Sejarah Indonesia XI - Semester 3 - Dampak Penjajahan Bangsa-Bangsa Eropa di Indonesia - Dampak di Bidang Sosial, Budaya, dan Pendidikan

Sejarah Indonesia XI - Semester 3 - Dampak Penjajahan Bangsa-Bangsa Eropa di Indonesia - Dampak di Bidang Sosial, Budaya, dan Pendidikan

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas XI Semester 1




BAB 3
Dampak Penjajahan Bangsa-Bangsa Eropa di Indonesia


Pendalam Materi


    Kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Indonesia turut membawa perubahan bagi kehidupan bangsa Indonesia. Salah satunya dalam bidang pendidikan seperti tampak pada gambar 3.1. Selain bidang pendidikan, penjajahan bangsa-bangsa Eropa mengakibatkan perubahan tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Lantas, apa saja dampak penjajahan bangsa-bangsa Eropa di Indonesia? Pada bab ini Anda akan diajak mengkaji dampak penjajahan bangsa-bangsa Eropa terhadap kehidupan bangsa Indonesia.


B. Dampak di Bidang Sosial, Budaya, dan Pendidikan


    Perhatikan gambar 3.71 Gambar tersebut me nunjukkan gaya penyajian makanan bagi bangsa Belanda di Indonesia. Gaya penyajian tersebut disebut Rijsttafel. Menu pada jamuan makan tersebut adalah masakan pribumi yang disajikan dengan gaya makan masyarakat Eropa yang identik dengan kesan mewah dan berkelas. Tradisi penyajian makanan ini terdiri atas tiga tahap. yaitu hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup.

    Tradisi penyajian Rijsttafel merupakan salah satu dampak penjajahan bangsa-bangsa Eropa dalam bidang budaya. Lantas, apa saja dampak penjajahan bangsa bangsa Eropa dalam bidang sosial budaya, dan pendidikan? Coba diskusikan bersama teman Anda. Selanjutnya, perhatikan penjelasan mengenai dampak penjajahan bangsa-bangsa Eropa dalam bidang sosial budaya, dan pendidikan pada uraian berikut.


1. Bidang Sosial

    Masa penjajahan bangsa-bangsa Eropa diwarnai kehidupan sosial yang kompleks. Kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari berbagai kebijakan yang diterapkan bangsa-bangsa Eropa di Indonesia. Dampak penjajahan bangsa-bangsa Eropa bagi kehidupan sosial bangsa Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Lunturnya Feodalisme

    Berakhirnya kekuasaan VOC pada 1799 menjadi fase penting dalam perubahan kehidupan sosial bangsa Indonesia. Perubahan tersebut terjadi sejak kekuasaan politik pemerintah kolonial Belanda di Indonesia pada awal abad XIX. Kolonialisme pada awal abad XIX ditunjukkan dengan mencerminkan semakin kuatnya pengaruh kekuasaan feodal para pejabat pribumi.

    Di Indonesia sistem feodal telah dikenal sejak masa Hindu-Buddha. Sistem feodal ditandal dengan adanya tanah-tanah luas yang dikuasai para bangsawan atau tuan tanah, sedangkan rakyat biasa berperan sebagai budak. Para budak bekerja menggarap tanah milik para bangsawan. Sebagai balas jasa, para bangsawan atau tuan tanah memberikan perlindungan dan bahan-bahan pokok kebutuhan hidup bagi para budak

    Pada masa penjajahan bangsa-bangsa Eropa, sistem feodal dalam masyarakat Indonesia semakin luntur. Kondisi tersebut terjadi karena bangsa-bangsa Eropa melakukan praktik kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Secara bertahap penguasa kolonial berhasil menggeser hak-hak istimewa para penguasa pribumi. Para penguasa kolonial menjadikan para penguasa pribumi sebagai pegawai pemerintah kolonial Oleh karena itu, para penguasa pribumi kehilangan status sebagai bangsawan yang dihormati rakyat.

