Sejarah Indonesia XI - Semester 3 - Strategi Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Bangsa-Bangsa Eropa hingga Abad XX - Perlawanan Rakyat terhadap Pemerintah Kolonial Belanda

Sejarah Indonesia XI - Semester 3 - Strategi Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Bangsa-Bangsa Eropa hingga Abad XX - Perlawanan Rakyat terhadap Pemerintah Kolonial Belanda

SEJARAH INDONESIA SMA/MA

Kelas XI Semester 1




BAB 2
Strategi Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Bangsa-Bangsa Eropa hingga Abad XX


Pendalam Materi


    Perlawanan Pangeran Diponegoro merupakan salah satu perlawanan terhadap penjajahan bangsa-bangsa Eropa yang terjadi sebelum abad XX. Perlawanan yang terjadi pada saat itu merupakan perlawanan fisik dan masih bersifat kedaerahan. Bermodalkan senjata tradisional, rakyat menghadapi penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Meskipun menimbulkan banyak korban jiwa, dengan gagah berani rakyat menentang penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Itulah strategi perlawanan rakyat sebelum abad XX. Lantas, bagaimana jalannya perlawanan tersebut? Uraian bab ini akan mengajak Anda menelusuri berbagai perlawanan rakyat terhadap penjajahan bangsa-bangsa Eropa, baik Portugis, Spanyol, Inggris, VOC, maupun pemerintah kolonial Belanda.


B. Perlawanan Rakyat terhadap Pemerintah Kolonial Belanda


    Pembubaran VOC pada 31 Desember 1799 oleh Kerajaan Belanda tidak serta-merta mengakhiri praktik kolonialisme dan imperialisme Eropa di wilayah Kepulauan Indonesia. Dalam perkembangannya, Belanda membentuk pemerintahan kolonial Belanda (pemerintah Hindia Belanda) untuk menjalankan kekuasaan di Indonesia. Kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia justru menyebabkan penderitaan bagi bangsa Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda hanya mementingkan kepentingan Belanda. Akibatnya, berbagai perlawanan terhadap pemerintahan kolonial muncul di berbagai daerah. Rakyat dari berbagai daerah melakukan perlawanan.


1. Perang Tondano

Perhatikan uraian berikut!

    Perang Tondano yang terjadi pada 1808-1809 adalah perang yang melibatkan orang-orang Minahasa di wilayah Sulawesi Utara dan pemerintah kolonial Belanda. Perang pada permulaan abad XIX ini terjadi akibat implementasi politik pemerintah kolonial Belanda, terutama terkait upaya mobilisasi para pemuda dari suku-suku pemberani untuk dilatih menjadi tentara.

    Apa yang dapat Anda simpulkan dari uraian di atas? Kemukakan pendapat Anda secara santun! Perang Tondano terjadi sebagai bentuk perlawanan rakyat Minahasa terhadap dominasi pemerintah kolonial Belanda di wilayah Minahasa. Perang ini terjadi di sekitar Danau Tondano, Sulawesi Utara. Oleh karena itu, perang ini disebut Perang Tondano. Perang Tondano terjadi dalam dua periode, yaitu pada periode kekuasaan VOC dan periode pemerintahan kolonial Belanda. Untuk mengetahui jalannya Perang Tondano pada masa kekuasaan VOC, Anda dapat menelusuri berbagai literatur. Sementara itu, Perang Tondano pada masa kolonial Belanda dapat Anda perhatikan pada uraian berikut

a. Latar Belakang Perlawanan

    Perang Tondano melawan pemerintahan kolonial Belanda terjadi pada permulaan abad XIX, tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. Perang ini dilatarbelakangi oleh kebijakan Gubernur Jenderal Daendels yang mendapat mandat untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Oleh karena itu, Gubernur Jenderal Daendels memerlukan pasukan dalam jumlah besar. Untuk menambah jumlah pasukan, Gubernur Jenderal Daendels merekrut pasukan dari kalangan pribumi. Mereka yang dipilih adalah orang-orang dari suku yang memiliki keberanian perang, seperti orang-orang Madura, Dayak, dan Minahasa.

