Sejarah Indonesia XI - Semester 3 - Sumpah Pemuda dan Peneguhan Jiwa Kebangsaan - Peristiwa Pengikraran Sumpah Pemuda

Sejarah Indonesia XI - Semester 3 - Sumpah Pemuda dan Peneguhan Jiwa Kebangsaan - Peristiwa Pengikraran Sumpah Pemuda

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas XI Semester 1




BAB 4
Sumpah Pemuda dan Peneguhan Jiwa Kebangsaan


Pendalam Materi


    Kongres Pemuda Il yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 menjadi tonggak sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Dalam kongres tersebut para pemuda dari berbagai wilayah hadir dan sepakat mendeklarasikan tiga "sumpah" yang kemudian dikenal sebagai ikrar Sumpah Pemuda. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Lantas, apa latar belakang Sumpah Pemuda? Bagaimana kronologi pengikraran Sumpah Pemuda? Bagaimana pula kedudukan Sumpah Pemuda dalam upaya meneguhkan jiwa kebangsaan di Indonesia? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan Anda temukan dalam pembahasan bab ini.


B. Peristiwa Pengikraran Sumpah Pemuda


    Perhatikan kembali diorama situasi Kongres Pemuda II pada gambar 4.1. Peristiwa yang terjadi pada 28 Oktober 1928 tersebut melahirkan ikrar Sumpah Pemuda. Pembacaan ikrar Sumpah Pemuda menjadi momentum perwujudan semangat para pemuda Indonesia untuk meraih cita-cita kesatuan dan persatuan. Bagaimana kronologi pengikraran Sumpah Pemuda? Apa makna penting Sumpah Pemuda bagi kehidupan bangsa Indonesia saat ini? Perhatikan uraian berikut untuk menemukan jawabannya!


1. Organisasi Kepemudaan

    Perjalanan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan tidak dapat dilepaskan dari peran pemuda. Sejak 1915 para pemuda telah memelopori berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan. Dalam perkembangannya, sifat kedaerahan berubah menjadi rasa persatuan untuk mewujudkan semangat nasionalisme Indonesia. Rasa persatuan para pemuda pada masa pergerakan nasional terus diasah dan dikembangkan mealui organisasi-organisasi kepemudaan. Apa saja organisasi pemuda pada masa pergerakan nasional? Simak uraian berikut!

a. Tri Koro Dharmo

    Pada 7 Maret 1915 di Jakarta dr. Satiman Wiryosanjoyo, Kadarman, Sunardi dan beberapa pemuda lainnya sepakat untuk mendirikan perkumpulan pemuda. Perkumpulan tersebut diberi nama Tri Koro Dharmo. Anggota Tri Koro Dharmo terdiri atas pelajar sekolah menengah serta mahasiswa yang berasal dari Jawa dan Madura.

      1) Mencapai Jawa Raya dengan cara memperkukuh rasa persatuan antara pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.
      2) Mempererat hubungan antara murid-murid bumi putera pada sekolah menengah kejuruan.
      3) Menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya.
      4) Membangkitkan bahasa dan kebudayaan Hindia-Belanda.

b. Jong Java

    Pada 12 Juni 1918 Tri Koro Dharmo mengubah namanya menjadi Jong Java. Perubahan nama tersebut dilakukan untuk menghindari perpecahan akibat ketidaksenangan terhadap corak budaya Jawa dalam Tri Koro Dharmo. Bagaimana perjuangan Jong Java pada masa pergerakan nasional? Untuk mengetahui pergerakan Jong Java, Anda dapat memindai QR Code di samping atau membuka laman http://journalstudentuny.ac.id/ ojs/index.php/ilmu-sejarah/article/download/ 1901/1608.

c. Jong Sumatranen Bond

    Jong Sumatranen Bond merupakan organisasi yang didirikan oleh para pemuda Sumatra di Jakarta pada 9 Desember 1917. Organisasi ini didirikan dengan tujuan mempererat hubungan di antara murid-murid yang berasal dari Sumatra, mendidik pemuda Sumatra untuk menjadi pemimpin bangsa, serta mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatra.