    Meskipun kekuasaan para bangsawan berkurang karena digantikan oleh kekuasaan politik pemerintah kolonial budaya feodal masih dipertahankan dan dilestarikan dalam struktur sosial kekuasaan politik saat itu. Kondisi tersebut tampak dari kehidupan sosial masyarakat yang begitu heterogen selain adanya dikotomi budaya superior dan inferior Skin itu, rakyat dan penguasa pribumi yang harus menghormati pemerintah kolonial secara berlebihan menunjuk kan budaya feodal masih diterapkan oleh pemerintah kolonial pada masa penjajahannya di Indonesia.

b. Berkembangnya Stratifikasi Sosial

    Pada abad XIX masyarakat di pedesaan Jawa terbagi dalam kelas-kelas sosial yang sangat kaku. Meskipun di setiap daerah memiliki istilah berbeda dalam menyebut stratifikasi sosialnya, masyarakat di pedesaan terbagi dalam dua kelas yang kontras. Kedua kelas sosial tersebut yaitu pemilik tanah dan masyarakat yang tidak memiliki tanah. Kondisi tersebut terjadi karena stratifikasi sosial masyarakat di pedesaan Jawa ditentukan oleh pola penguasaan terhadap tanah.

    Sebagian besar bentuk tanah di Jawa pada abad XIX adalah tanah komunal Bentuk-bentuk tanah komunal ini lebih mudah dipindahtangankan kepada mereka yang dianggap memiliki kemampuan menggarap tanah dan melakukan kerja wajib untuk desa dan pemerintah atasnya, termasuk perkebunan milik pemerintah atau swasta. Peran kepala desa sangat panting dalam pengaturan kepemilikan tanah dan pengerahan tenaga kerja. Oleh karena itu, syarat utama bagi penduduk desa yang mendapatkan tanah komunal adalah harus mau dan mampu melakukan kerja wajib, sudah menikah, serta sudah memiliki pekarangan dan rumah. Hak menggarap tanah komunal ditentukan oleh kepala desa.

    Di beberapa daerah di Jawa tanah komunal diberikan kepada penduduk yang memiliki beban wajib kerja, yaitu mereka yang sudah memiliki tanah. Semakin banyak orang yang menggarap tanah, semakin banyak jumlah orang yang memiliki tanggung jawab wajib kerja. Akan tetapi pada abad XIX pembagian tanah oleh para penguasa menjadi semakin kecil Kondisi tersebut terjadi karena pertumbuhan penduduk yang pesat sedangkan jumlah tanah tidak bertambah.

    Dalam perkembangannya status sosial masyarakat yang berdasarkan pada kepemilikan tanah mulai mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi karena adanya pengaruh bangsa bangsa Eropa di Indonesia, terutama bangsa Belanda. Orang-orang Belanda di Indonesia sering berinteraksi langsung dengan masyarakat pribumi, terutama kaum elite pribumi.

    Hubungan antara kalangan elite pribumi dan orang-orang Eropa mengubah karakter kalangan elite pribumi, terutama dalam status sosial Status sosial para elite pribumi tersebut diwujudkan dalam bentuk gaya hidup yang mewakili prestise diri terhadap lingkungan sekitar. Pemerintah kolonial menerapkan kebijakan yang mengharuskan para penguasa bergaya hidup menggunakan ciri-ciri serta lambang yang berbeda dari rakyat pada umumnya.

    Pada masa kolonial Belanda pembagian status sosial masyarakat diatur menurut hukum ketatanegaraan tahun 1927. Berdasarkan hukum tersebut kelompok masyarakat dikategorikan sebagai berikut.

      1) Golongan atas yang terdiri atas orang-orang Eropa.
      2) Golongan Timur Asing (Tionghoa, Arab, dan India).
      3) Golongan pribumi yang terdiri atas bangsa Indonesia asli.