    Untuk merealisasikan penambahan jumah pasukan, Gubernur Jenderal Daendels melalui Kapten Hartingh, memerintahkan Residen Manado Prediger untuk mengumpulkan para ukung (pemimpin adat) agar menyediakan pasukan untuk dikirim ke Jawa. Akan tetapi, kebijakan Gubernur Jenderal Daendels ini ditolak oleh masyarakat Minahasa. Banyak ukung meninggalkan rumah. Mereka justru meng. adakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Salah satu pemimpin per lawanan itu adalah ukung Lonto. la menegaskan rakyat Minahasa harus melawan pemerintah kolonial Belanda sebagai bentuk penolakan terhadap pengiriman pemuda Minahasa ke Jawa. Selain itu, perlawanan dilakukan sebagai bentuk penolakan kebijakan kolonial yang memaksa agar rakyat menyerahkan beras secara cuma cuma kepada pemerintah kolonial Belanda.

b. Jalannya Perlawanan

    Menghadapi aksi perlawanan rakyat Minahasa, pemerintah kolonial Belanda' segera mengambil tindakan untuk menyerang pertahanan orang-orang Minahasa di Tondano, Belanda kemudian menerapkan strategi membendung Sungai Temberan. Selain itu, Belanda menyerang permukiman masyarakat Minahasa di sekitar Danau Tondano melalui darat dan air.

    Pada 23 Oktober 1808 Belanda mulai melakukan penyerangan. Pasukan Belanda yang berpusat di Danau Tondano berhasil melakukan serangan dan merusak pagar bambu berduri yang membatasi danau dan perkampungan Minawanua. Atas tindakan tersebut, pasukan Belanda berhasil menerobos pertahanan orang-orang Minahasa di Minawanua. Meskipun demikian, pasukan Belanda mendapat perlawanan keras dari orang-orang Minahasa di Minawanua.

    Pasukan Belanda terus menyerang pertahanan orang-orang Minahasa. Sementara itu, orang orang Minahasa terus melakukan perlawanan hingga menyebabkan pasukan Belanda kewalahan. Dalam perkembangannya, Sungai Temberan yang dibendung mulai meluap sehingga mempersulit pergerakan pasukan Belanda. Strategi Belanda tersebut justru menjadi senjata makan tuan. Akhirnya, perang ini berhasil dimenangi oleh masyarakat Minahasa. Perang dinyatakan selesai pada Agustus 1809.


2. Perlawanan Pattimura

    Perhatikan tokoh yang diabadikan menjadi sebuah monumen pada gambar 2.10! Tokoh tersebut adalah Thomas Matulessy atau lebih dikenal dengan nama Pattimura. la merupakan seorang mantan tentara Inggris yang me pemimpin perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonialisme Belanda. Mengapa Pattimura melakukan perlawanan terhadap Belanda? Untuk mengetahui jawabannya, perhati kan pembahasan berikut

a. Latar Belakang Perlawanan

    Kehidupan penduduk di Kepulauan Indonesia, termasuk Maluku mulai membaik ketika berada di bawah kekuasaan pemerintahan Inggris. Pemerintah Inggris berusaha memperhatikan kemakmuran rakyat Akan tetapi, keadaan seperti ini tidak berlangsung lama. Berdasarkan Konvensi London pada 1814, Inggris sepakat menyerahkan kembali beberapa wilayah kekuasaannya, termasuk Maluku kepada Belanda.

    Setelah Belanda kembali menguasai Maluku, Belanda memberlakukan kebijakan apa yang sangat merugikan rakyat Selain kerja rodi, penduduk di harus kan membuat garam dan ikan asin tanpa dibayar untuk diangkut ke kapal-kapal Belanda. Penduduk juga harus. memelihara kebun cengkeh, kopi, dan pala tanpa mendapat upah. Kebijakan tersebut menyebabkan penduduk tertindas dan menderita. Kondisi rakyat yang tertindas semakin tidak menentu setelah muncul isu perekrutan para pemuda untuk dijadikan tentara di luar wilayah Maluku. Kondisi inilah yang melatarbelakangi perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintah kolonial Belanda.

b. Jalannya Perlawanan

    Perlawanan Pattimura berpusat di benteng Duurstede yang terletak di Pulau Saparua, Maluku. Dalam perlawanan tersebut Pattimura dibantu oleh teman-teman seperjuangan seperti Anthonie Rhebok, Thomas Pattiwael, Philip Latumahina, Said Parintah, Ulupaka, dan Christina Martha Tiahahu. Mereka mengobarkan semangat rakyat Maluku untuk melawan kekejaman pemerintah kolonial Belanda.

    Pada 14 Mei 1817 para pemuda mengadakan pertemuan rahasia. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan bahwa benteng Duurstede harus direbut dari tangan Belanda. Setelah pertemuan tersebut, rakyat Maluku mulai bergerak melawan Belanda. Pada 15 Mei 1817 rakyat Maluku membakar perahu-perahu Belanda di pelabuhan Porto. Pasukan Pattimura kemudian mengepung benteng Duurstede. Dalam pertempuran ini Residen van den Berg tertembak mati. Pasukan Pattimura pun berhasil menduduki benteng Duurstede.