    Tokoh pergerakan nasional yang lahir dari Jong Sumatranen Bond antara lain Mohammad Hatta dan Muhammad Yamin. Mohammad Hatta mengawali perannya dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara cabang Padang (1916-1918). Selanjutnya, ia menjadi pengurus cabang Batavia pada 1919 dan pengurus pusat Jong Sumatranen Bond pada 1920-1921.Selama bergabung dalam organisasi ini Mohammad Hatta menuangkan banyak pemikirannya, salah satunya ditunjukkan melalui tulisan berjudul Hindiana. Tulisan tersebut dimuat di buletin Jong Sumatra Nomor 5 tahun 1920. Adapun Muhammad Yamin memimpin Jong Sumatranen Bond pada 1926-1928. Melalui buletin Jong Sumatranen Bond Nomor 4, tahun 1920, Muhammad Yamin menuangkan pemikiran tentang perlunya penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

d. Pemuda Kaum Betawi

    Pemuda Kaum Betawi merupakan perkumpulan yang didirikan pada 1923.Organisasi ini didirikan dengan tujuan memajukan kehidupan orang-orang Betawi (Batavianen) secara khusus dan orang orang bumiputera secara umum. Tujuan tersebut berupaya diwujudkan melalui beberapa program kerja yang mencakup bidang pendidikan, perdagangan, kesehatan, kesenian, dan keamanan lingkungan.


2. Kesadaran Persatuan dalam Kongres Pemuda I

    Pada 15 November 1925 beberapa organisasi daerah mengadakan konferensi. Organisasi yang hadir dalam konferensi tersebut antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, pelajar-pelajar Minahasa (Minahasische Studeerenten), dan Sekar Rukun. Sementara itu, tokoh pergerakan yang hadir dalam kongres tersebut yaitu Bahder Djohan, Sumarto, Jan Toule, Soulehuwij, Paul Pinontoan, dan Tabrani. Dalam konferensi tersebut dibahas rencana pelaksanaan kongres pemuda. Selain itu, konferensi tersebut berhasil menyepakati pembentukan sebuah komite yang diketuai oleh Tabrani. Komite tersebut diberi nama komite kongres. Komite tersebut diberi tanggung jawab untuk menyelenggarakan kongres pemuda.

    Setelah melakukan berbagai persiapan, komite kongres berhasil menyelenggarakan Kongres Pemuda I di Jakarta pada 30 April-2 Mei 1926. Kongres Pemuda bertujuan mencapai persatuan pemuda Indonesia dan menanamkan semangat kerja sama antarperkumpulan pemuda untuk mewujudkan persatuan Indonesia.

    Kongres Pemuda I memaparkan gagasan-gagasan tentang persatuan. Beberapa tokoh yang menyampaikan gagasannya dalam kongres tersebut sebagai berikut.

      a. Sumarto dengan topik "Gagasan Persatuan Indonesia".
      b. Bahder Djohan dengan topik "Kedudukan Wanita dalam Masyarakat Indonesia"
      c. Nona Adam tentang "Kedudukan Kaum Wanita",
      d. Djaksodipuro tentang "Rapak Lumuh".
      e. Paul Pinontoan berbicara tentang "Tugas Agama di dalam Pergerakan Nasional".
      f. Muhammad Yamin tentang "Kemungkinan Perkembangan Bahasa-Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia di Masa Mendatang".

    Di antara gagasan yang disampaikan tokoh-tokoh tersebut, gagasan Muhammad Yamin memunculkan kesadaran bagi para pemuda terkait perlunya bahasa persatuan. Akhirnya, pada Kongres Pemuda I disepakati penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan yang disebut dengan bahasa Indonesia. Untuk menegaskan penggunaan bahasa tersebut, Tabrani mengusulkan pembahasan mengenai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dibicarakan lagi pada kongres pemuda selanjutnya.

    Pada 15 Agustus 1926 para pemuda kembali mengadakan konferensi. Konferensi ini dihadiri oleh perwakilan-perwakilan organisasi pemuda daerah seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Ambonsche Studeerenten, dan Minahasische Studeerenten. Konferensi ini memutuskan membentuk sebuah badan permanen untuk keperluan persatuan Indonesia. Sebagian besar perwakilan yang hadir dalam pertemuan tersebut menyepakati pembentukan sebuah organisasi bernama Jong Indonesia.

    Pada 31 Agustus 1926 Jong Indonesia mengadakan rapat. Rapat ini berhasil merumuskan dan mengesahkan anggaran dasar Jong Indonesia. Jong Indonesia bertujuan menanamkan dan mewujudkan cita-cita persatuan seluruh Indonesia. Dasar gerakan Jong Indonesia adalah nasionalisme yang mengarah terwujudnya Indonesia Raya. Dalam perkembangannya, Jong Indonesia berganti nama menjadi Pemuda Indonesia.