   Golongan pribumi dibagi lagi menjadi tiga golongan berikut:

      1) Lapisan atas yang terdiri atas para bangsa wan dan kerabat istana.
      2) Lapisan menengah, yaitu para petani kaya, pedagang kecil dan menengah, serta pegawai.
      3) Lapisan bawah, yaitu rakyat jelata yang hidup di pedesaan dan merupakan penduduk mayoritas.

    Stratifikasi sosial pada masa kolonial menempatkan bangsa-bangsa Eropa sebagai golongan teratas. Oleh karena itu, muncul anggapan bahwa golongan bangsa-bangsa Eropa merupakan kelas yang paling modern. Pada masa itu gaya hidup bangsa-bangsa Eropa, terutama dalam gaya berpakaian menjadi trendsetter bagi golongan lainnya.

    Gaya busana pada masa itu mengadopsi gaya pakaian masyarakat Eropa yang bahannya disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia. Pakaian yang dikenakan dibedakan berdasarkan waktu pemakaiannya. Sebagai contoh, saat bersantai di rumah pakaian yang dikenakan adalah kebaya dan sarung, sedangkan dalam acara resmi busana yang dikenakan yaitu blus, rok, dan gaun-gaun mewah.

    Pada masa kekuasaannya di Indonesia, bangsa-bangsa Eropa juga memperkenalkan budaya pesta kepada masyarakat di Hindia Belanda. Pesta dalam skala besar biasanya diselenggarakan di Societeit dan terbatas untuk kalangan tertentu yang tergabung dalam Soos (perkumpulan). Selain gaya pakaian dan hiburan, gaya penyajian makanan mendapat pengaruh Eropa. Pada masa ini dikenal tradisi makan yang disebut Rijsttafel.

c. Pertumbuhan dan Perpindahan Penduduk

    Sebelum tahun 1800, pertumbuhan penduduk di Indonesia sangat rendah. Dari tahun 1400 hingga 1800 tingkat pertumbuhan penduduk sekira 0,1-0,2%. Rendahnya tingkat pertumbuhan penduduk tersebut disebabkan oleh wabah penyakit, kelaparan, perang, dan bencana alam. Pertumbuhan penduduk baru mengalami peningkatan pada abad XIX. Pertumbuhan penduduk tersebut dipengaruhi oleh intensitas peperangan yang semakin menurun, kebijakan kesehatan pemerintah, perkembangan teknologi dan transportasi, serta proses migrasi.

    Pertumbuhan penduduk paling pesat terjadi di Pulau Jawa. Kepadatan penduduk Jawa pada periode tersebut mencapai 4,5 juta jiwa. Pada 1930 jumlah penduduk Pulau Jawa meningkat menjadi 40 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa terjadi karena Pulau Jawa menjadi pusat administrasi dan kegiatan industri pemerintah kolonial Untuk mengatasi ledakan penduduk di Pulau Jawa, pemerintah kolonial menerapkan program migrasi. Pemerintah kolonial Belanda berusaha memperlancar program migrasi dengan membujuk petani-petani miskin di perdesaan Jawa untuk bekerja di perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur.

    Perpindahan penduduk juga disebabkan oleh kebijakan tanam paksa yang diterapkan pemerintah kolonial. Masyarakat berpindah tempat tinggal untuk menghindari berbagai kewajiban kerja paksa dan tanam paksa. Mereka berpindah ke daerah-daerah yang tidak terdapat kewajiban tanam paksanya. Selain itu, perpindahan penduduk disebabkan oleh pengalihfungsian lahan-lahan pertanian untuk industri dan perkebunan besar. Masyarakat di pedesaan meninggalkan desanya menuju tempat-tempat industri dan beralih profesi menjadi buruh. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perpindahan penduduk di Pulau Jawa pada masa kolonial Belanda, Anda dapat memindai QR Code di samping atau mengunjungi laman http://pustaka.unpadac.id/wp-content/uploads/ 2009/03/satu_abad_transmigrasi di_indonesia.pdf.