    Jatuhnya benteng Duurstede ke tangan pasukan Pattimura makin memicu kemarahan Belanda. Belanda mengirim ekspedisi militer ke Saparua yang terdiri atas 300 orang prajurit untuk merebut kembali benteng Duurstede. Kedatangan ekspedisi militer tersebut sudah diketahui oleh Pattimura. Pattimura kemudian menyiapkan pasukan yang ditempatkan beberapa ratus meter dari pantai tempat pasukan ekspedisi militer mendarat Setelah mendarat dan bergerak beberapa ratus meter pasukan Belanda dihadang oleh pasukan Pattimura. Pasukan ekspedisi militer Belanda tersebut berhasil dikalahkan pasukan Pattimura.

    Pada Juli 1817 Belanda kembali mengirim pasukannya ke Saparua untuk merebut benteng Duurstede, tetapi serangan ini kembali mengalami kegagalan. Akhirnya, benteng Duurstede berhasil diduduki kembali oleh Belanda pada Agustus 1817. Meskipun demikian, pasukan Pattimura tidak menyerah. Pattimura memerintahkan pasukannya meninggalkan benteng Duurstede dan bergerilya melawan pasukan Belanda.

c. Akhir Perlawanan

    Setelah benteng Duurstede berhasil diduduki kembali oleh Belanda, Pattimura dan pengikutnya memilih mundur ke daerah pedalaman. Pemerintah kolonial Belanda kemudian mengadakan sayembara untuk mengakhiri perlawanan Pattimura. Pemerintah kolonial Belanda mengumumkan akan memberi hadiah 1.000 gulden kepada siapa saja yang mampu menangkap Pattimura dan 500 gulden bagi yang berhasil menangkap pemimpin rakyat Maluku lainnya. Hadiah besar yang ditawarkan Belanda tidak menggiurkan rakyat Maluku. Rakyat Maluku tetap pada kegigihannya melawan kolonialisme Belanda. Pada Oktober 1817 Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Melalui serangan tersebut, Belanda dapat menangkap Pattimura, Anthonie Rhebok, Thomas Pattiwael dan Raja Tiow pada November 1817. Pada 16 Desember 1817 Pattimura dihukum mati di tiang gantungan di Ambon. Adapun Christina Martha Tiahahu yang berusaha melanjutkan perang gerilya akhirnya juga tertangkap.


3. Perang Padri

    Perang Padri merupakan perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda yang terjadi di tanah Minangkabau, Sumatra Barat. Perang yang terjadi pada 1821-1837 ini digerakkan oleh para pembaru Islam. Mengapa dan bagaimana Perang Padri terjadi?

a. Latar Belakang Perang

    Perang Padri bermula dari pertentangan antara kaum ulama dan kaum adat dalam masalah praktik keagamaan. Keberadaan kaum ulama dalam masyarakat mudah dikenali dari penampilannya. Mereka biasa berpakaian putih dan berserban. Mereka dijuluki kaum Padri. Sementara itu, kaum adat merupakan kaum yang masih memegang teguh adat dan menjalankan kebiasaan lama seperti berjudi, menyabung ayam, dan mengonsumsi minuman keras.

    Melihat kebiasaan lama kaum adat, kaum Padri berupaya memurnikan ajaran Islam. Upaya kaum Padri memurnikan ajaran Islam memicu kecemasan kaum adat yang terdiri atas raja dan bangsawan Minangkabau. Bahkan, upaya kaum Padri tersebut menyebabkan terjadinya perang saudara. Dalam perang saudara ini, kaum adat terdesak. Selanjutnya, kaum adat meminta bantuan Belanda pada 1821. Kondisi ini dimanfaatkan Belanda untuk turut terlibat dalam urusan Minangkabau. Dalam perkembangannya, keterlibatan Belanda justru memperumit keadaan.

b. Jalannya Perang

    Jalannya Perang Padri dibagi menjadi tiga fase. Ketiga fase tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut

1) Fase Pertama (1821-1825)

    Fase pertama Perang Padri merupakan masa-masa awal Belanda ikut campur dalam urusan kaum adat Fase pertama ini diawali dengan penyerangan kaum Padri terhadap pos-pos dan pencegatan patroli-patroli Belanda. Dalam fase pertama ini pasukan Padri dipimpin oleh Tuanku Pasamah dan Tuanku Nan Renceh. Pasukan Padri melakukan perlawanan di berbagai tempat. Dalam perlawanan ini kaum Padri menang telak atas Belanda dan kaum adat Kaum Padri berhasil menguasai Sungai Puar, Guguk Sigandang, Tajong Alam, dan Bonio.