3. Kongres Pemuda II dan Ikrar Sumpah Pemuda

    Kongres Pemuda I telah menghasilkan keputusan penting, yaitu mengakui dan menerima cita-cita persatuan Indonesia. Semangat nasionalisme para pemuda semakin berkobar ditandai dengan pembentukan Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) di Jakarta pada September 1926, PPPI bertujuan memperjuangkan Indonesia merdeka yang diwujudkan dengan menghapus segala bentuk sifat kedaerahan. Semangat tersebut semakin menggelora setelah PPPI berinisiatif menyelenggarakan Kongres Pemuda II.

    Pada 12 Agustus 1928 PPPI membentuk panitia penyelenggara kongres yang diketuai oleh Sugondo Joyopuspito. Kongres Pemuda II berlangsung di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928. Kongres Pemuda II dihadiri oleh PPPI, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Batak Bond, dan Pemuda Kaum Betawi. Selain wakil-wakil organisasi pemuda, kongres tersebut dihadiri pula tokoh-tokoh politik, anggota volksraad, dan tokoh pendidikan Indonesia. Adapun susunan panitia penyelenggara Kongres Pemuda II sebagai berikut.

    Kongres Pemuda II dihadiri sekitar 750 perwakilan dari organisasi pemuda di Indonesia. Pelaksanaan Kongres Pemuda II dibagi menjadi tiga rapat besar sebagai berikut.

a. Rapat Pertama

    Pada hari Sabtu tanggal 27 Oktober 1928 diselenggarakan rapat pertama Kongres Pemuda II. Rapat tersebut diselenggarakan di gedung Katholieke Jongelingen Bond, Waterlooplein. Rapat ini dibuka dengan sambutan dari ketua kongres, Soegondo Djojopoespito. Dalam sambutannya, Soegondo Djojopoespito mengharapkan pelaksanaan Kongres Pemuda II dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari pemuda Indonesia. Selanjutnya, Muhammad Yamin memaparkan arti persatuan dan kaitannya dengan peranan pemuda. Dalam kesempatan itu, Muhammad Yamin mengulas lima faktor yang mampu memperkuat persatuan Indonesia. Kelima faktor tersebut yaitu sejarah, bahasa, hukum adat pendidikan, dan kemauan.

b. Rapat Kedua

    Rapat kedua diselenggarakan pada hari Minggu, 28 Oktober 1928. Rapat ini berlangsung pada pukul 08001200 Rapat tersebut diselenggarakan di gedung Oost-Java Bioscoop Koningsplein. Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro ditunjuk sebagai pembicara dalam rapat ini. Kedua tokoh tersebut berpendapat bahwa setiap anak di Indonesia harus mendapatkan pendidikan kebangsaan dan nilai-nilai demokrasi. Panitia kongres juga memberi kesempatan bagi Soenario dan Ramelan untuk memaparkan pemikiran mereka. Soenario mengemukakan gagasan tentang pentingnya penanaman nilai-nilai nasionalisme, demokrasi, dan kepanduan. Senada dengan pemikiran Soenario, Ramean berpendapat bahwa kegiatan kepanduan tidak dapat dipisahkan dari pergerakan nasional di Indonesia.

c. Rapat Ketiga

    Pada hari yang sama dengan rapat kedua, panitia Kongres Pemuda II menyelenggarakan rapat ketiga. Rapat ini diselenggarakan sebagai bentuk finalisasi rapat kedua. Dalam rapat ketiga Kongres Pemuda II ini berlangsung pada pukul 17302000 di gedung Indonesische Clubhuis. Rapat ini menghasilkan keputusan penting sebagai berikut.

      1) Penetapan lagu "Indonesia Raya" sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
      2) Penetapan bendera Merah Putih sebagai bendera Indonesia.
      3) Peleburan semua organisasi pemuda menjadi satu wadah yang bercorak nasional dalam arti luas.
      4) Pengikraran Sumpah Pemuda yang berbunyi sebagai berikut.

      a) Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
      b) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
      c) Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

    Setelah Kongres Pemuda II berakhir, pada 24-28 Desember 1928 para pemuda mengadakan kongres di Yogyakarta untuk menindaklanjuti hasil keputusan Kongres Pemuda I. Kongres ini memutuskan untuk membentuk fusi (gabungan) organisasi-organisasi pemuda. Keputusan ini didukung oleh Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Celebes. Fusi gabungan tesebut kemudian membentuk sebuah komisi yang disebut Komisi Besar Indonesia Muda. Akhirnya, pada 31 Desember 1930 dalam sebuah konferensi di Solo ditetapkan pembentukan organisasi Indonesia Muda. Pada awal berdirinya organisasi Indonesia Muda memiliki 25 cabang dengan 2.400 anggota.