2. Bidang Budaya

    Pengaruh bangsa-bangsa Eropa di Indonesia dalam bidang kebudayaan memberikan nuansa baru bagi perkembangan budaya di Indonesia. Budaya Eropa dipadukan dengan kebudayaan lokal menghasilkan kebudayaan baru yang disebut kebudayaan Indis. Pada awalnya kebudayaan Indis muncul secara alami, yaitu melalui perkawinan hki-laki berkulit putih (Eropa) dengan wanita pribumi. Orang-orang Eropa mengadopsi kebiasaan pribumi, begitu pula sebaliknya. Kebudayaan Indis dapat dianggap sebagai kreativitas segolongan masyarakat pada masa kekuasaan bangsa-bangsa Eropa dalam menghadapi tantangan kehidupan di sekeliling mereka. Dampak penjajahan bangsa-bangsa Eropa dalam bidang budaya dijelaskan sebagai berikut.

a. Perkembangan Agama Nasrani

    Kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Indonesia membawa pengaruh dalam bidang agama. Bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda memperkenalkan agama Kristen dan Katolik kepada bangsa Indonesia. Penyebaran agama Kristen dan Katolik ini sesuai salah satu semboyan penjelajahan samudra, yaitu gospel (penyebaran agama Nasrani).

    Penyebaran agama Katolik di Indonesia dilakukan oleh bangsa Portugis. Bangsa Portugis pertama kali menyebarkan agama Katolik di Maluku. Misionaris yang menyebarkan agama Katolik di Maluku antara lain Gonzalves Veloso, Fernao Vinagre, dan Simon Vaz. Antara 1546 hingga 1547 misionaris Spanyol bernama Franciscus Xaverius mengunjungi Ambon, Ternate, dan Halmahera. Saat berkunjung ke tiga wilayah tersebut, ia berhasil menarik banyak pengikut. Pada 1560 St. Fransiskus Xaverius teh menarik sekira 10.000 orang memeluk agama Katolik. Pada 1590 jumlah penduduk Maluku yang memeluk Katolik meningkat menjadi 60.000 orang.

    Selain di Maluku, penyebaran agama Katolik dilakukan di daerah Nusa Tenggara Timur. Misionaris yang menyebarkan agama Katolik di daerah ini adalah para rohaniawan dari Ordo Fransiskan dan Dominikan. Mereka memperkenalkan agama Katolik melalui khotbah dan teadan hidup. Penyebaran agama Katolik di Nusa Tenggara Timur dipusatkan di Larantuka. Selain menyebarkan agama Katolik, para misionaris mengorganisasikan pembangunan gereja, rumah sakit dan sekolah. Selanjutnya, mereka menyebarkan agama Katolik ke Minahasa, Bolaang Mongondow, Pulau Siau, Sangihe Talaud Blambangan, dan Panarukan.

    Selain bangsa Portugis dan Spanyol yang menyebarkan agama Katolik, bangsa Belanda menyebarkan agama Kristen Protestan di Indonesia. Tidak seperti bangsa Portugis dan Spanyol, bangsa Belanda tidak terlalu mementingkan misi gospel. Bagi bangsa Belanda, kegiatan perdagangan merupakan kegiatan utama untuk mencapai kemakmuran (glory). Kegiatan penyebaran agama boleh dilakukan selama tidak mendatangkan kerugian bagi kegiatan perdagangan.