    Belanda merasa kewalahan menghadapi kaum Padri. Oleh karena itu, Belanda mengambil strategi damai. Pada 26 Januari 1824 Belanda mengadakan kesepakatan dengan kaum Padri untuk melakukan gencatan senjata. Kaum Padri pun menyetujui kesepakatan ini. Akan tetapi, pada masa damai ini Belanda justru memanfaatkan perdamaian tersebut untuk menguasai kembali beberapa wilayah yang sebelumnya telah berhasil dikuasai oleh kaum Padri. Akibatnya, kaum Padri membatalkan perjanjian damai dengan Belanda. Bahkan, pasukan Padri di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol kembali melakukan perawanan terhadap Belanda.

2) Fase Kedua (1825-1830)

    Fase kedua Perang Padri terjadi bersamaan dengan Perang Diponegoro di Jawa. Perang Diponegoro yang membuat Belanda kewalahan memaksa Belanda menarik pasukannya yang ada di berbagai wilayah untuk membantu memadamkan perlawanan pasukan Diponegoro. Oleh karena itu, melalui penguasa sipil dan militer di Sumatra Barat, Kolonel de Strues, Belanda berusaha mengadakan kontak dengan tokoh-tokoh kaum Padri untuk menghentikan perlawanan dan mengajak kaum Padri mengadakan perundingan damai. Akan tetapi, kaum Padri mengabaikan ajakan damai dari Belanda karena Belanda sudah terbiasa bertindak licik.

    Untuk menghentikan perlawanan kaum Padri, Belanda meminta bantuan seorang saudagar keturunan Arab bernama Sulaiman Aljufri untuk mendekati dan membujuk para pemuka kaum Padri agar dapat diajak berdamai. Sulaiman Aljufri kemudian menemui Tuanku Imam Bonjol agar bersedia berdamai dengan Belanda. Tuanku Imam Bonjol menolak ajakan damai tersebut Oleh karena penolakan tersebut, Sulaiman Aljufri menemui Tuanku Lintau. Tuanku Lintau merespons ajakan damai itu. Ajakan damai tersebut juga didukung oleh Tuanku Nan Renceh.

    Kesepakatan damai antara kaum Padri dan Belanda tercapai melalui Perjanjian Padang pada 15 November 1825. Isi Perjanjian Padang sebagai berikut.

      a) Belanda mengakui kekuasaan pemimpin Padri di Batusangkar, Saruaso, Padang Guguk Sigandang, Agam Bukittinggi dan menjamin pelaksanaan sistem agama di daerahnya.
      b) Kedua belah pihak tidak akan saling menyerang.
      c) Kedua belah pihak akan melindungi para pedagang dan orang-orang yang sedang melakukan perjalanan.
      d) Secara bertahap Belanda akan melarang praktik adu ayam.

    Perjanjian ini membuat kaum adat kecewa karena Belanda justru melakukan perdamaian dengan kaum Padri. Masa damai ini dimanfaatkan kaum Padri untuk meng himpun kekuatan. Kaum Padri juga sempat melakukan beberapa serangan ke wilayah kekuasaan kaum adat dan berhasil memukul mundur pasukan Belanda yang menjaganya.

3) Fase Ketiga (1830-1838)

    Fase ketiga Perang Padri terjadi setelah Belanda berhasil memenangi Perang Diponegoro pada 1830. Setelah Perang Diponegoro berakhir, semua kekuatan Belanda dikonsentrasikan ke Sumatera Barat untuk menghadapi kaum Padri.

    Pada fase ketiga ini kaum Padri men dapat dukungan dari kaum adat yang merasa dirugikan oleh Belanda. Kaum Padri dan kaum adat bersatu melawan pasukan Belanda yang berusaha menguasai wilayah Sumatera Barat. Kaum Padri yang mendapat dukungan dari kaum adat bergerak menuju pos-pos tentara Belanda. Kaum Padri dari Bukit Kamang berhasil memutus sarana komunikasi antara benteng Belanda di Tanjung Alam dan Bukittinggi.

    Selain mendatangkan pasukan dari Jawa yang telah memenangi Perang Diponegoro, Belanda menerapkan strategi benteng stelsel seperti ketika menghadapi Perang Diponegoro, Strategi ini juga diterapkan untuk mempersempit ruang gerak kaum Padri. Pada 1834 Belanda memusatkan kekuatannya untuk menyerang pasukan Tuanku Imam Bonjol di Bonjol. Jalan-jalan yang menghubungkan daerah Bonjol dengan pantai sudah diblokade oleh tentara Belanda. Strategi benteng stelsel menyebabkan kaum Padri dan kaum adat semakin terdesak. Bahkan, beberapa pemimpin pasukan Padri telah menyerah.