    Organisasi Indonesia Muda menetapkan tidak ikut serta dalam aktivitas politik. Keputusan yang diambil organisasi ini menyebabkan aktivitasnya kurang menonjol Pergerakan Indonesia Muda berlandaskan pada asas kebangsaan. Adapun tujuan Indonesia Muda adalah mewujudkan Indonesia Raya. Kegiatan Indonesia Muda meliputi penerbitan majalah Indonesia Muda. Meskipun sudah menyatakan tidak mengikuti kegiatan politik, pemerintah kolonial Belanda tetap mengawasi kegiatan Indonesia Muda. Bahkan, pemerintah kolonial Belanda melarang pelajar sekolah bergabung dalam Indonesia Muda.

    Dalam perkembangannya, anggota Indonesia Muda kesulitan mendapatkan pekerjaan ataupun melanjutkan studi di sekolah pemerintah. Kondisi tersebut disebabkan adanya pembatasan aktivitas dari pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah kolonial Belanda tidak hanya menghalangi gerak anggota Indonesia Muda, tetapi hampir semua anggota organisasi politik dan kepemudaan. Menanggapi kondisi tersebut, Indonesia Muda berniat mengadakan Kongres Pemuda II pada 1936. Akan tetapi, pembatasan aktivitas dari pemerintah kolonial Belanda menyebabkan Indonesia Muda sulit mewujudkan terselenggara. nya kongres tersebut.

    Kongres Pemuda II akhirnya berhasil diselenggarakan pada 1938 di Yogyakarta. Kongres tersebut menghasilkan beberapa keputusan sebagai berikut.

      a. Pembentukan federasi organisasi-organisasi pemuda yang berpusat di Jakarta.
      b. Kata "Kemerdekaan Nusa dan Bangsa” diganti "menjunjung martabat Nusa dan Bangsa" karena pemerintah kolonial Belanda melarang penggunaan kata "kemerdekaan".


4. Makna Penting Sumpah Pemuda

    Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada acara puncak Kongres Pemuda II memiliki makna penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apa makna penting yang terdapat dalam ikrar Sumpah Pemuda? Coba diskusikan dengan teman-teman Anda. Selanjutnya, perhatikan uraian berikut.

a. Penguat Semangat Perjuangan Kemerdekaan

    Butir pertama dalam ikrar Sumpah Pemuda menunjukkan kebanggaan pemuda Indonesia terhadap tanah kelahirannya. Kebanggaan ini selaras dengan cita-cita perjuangan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda bertekad membebaskan tanah air Indonesia dari pengaruh bangsa ain. Pengaruh kolonial Belanda yang terlalu dominan pada masa itu dinilai menghambat perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, peristiwa pengikraran Sumpah Pemuda dijadikan momentum untuk menguatkan semangat mewujudkan Indonesia merdeka.

b. Pengukuhan Semangat Kebangsaan

    Sumpah Pemuda menyumbangkan peran penting dalam proses pengukuhan semangat kebangsaan bagi para pemuda Indonesia. Para pemuda mengakui jati diri mereka sebagai bagian dari sebuah bangsa yang utuh, yaitu bangsa Indonesia. Ikrar Sumpah Pemuda memberikan penekanan bahwa persatuan bangsa merupakan sesuatu yang mutlak. Dengan adanya persatuan, bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di seluruh penjuru dunia.

c. Pendorong Pertumbuhan Bahasa Indonesia

    Sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku yang memiliki kemajemukan bahasa. Menyikapi kondisi tersebut, para pemuda bersepakat menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bertujuan menyatukan gagasan para pemuda yang berasal dari berbagai latar belakang, daerah, dan budaya. Ikrar Sumpah Pemuda menyatakan kedudukan bahasa Indonesia sebagai unsur budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak hanya sebagai alat pemersatu, tetapi juga sebagai ciri dan identitas bersama.