    Seperti halnya penyebaran agama lainnya (Hindu, Budha, dan Islam), dalam penyebaran agama Kristen juga terjadi sinkretisme (praktik percampuran antara agama Kristen dan kepercayaan lokal). Sinkretisme ini terjadi di beberapa tempat di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Sinkretisme agama Kristen ini dikembangkan oleh para misionaris seperti C. Coolen, Kiai Tunggul Wulung, dan Kiai Sadrach. Bagaimana bentuk sinkretisme agama Kristen dan kepercayaan lokal yang dikembangkan oleh para misionaris tersebut? Coba diskusikan bersama teman-teman Anda.

b. Perkembangan Seni Arsitektur

    Perhatikan gambar 3.10! Bangunan pada gambar adalah gedung de Javasche Bank di Medan, Sumatra Utara pada masa kolonial Belanda. Saat ini, bangunan tersebut digunakan sebagai gedung Bank Indonesia, Medan. Arsitektur bangunan pada gambar menunjuk kan gaya neogotik dan rasionalisme Belanda. Pe nerapan arsitektur neo gotik pada gedung de Javasche Bank tidak dapat dilepaskan dari perkembangan arsitektur bergaya Eropa di Indonesia.

    Pada awal kedatangannya, bangsa Eropa membangun kantor dagang (feitoria) yang berfungsi mengatur kegiatan perdagangan serta menjadi benteng pertahanan. Dalam perkembangannya, muncul permukiman di sekitar benteng yang disebut intra-muros. Pola permukiman intra-muros berkembang di daerah pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan. Selanjutnya, pada abad XVIII pemerintah kolonial Belanda mulai membangun kota-kota penting seperti Batavia, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Pemerintah kolonial Belanda membangun kota-kota ini mengikuti sistem tata kota di Belanda.
Pada abad XIX arsitektur bergaya Eropa mengalami perkembangan signifikan di Indonesia. Pada periode tersebut berkembang gaya arsitektur yang disebut Indis. Gaya Indis merupakan perpaduan antara arsitektur Eropa dan arsitektur lokal. Bangunan bergaya Indis memiliki struktur bangunan yang kukuh. Contoh bangunan Indis pada masa ini adalah gereja Blenduk di Honesia SUMU 2020 Semarang.

    Pada akhir abad XIX hingga awal abad XX arsitektur yang berkembang di Indonesia adalah gaya Napoleon klasik. Pemerintah kolonial menerapkan gaya Napoleon klasik untuk membangun kantor pemerintahan. Selain itu, pada masa ini berkembang arsitektur bergaya neogotik dan rasionalisme Belanda. Gaya arsitektur tersebut dapat dilihat pada bangunan kantor-kantor de Javasche Bank di beberapa kota besar, seperti Bandung, Medan, Surabaya, dan Jakarta.

c. Perkembangan Seni Sastra

    Kedatangan dan dominasi bangsa-bangsa Eropa teah membawa pengaruh dalam penulisan karya sastra di Indonesia. Pada masa pemerintahan Raffles, ilmu pengetahuan, sejarah, dan budaya mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Pada masa itu, Raffles menulis buku berjudul History of Java yang diterbitkan pada 1817. Selanjutnya, muncul berbagai karya bangsa bangsa Eropa lainnya yang mengulas kehidupan masyarakat Indonesia seperti buku History of Sumatra karya William Marsden dan buku History of the East Indian Arcipelago karya Crawfurd.

    Selain karya sastra berupa buku, pada masa penjajahan bangsa-bangsa Eropa berkembang karya sastra yang ditulis dalam bentuk artikel yang diterbitkan melalui surat kabar dan majalah. Pada 1899 van Deventer menulis artikel berjudul Een Eereschuld (Utang Kehormatan). Dalam artikel tersebut van Deventer menganjurkan adanya politik balas budi (Politik Etis) yang berisi edukasi, irigasi, dan imigrasi dari pemerintah kolonial kepada rakyat Indonesia.