    Belanda terus mengepung benteng Bonjol yang menjadi pusat kekuatan kaum Padri. Setelah melalui pertempuran sengit, pada 16 Agustus 1837 Belanda dapat merebut benteng Bonjol. Akan tetapi, Tuanku Imam Bonjol dan beberapa pejuang lainnya berhasil meloloskan diri. Untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol, Residen Francis menyerukan perundingan damai kepada Tuanku Imam Bonjol Pada 28 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol ditangkap Belanda dalam perundingan di Palupuh. Tuanku Imam Bonjol kemudian diasingkan ke Cianjur. Selanjutnya, pada 1839 Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Ambon dan pada 1841 dipindahkan ke Manado.


4. Perang Diponegoro

    Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi tekan pati. Artinya, sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Begitulah kiranya semangat perjuangan yang dikobarkan Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda. Mengapa Pangeran Diponegoro mengobarkan perlawanan terhadap Belanda? Apa yang melatarbelakangi terjadinya perang tersebut? Untuk mengetahuinya perhatikan pembahasan berikut

a. Latar Belakang Perang Diponegoro

    Perang Diponegoro juga disebut sebagai Perang Jawa. Mengapa demikian? Coba diskusikan bersama teman teman Anda. Perang ini berlangsung pada 1825-1830. Terdapat dua faktor yang melatarbelakangi terjadinya Perang Diponegoro, yaitu sebab umum dan sebab khusus. Sebab umum meletusnya Perang Diponegoro adalah kekuasaan raja-raja di Yogyakarta semakin sempit karena daerah pantai utara Jawa Tengah dikuasai Belanda. Selain itu, golongan bangsawan dilarang menyewakan tanahnya kepada golongan partikelir/swasta. Kondisi tersebut diperparah dengan kehidupan rakyat yang semakin menderita karena Belanda melakukan tindakan pemerasan. Kemarahan Pangeran Diponegoro semakin bertambah saat Patih Danurejo memerintahkan pematokan tanah milik Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa izin untuk dijadikan jalan. Pemasangan patok (anjir) tersebut direncanakan Patih Danurejo dan Residen Yogyakarta, Antonie Hendrik Smissaert untuk menyingkirkan Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro sangat marah karena di tanah itu terletak makam leluhurnya. Pangeran Diponegoro kemudian mencabut semua patok dan menggantinya dengan bambu runcing sebagai simbol perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebab khusus meletusnya Perang Diponegoro.

b. Jalannya Perang

    Perlawanan Pangeran Diponegoro dimulai pada 1825. Kabar perlawanan Pangeran Diponegoro meluas ke berbagai daerah. Rakyat yang telah lama menderita akibat berbagai kebijakan pemerintah kolonial Belanda turut bergabung dalam perlawanan. Demikian pula para ulama dan bangsawan yang kecewa terhadap pemerintah kolonial Belanda memutuskan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro.

    Dalam perlawanan tersebut, Pangeran Diponegoro memiliki dua tokoh tangguh. Tokoh pertama adalah Kyai Mojo, seorang ulama dari Surakarta yang berperan menguatkan moral pasukan Pangeran Diponegoro. Adapun tokoh kedua adalah Sentot Prawirodirdjo yang menjadi panglima perang Pangeran Diponegoro.

    Pangeran Diponegoro berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal H.M. de Kock, dalam pertempuran-pertempuran yang berlangsung pada 1825-1826. Keberhasilan pasukan Pangeran Diponegoro tersebut disebabkan oleh beberapa faktor berikut.

      1) Semangat perang pasukan Pangeran Diponegoro masih tinggi.
      2) Siasat perang gerilya Pangeran Diponegoro belum tertandingi.
      3) Sebagian pasukan Belanda masih berada di Sumatera Barat menghadapi Perang Padri.

    Dalam perkembangannya, perlawanan Pangeran Diponegoro semakin meluas ke daerah Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang, Rembang, Madiun, dan Magetan. Selain itu, perlawanan Pangeran Diponegoro mendapat dukungan penuh dari rakyat dan para ulama. Lantas, bagaimana strategi yang diterapkan Belanda untuk menghadapi perlawanan pasukan Diponegoro?

