuluh darah kecil pada perikondrium dengan kondrosit-kondrosit yang letaknya berada di tengah tulang rawan. Tulang rawan pada anak-anak berbeda dengan tulang rawan pada orang dewasa. Tulang rawan pada anak-anak lebih banyak mengandung kondrosit dan berasal dari mesenkim, sedangkan tulang rawan pada orang dewasa lebih banyak mengandung matriks dan berasal dari perikondrium yang banyak mengandung kondroblas maupun kondrosit. Berdasarkan perbedaan kandungan senyawa pada matriksnya, jaringan tulang rawan dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tulang rawan hialin, tulang rawan elastik, dan tulang rawan fibroblas (fibrokartilago).


(1) Tulang rawan hialin berasal dari kata Yunani hyalos yang berarti kaca. Tulang rawan hialin berwarna bening atau putih kebiruan, selalu dibungkus oleh perikondrium, serta memiliki matriks yang banyak mengandung mukopolisakarida sulfat dan serat kolagen. Tulang rawan hialin dapat mengalami kalsifikasi sehingga dapat berubah menjadi keras dan rapuh. Tulang rawan hialin terdapat pada kerangka fetus (stadium embrio), sedangkan pada orang dewasa terdapat pada permukaan sendi tulang, ujung tulang rusuk yang melekat pada tulang dada, hidung, laring, trakea, dan bronkiolus.


(2) Tulang rawan elastik berwarna kuning, dibungkus oleh perikondrium, bersifat lentur, dan tidak mengalami kalsifikasi. Matriksnya mengandung banyak serat elastik dan sedikit serat kolagen. Tulang rawan elastik terdapat pada dinding saluran telinga luar, daun telinga, dinding saluran Eustachius, epiglotis, dan laring.


(3) Tulang rawan fibroblas (fibrokartilago) berwarna gelap keruh, tidak memiliki perikondrium, mengandung banyak serat kolagen yang tersusun rapat, merupakan jaringan tulang rawan yang paling kuat, dan berada menyatu dengan tulang rawan hialin di dekatnya atau jaringan ikat padat fibrosa. Tulang rawan fibroblas terdapat di bagian-bagian yang sering mengalami tarikan, misalnya antarruas tulang belakang, simfisis pubis (tulang kemaluan), persendian tulang bahu dan paha, serta tempat lekat tendon dan ligamen.


b. Jaringan tulang keras (osteon) atau tulang sejati merupakan penyusun kerangka tubuh yang tersusun dari komponen nonseluler berupa matriks dan komponen seluler. Matriks tulang sangat padat dan kaku dan mengandung substansi semen glikosaminoglikans (protein polisakarida), serat osteokolagen, garam anorganik kalsium fosfat, kalsium karbonat, sedikit kalsium florida, serta magnesium florida. Komponen seluler ada empat macam, yaitu sebagai berikut.


•Osteoprogenitor merupakan sel induk dari osteoblas dan osteoklas yang berasal dari mesenkim. Sel osteoprogenitor berbentuk gelendong dan terdapat pada permukaan tulang di lapisan dalam periosteum (lapisan pembungkus tulang), endosteum (lapisan yang membatasi rongga sumsum tulang), dan saluran vaskuler tulang kompak.

•Osteoblas merupakan sel yang memiliki banyak variasi bentuk, seperti kuboid, piramidal, atau lembaran Osteoblas terdapat pada permukaan tulang dan berfungsi menyintesis unsur organik matriks tulang, seperti kolagen dan glikoprotein. Osteoblas mengandung enzim fosfatase alkali yang berfungsi dalam proses kalsifikasi (pengapuran) sehingga matriks menjadi keras.

•Osteosit (sel tulang) adalah osteoblas yang tertimbun di dalam matriks. Osteosit berada di dalam lakuna, yaitu rongga berbentuk lonjong bikonveks. Tonjolan tonjolan halus sitoplasma osteosit menjulur ke dalam kanalikuli yang keluar dari lakuna. Kanalikuli dari lakuna yang berdekatan akan saling berhubungan dan berfungsi untuk transportasi zat nutrisi dan zat sisa.

•Osteoklas disebut juga giant cell karena berukuran besar serta berinti banyak (3–6 buah) dengan jumlah anak inti yang bervariasi. Osteoklas terdapat di dekat permukaan tulang atau di dalam lekukan dangkal lakuna Howship. Osteoklas mengeluarkan kolagenase dan enzim proteolitik yang berfungsi dalam proses resorpsi tulang atau osteolisis (penghancuran tulang).


Berdasarkan strukturnya, tulang keras dibedakan menjadi dua macam, yaitu tulang spongiosa (spons) dan tulang kompak.


(1) Tulang spongiosa (tulang spons) memiliki rongga-rongga, serta tersusun dari trabekula (lamela-lamela dengan lakuna yang mengandung osteosit) dan lempeng-lempeng yang saling berhubungan. Tulang spongiosa terletak pada bagian dalam tulang dan langsung berhubungan dengan sumsum tulang.


(2) Tulang kompak tidak memiliki rongga dan terletak di bagian luar tulang spons. Tulang kompak terdiri atas berjuta-juta sistem Havers yang tersusun menurut sumbu panjang tulang. Sistem Havers ditemukan pertama kali oleh dokter berkebangsaan Inggris, yaitu Clopton Havers. Sistem Havers terdiri atas lamela matriks tulang, lakuna, kanalikuli, dan saluran Havers. Setiap saluran Havers dikelilingi 5-20 lamela secara konsentris. Lakuna berisi sel sel tulang (osteosit). Lakuna dan kanalikuli berhubungan langsung dengan saluran Havers. Saluran Havers berisi pembuluh darah, limfa, serabut saraf, dan jaringan ikat. Kanalikuli bagian tepi sistem Havers tidak berhubungan dengan kanalikuli dari sistem Havers yang lainnya. Antara saluran Havers yang satu dengan saluran Havers yang lain, dihubungkan oleh saluran melintang yang disebut saluran Volkmann.








Post a Comment

0 Comments