    Perkembangan karya sastra pada masa kolonial juga berdampak pada penyerapan kosakata Portugis dan Belanda dalam bahasa Indonesia. Kosakata Portugis yang diserap dalam bahasa.Indonesia antara lain mesa menjadi meja, manteiga menjadi mentega, soldado menjadi serdadu, bandeira menjadi bendera, dan avental menjadi bantal Adapun kosakata Belanda yang diserap dalam bahasa Indonesia antara lain handdoek menjadi handuk, waskom menjadi baskom, bioscoop menjadi bioskop, dienst menjadi dinas, onkosten menjadi ongkos, dan divan menjadi dipan. Selain kata-kata tersebut adakah kata-kata dari bahasa asing yang diserap dalam bahasa Indonesia?.Coba temukan melalui berbagai literatur.

d. Perkembangan Seni Musik

    Penjajahan bangsa-bangsa Eropa turut memengaruhi perkembangan seni musik di Indonesia. Bangsa-bangsa Eropa memper kenalkan berbagai alat musik seperti biola, selo (cello), gitar, seruling (flute), dan ukulele. Bangsa Eropa juga memperkenalkan sistem solmisasi dalam berbagai karya lagu.

    Pada masa penjajahan bangsa-bangsa Eropa, para musisi Indonesia memadukan musik Barat dengan musik yang telah dikenal masyarakat Indonesia. Contoh hasil perpaduan musik tersebut adalah musik keroncong. Musik keroncong merupakan jenis musik yang dihasilkan dari alat musik berdawai dengan alunan romantis. Musik keroncong diperkenal kan oleh bangsa Portugis pada abad XVI. Pada masa kini musik keroncong menjadi "musik rakyat" khas Indonesia.

e. Perkembangan Surat Kabar

    Kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Indonesia membawa pengaruh positif dalam perkembangan surat kabar. Pada 1744 pemerintah Belanda melakukan percobaan pertama untuk menerbitkan surat kabar dengan nama Bataviasche Nouvelles. Surat kabar tersebut diinisiasi oleh Gubernur Jenderal VOC di Batavia, Gustaaf Willem Baron van Imhoff. la memberikan mandat pengelolaan surat kabar kepada J.E. Jordens, seorang pedagang dan pegawai senior di kantor sekretariat jenderal VOC. Hingga 1825 seluruh surat kabar di Hindia Belanda merupakan milik pemerintah (pers official). Tujuan pers official ini adalah memenuhi kebutuhan informasi politik dan ekonomi, terutama berita dari Eropa bagi kelas pedagang. Selain memuat iklan, surat kabar memuat berbagai pengumuman resmi dari pemerintah.

    Pada 1809 Gubernur Jenderal Daendels membuat regulasi percetakan dan penerbitan surat kabar milik pemerintah. Regulasi yang diumumkan pada 1809 tersebut menjelaskan prioritas isi surat kabar official yaitu iklan, pengumuman dokumen publik dari pemerintah, dan pengumuman tambahan lainnya. Pada masa ini pemerintah memberlakukan sensor terhadap surat kabar yang akan terbit. Setiap pengelola surat kabar harus mengirimkan salinan naskah sehari sebelum waktu penerbitan kepada sekretariat jenderal untuk diperiksa. Satu tahun setelah pemerintahan Daendels mengumumkan regulasi ini, Daendels menerbitkan Bataviasche Koloniale Courant. Surat kabar ini adalah corong resmi pemerintahan Daendels dalam memublikasikan berita-berita mengenai reformasi administrasi kolonial.
 
    Dalam perkembangannya, muncul berbagai surat kabar di Indonesia, bahkan surat kabar tersebut tidak hanya menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar tetapi juga bahasa Jawa dan Melayu. Apa saja surat kabar yang muncul pada masa kolonial Belanda? Coba temukan jawabannya dengan mengakses berbagai literatur.

    Perkembangan berbagai surat kabar pada masa kolonial, terutama pada awal abad XX mampu membawa pencerahan bagi kalangan masyarakat pribumi. Bahkan, oleh golongan terpelajar surat kabar digunakan sebagai media untuk mengembangkan kesadaran nasionalisme. Puncak kesadaran ini terjadi pada 28 Oktober 1928 yang ditandai dengan ikrar Sumpah Pemuda.