    Untuk menghadapi pasukan Diponegoro, Belanda melakukan penyerangan ke pertahanan pasukan Diponegoro. Akan tetapi, serangan tersebut sering gagal karena pos-pos sod-sod tersebut sudah ditinggalkan pasukan Diponegoro. Taktik perang gerilya yang diterapkan Pangeran Diponegoro tersebut sangat menyulitkan Belanda.

c. Berakhirnya Perang

    Pemerintah kolonial Belanda semakin kewalahan menghadapi perlawanan pasukan Diponegoro. Salah seorang komandan Belanda bernama Hendrik Merkus de Kock akhirnya menemukan taktik sistem benteng (benteng stelsel) untuk mengatasi Perang Diponegoro. Taktik benteng stelsel diterapkan dalam bentuk patroli-patroli serangan secara teratur dan terus menerus untuk memaksa lawan ke suatu daerah yang dikehendaki.

    Melalui taktik benteng stelsel Belanda mulai dapat mengatasi pertempuran. Bahkan, ke dudukan pasukan Diponegoro semakin melemah ketika satu per satu daerah pertahanan Pangeran Diponegoro jatuh ke tangan Belanda. Selain itu, satu per satu pengikut Pangeran Diponegoro gugur dan menyerah kepada Belanda.

    Pada 1829 Belanda berhasil memaksa salah satu panglima perang pasukan Diponegoro, yaitu Sentot Prawirodirjo menyerah. Menyerahnya Sentot Prawirodirjo menjadi pukulan berat bagi perjuangan Pangeran Diponegoro. Meskipun demikian, pasukan Pangeran Diponegoro pantang menyerah dan tetap melakukan perlawanan secara gerilya. Belanda pun belum berhasil menangkap dan memadamkan perlawanan Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu, Belanda mengeluarkan sayembara kepada masyarakat Siapa pun yang berhasil menangkap Pangeran Diponegoro akan mendapat hadiah uang tunai sejumlah 20.000 ringgit Meskipun berhadiah besar, masyarakat tidak tertarik untuk mengikuti sayembara tersebut.

    Belanda akhirnya mengusulkan perundingan damai kepada Pangeran Diponegoro pada 1830. Akan tetapi, dalam perundingan di Magelang, Belanda berbuat licik. Komandan Hendrik Merkus de Kock memerintahkan penangkapan terhadap Pangeran Diponegoro. Selanjutnya, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Makassar dan wafat di kota ini pada 8 Januari 1855.


5. Perang Puputan

    Bali merupakan sebuah pulau yang sangat terkenal di Indonesia. Bahkan, masyarakat dunia saat ini cenderung lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Apabila dilihat dari perjalanan sejarah Indonesia sampai awal abad XIX, Bali belum mendapat banyak pengaruh Eropa. Baru pada 1830- an, pemerintah kolonial Belanda aktif menanamkan pengaruhnya di Bali. Dalam perkembangannya, dominasi Belanda di Bali menyulut perlawanan rakyat kepada Belanda yang terkenal dengan sebutan "Perang Puputan". Mengapa rakyat Bali melakukan perlawanan terhadap Belanda? Perhatikan uraian berikut!

a. Latar Belakang Perang

    Pada abad XIX di Bali terdapat sembilan kerajaan, yaitu Klungkung, Gianyar, Badung, Karangasem, Buleleng, Mengwi, Jembrana, Tabanan, dan Bangli. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, pemerintah kolonial Belanda mulai menjalin kontrak dengan kerajaan-kerajaan di Bali. Dalam perkembangannya, pemerintah kolonial Belanda ingin menanamkan pengaruh dan kekuasaannya di Bali. Oleh karena itu, Belanda mengirim dua misi terpisah, yaitu, misi ekonomi di bawah GA. Granpre Moliere dan misi politik di bawah Huskus Koopman.

    Misi politik yang dijalankan Belanda mengalami banyak kendala. Huskus Koopman terus berusaha mendekati raja-raja Bali agar bersedia mengakui keberadaan dan kekuasaan Belanda. Selain itu, misi Belanda terkait penghapusan hukum tawan karang yang berlaku di Bali. Hukum tawan karang adalah hak merampas muatan kapal yang terdampar di pantai wilayah kerajaannya. Keberadaan hukum tersebut menyebabkan Belanda melakukan protes dengan mengajukan berbagai kesepakatan. Akan tetapi, raja-raja Bali tidak menghiraukan protes Belanda tersebut.

    Pada 1846 Belanda mengirim ekspedisi militer ke daerah Buleleng. Sebelum melakukan serangan, Belanda mengeluarkan ultimatum kepada Kerajaan Buleleng yang isinya sebagai berikut.

      1) Menghapus hak tawan karang.
      2) Mengakui kekuasaan Belanda dan menjadi bagiannya.
      3) Memberi perlindungan kepada para pedagang Belanda di Bali.