    Sejarawan Taufik Abdullah menyatakan peristiwa pengikraran Sumpah Pemuda merupakan perwujudan sebuah peristiwa besar. Ikrar Sumpah Pemuda dapat dimaknai sebagai sebuah pengakuan fundamental dari sebuah bangsa yang masih dalam tahap pembentukan. Sumpah Pemuda mampu menunjukkan perubahan pesat dari organisasi pemuda bersifat kedaerahan. Organisasi-organisasi tersebut meninggalkan identitas kedaerahannya menuju semangat persatuan.

    Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi momentum berharga bagi perjuangan bangsa Indonesia pada masa pergerakan nasional Ikrar Sumpah Pemuda masih dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini. Semangat Sumpah Pemuda berhasil mengilhami para pemuda Indonesia untuk melakukan perubahan dalam berbagai bidang.


5. Nilai-Nilai Sumpah Pemuda

    Ikar Sumpah Pemuda merupakan peristiwa yang sangat penting dalam dinamika perjuangan bangsa menuju cita-cita Indonesia Merdeka. Ikrar Sumpah Pemuda mengandung nilai-nilai penting sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda sebagai berikut.

a. Rasa Persatuan

    Nilai utama yang terkandung dalam ikrar Sumpah Pemuda adalah nilai persatuan. Nilai persatuan tersebut tecermin dari usaha berbagai organisasi pemuda yang berasal dari berbagai daerah, suku, agama, dan golongan untuk menyatukan pandangan menuju Indonesia merdeka. Perbedaan latar belakang tersebut tidak menghalangi para pemuda untuk bersatu. Para pemuda memiliki kesadaran bahwa perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia tidak akan terwujud tanpa adanya komitmen persatuan.

b. Semangat Kebangsaan

    Peristiwa Sumpah Pemuda secara tidak langsung telah meneguhkan pentingnya semangat kebangsaan atau nasionalisme. Pernyataan satu nusa, bangsa, dan bahasa dalam ikrar Sumpah Pemuda menunjukkan adanya kesadaran jati diri sebagai sebuah bangsa. Kesadaran ini membuktikan adanya semangat kebangsaan.

c. Rasa Cinta terhadap Bangsa dan Tanah Air

    Ikrar Sumpah Pemuda menunjukkan rasa kecintaan terhadap Indonesia. Sikap ini tecermin dari kesetiaan para pemuda untuk membela tanah airnya. Peristiwa Sumpah Pemuda menjadi bukti kecintaan terhadap bangsa telah mendarah daging dalam sanubari para pemuda.

d. Sikap Rela Berkorban

    Perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah air yang terkandung dalam Sumpah Pemuda tidak terlepas dari sikap rela berkorban yang dimiliki oleh para pemuda Indonesia. Sikap ini merujuk pada kerelaan para pemuda untuk memberikan waktu, tenaga, dan pemikirannya demi kepentingan bangsa. Sumpah Pemuda muncul dari kesadaran para pemuda untuk mengedepankan pengorbanan tanpa pamrih demi memperkuat persatuan dan kesatuan.

e. Sikap Toleransi

    Sumpah Pemuda juga menunjukkan adanya sikap menghargai perbedaan (toleransi). Keragaman pandangan yang dimiliki para pemuda tidak menyurutkan semangat mereka untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Para pemuda mengesampingkan kepentingan pribadi dan kepentingan kelompoknya untuk mencapai kemajuan bangsa. Keragaman suku, agama, dan pandangan bukan menjadi penghambat. Keragaman tersebut justru menjadi kekuatan utama untuk menggalang kesatuan bangsa.

f. Semangat Persaudaraan

    Pengikraran Sumpah Pemuda dilandasi semangat persaudaraan yang ditunjukkan oleh para pemuda Indonesia. Meskipun berasal dari organisasi dan daerah berbeda, para pemuda tetap mengedepankan nilai-nilai persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan semangat persaudaraan para pemuda dapat mengantarkan bangsa Indonesia menuju cita-cita kemerdekaan.

    Demikian pemaparan tentang peristiwa pengikraran Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda menjadi tonggak sejarah dalam menyatukan perjuangan seluruh rakyat Indonesia dalam upaya mengusir penjajah. Meskipun perjuangan bangsa Indonesia pada waktu itu belum berhasil mengusir penjajah, sikap persatuan, pantang menyerah, rela berkorban, dan cinta tanah air tokoh-tokoh pendahulu bangsa sudah sepatutnya menjadi teadan dalam kehidupan bermasyarakat pada masa sekarang, bahkan pada masa yang akan datang.






Post a Comment

0 Comments