3. Bidang Pendidikan

    Menjelang akhir abad XIX, pemerintah kolonial Belanda mulai mengubah kebijakannya di Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda mulai mengurangi praktik eksploitasi yang sering dilakukan sebelum akhir abad XIX. Pada 1901 Ratu Wilhelmina menerapkan sebuah kebijakan baru bagi masyarakat Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kebijakan baru tersebut disebut politik etis. Program politik etis meliputi edukasi (pendidikan), irigasi (pengairan), dan migrasi (perpindahan penduduk).

    Dampak pelaksanaan politik etis paling besar dirasakan masyarakat Indonesia di bidang pendidikan. Untuk mendukung pelaksanaan pendidikan di Indonesia, pemerintah kolonial Belanda menunjuk J.H. Abendanon sebagai Direktur Pendidikan di Indonesia. Lantas, bagaimana dampak kebijakan yang diterapkan pemerintah kolonial dalam bidang pendidikan? Perhatikan uraian berikut untuk menemukan jawabannya.

a. Berdirinya Sekolah-Sekolah di Indonesia

    Pemerintah kolonial Belanda mendirikan berbagai sekolah untuk mengakomodasi kebutuhan pendidikan rakyat Indonesia. Pada 1903 didirikan sekolah rendah yang bernama Volkschool (sekolah desa) dengan masa belajar tiga tahun yang dilanjutkan dengan program Vervolgschool (sekolah lanjutan) dengan masa belajar selama dua tahun. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda mendirikan sekolah lanjutan seperti Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) untuk sekolah menengah pertama dan Algemeene Middelbare School (AMS) untuk sekolah menengah atas.
Pemerintah kolonial Belanda juga mendirikan beberapa sekolah tinggi sebagai berikut.

      1) Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) merupakan sekolah untuk pejabat pribumi.
      2) School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) merupakan sekolah bagi dokter-dokter pribumi.
      3) Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) merupakan sekolah kedokteran yang didirikan di Surabaya.
      4) Rechts School atau sekolah hukum merupakan sekolah untuk calon pegawai kejaksaan dan pengadilan.
      5) Rechtskundige Hogeschool merupakan sekolah tinggi hukum.
      6) Landbouwkundige Hogeschool atau sekolah tinggi pertanian di Bogor.
      7) Technische Hogeschool atau sekolah tinggi teknik di Bandung.
      8) Sekolah guru atau Hollandsch Indlandsch Kweekschool dibuka pada 1852 di Solo.

    Selain sekolah resmi yang disediakan pemerintah kolonial, terdapat sekolah-sekolah lain seperti Taman Siswa, Muhammadiyah, dan pondok pesantren. Pada masa ini muncul pula sekolah-sekolah untuk kaum wanita. Pendidikan untuk kaum wanita dirintis oleh R.A. Kartini.

b. Lahirnya Golongan Terpelajar

    Pertumbuhan pendidikan pada awal abad XX mendorong munculnya golongan intelektual Pendidikan telah menghasilkan ide-ide dan pemikiran menuju kemajuan dan usaha untuk membebaskan bangsa dari segala bentuk penindasan dan kolonialisme Belanda. Kaum intelektual muda tidak lagi memandang Jawa, Sunda, Minangkabau, Ambon, atau Batak sebagai unsur pembeda. Perbedaan tersebut dianggap sebagai unsur yang mempersatukan bangsa. Pendidikan yang dikenalkan Belanda membuat para pemuda Indonesia terlibat dalam organisasi dan perlahan mengetahui arti berpolitik. Pemuda Indonesia mulai mendirikan berbagai organisasi yang bercorak kedaerahan dan sesuai bidang perkumpulan. Organisasi-organisasi yang didirikan oleh kaum intelektual muda Indonesia sejak awal abad XX antara ain Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Kartini Fonds, dan Jong Java.





Post a Comment

0 Comments