    Kerajaan Buleleng mengabaikan ultimatum Belanda tersebut. Oleh karena itu, Belanda menyerang Kerajaan Buleleng. Bersama Kerajaan Karangasem, Kerajaan Buleleng menghadapi serbuan militer Belanda. Dalam pertempuran tersebut, seluruh pasukan dari berbagai kerajaan di Bali bersatu. Pasukan gabungan tersebut dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik dari Buleleng.

b. Jalannya Perang

    Patih I Gusti Ketut Jelantik mempersiapkan prajurit Buleleng dan memperkuat pos-pos pertahanan. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Bali, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan ekspedisi militer secara besar-besaran sebanyak tiga kali. Ekspedisi pertama dilakukan pada 1846 dengan kekuatan 1.700 tentara. Pada serangan pertama ini pasukan Belanda menyerang dan membakar puri Buleleng. Dalam penyerangan tersebut, rakyat Buleleng semakin terdesak karena persenjataan Belanda lebih lengkap dan modern. Benteng pertahanan Buleleng dan ibu kota Singaraja berhasil dikuasai Belanda.

    Raja dan patih I Gusti Ketut Jelantik beserta pasukannya terpaksa mundur sampai ke Desa Jagaraga. Pasukan Belanda terus mendesak para pejuang dan memaksa Raja Buleleng untuk menandatangani perjanjian. Isi perjanjian tersebut sebagai berikut.

      1) Dalam waktu tiga bulan Raja Buleleng harus meng hancurkan semua benteng Buleleng yang pernah digunakan dan tidak boleh membangun benteng baru.
      2) Raja Buleleng harus membayar ganti rugi dari biaya perang yang telah dikeluarkan Belanda sebesar 75.000 gulden dan raja harus menyerahkan patih I Gusti Ketut Jelantik kepada pemerintah Belanda.
      3) Belanda diizinkan menempatkan pasukannya di Buleleng.

    Tekanan dan paksaan Belanda dalam perjanjian tersebut dihadapi dengan tipu daya. Raja dan para pejuang berpura-pura menerima isi perjanjian tersebut. Akan tetapi, di balik perjanjian tersebut raja dan I Gusti Ketut Jelantik memperkuat pasukannya. Di bawah pimpinan I Gusti Ketut Jelantik, penduduk Buleleng terutama di Desa Jagaraga dan sekitarnya digerakkan untuk melawan Belanda. Pasukan I Gusti Ketut Jelantik membangun benteng pertahanan yang kuat di Jagaraga. I Gusti Ketut Jelantik juga mengembangkan pertahanan dengan gelar supit urang, yaitu suatu sistem pertahanan dengan model gigit kepiting. Selain itu, sejumlah utusan dikirim kepada raja-raja Bali lainnya untuk meminta dukungan menghadapi pasukan Belanda.

    Pemerintah kolonial Belanda telah mengetahui Buleleng telah mempersiapkan kekuatannya. Setelah memastikan kekuatan Buleleng, Belanda mempersiapkan untuk menyerang Buleleng. Pada 8 Juni 1848 pasukan Belanda menyerang Benteng Jagaraga. Akan tetapi, pertahanan pasukan I Gusti Ketut Jelantik cukup kuat Dalam perlawanan tersebut, pasukan Buleleng didukung oleh ksatria wanita, yaitu istri I Gusti Ketut Jelantik yang bernama Jero Jempiring, Pertahanan yang kuat mampu menggagalkan upaya Belanda.

    Kekalahan Belanda di Jagaraga tidak menyurutkan niat pemerintah kolonial kembali bergerak untuk mendapatkan kemenangan. Pada 1849 Belanda mengirim ekspedisi ketiga dengan kekuatan lebih besar daripada sebelumnya. Belanda mengerahkan 4.000 tentara dengan 3.000 pasukan tenaga pengangkut. Sementara itu, untuk menghadapi kekuatan tentara Belanda yang dilengkapi persenjataan modern, I Gusti Ketut Jelantik bersama pasukannya mengobarkan semangat Perang Puputan.

    Dalam penyerangan tersebut pasukan Bali dan I Gusti Ketut Jelantik lebih memilih gugur di medan perang. Setelah bertempur habis-habisan, Belanda dapat menguasai benteng Jagaraga. Jatuhnya benteng Jagaraga menyebabkan serangan rakyat Bali mengendur. Satu per satu kerajaan di Bali pun berhasil ditaklukkan Belanda. Pada 1908 Belanda berhasil menaklukkan Kerajaan Klungkung. Dengan ditaklukkannya Kerajaan Klungkung, seluruh kerajaan di Bali berhasil dikuasai oleh Belanda.


6. Perang Banjar

    Menjelang akhir abad XIX dan awal abad XX, di wilayah yang sekarang termasuk Provinsi Kalimantan Selatan telah terjadi perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Perlawanan tersebut dikenal dengan Perang Banjar. Apa yang melatarbelakangi terjadinya perang tersebut? Bagaimana jalannya perang tersebut? Untuk mengetahuinya, Anda dapat memindai QR Code di samping atau mengunjungi laman http://digilib.uinsby.ac.id/12904/22/Bab 3.pdf untuk menemukan jawabannya.


7. Perang Aceh

    Perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda juga terjadi di Aceh. Sejak 1830-an hubungan antara Aceh dan Belanda mulai memanas. Penguasaan Belanda atas wilayah Tapanuli telah mengancam kedaulatan Aceh. Oleh karena itu, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan Panglima Polim bersama rakyat Aceh, mengobarkan semangat perang melawan Belanda. Apa yang melatarbelakangi perang tersebut? Bagaimana jalannya perang Aceh?

a. Latar Belakang Perang

    Aceh memiliki kedudukan strategis sehingga Aceh menjadi pusat perdagangan. Daerahnya luas dan memiliki kekayaan sumber daya alam berupa lada, hasil tambang, dan hasil hutan. Dalam rangka mewujudkan Pax Neerlandica, Belanda sangat berambisi menguasai Aceh. Di sisi lain, rakyat Aceh dan para sultan yang pernah berkuasa tetap ingin mempertahankan kedaulatannya di Aceh. Semangat sultan serta rakyat Aceh mempertahankan kedaulatan sudah sesuai isi Traktat London tahun 1824. Berdasarkan Traktat London tahun 1824, Aceh merupakan daerah merdeka sehingga baik Inggris maupun Belanda dapat melakukan perdagangan secara bebas dan bertugas menjaga kedaulatan Aceh.
Isi Traktat London secara resmi menjadi kendala bagi Belanda untuk menguasai Aceh. Akan tetapi, posisi Aceh yang sangat menguntungkan dalam bidang ekonomi mendorong Belanda berusaha menguasai wilayah Aceh. Dengan perhitungan, apabila Belanda menguasai Aceh, Belanda akan menguasai perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, Belanda berusaha mengingkari isi Traktat London yang pernah ditandatangani bersama Inggris. Tindakan Belanda ini menyebabkan terjadinya Perang Aceh.

    Untuk mewujudkan keinginan Belanda menguasai Aceh, Belanda mulai menerapkan politik adu domba. Belanda juga bergerak di wilayah perairan Aceh dan Selat Malaka. Di Selat Malaka, Belanda melakukan penangkapan kapal-kapal milik Aceh yang sedang berlayar. Penangkapan ini dilakukan karena kapal-kapal Aceh dianggap mengganggu pelayaran kapal-kapal Belanda di Selat Malaka. Belanda juga menuduh Aceh telah mempersulit aktivitas perdagangan Belanda di sekitar Malaka. Tindakan Belanda ini menimbulkan kemarahan rakyat Aceh. Oleh karena itu, rakyat Aceh sepakat bersatu melawan Belanda.

b. Jalannya Perang

    Perang Aceh berlangsung dalam tiga fase. Ketiga fase tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut

1) Perang Aceh Fase Pertama (1873-1884)

    Pada 26 Maret 1873 Belanda di bawah pimpinan Jenderal J.H.R. Kohler melakukan serangan terhadap Aceh. Serangan Belanda ini dapat digagalkan oleh perlawanan rakyat Aceh. Dalam serangan tersebut Jenderal Kohler terbunuh. Terbunuhnya Jenderal J.H.R. Kohler memicu kemarahan Belanda. Oleh karena itu, Belanda kembali mengirim pasukan untuk menyerang Aceh.
Pada 18 Desember 1873 Belanda melipatgandakan kekuatan dan melakukan serangan kedua terhadap Aceh. Serangan Belanda ini dipimpin oleh Jenderal van Swieten. Dalam serangan ini Belanda melengkapi pasukannya dengan persenjataan lengkap. Belanda menyerang Aceh dengan pasukan infanteri, kavaleri, dan zeni. Meskipun berhasil menguasai Kotaraja, pasukan Aceh terus melakukan perlawanan. Bahkan, perlawanan pasukan Aceh berhasil mendesak pasukan Belanda. Pasukan Belanda kembali mengalami kegagalan dalam serangan ini.

2) Perang Aceh Fase Kedua (1884-1896)

    Fase kedua perlawanan rakyat Aceh terhadap pemerintah kolonial Belanda semakin memanas. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Aceh, Belanda me nerapkan siasat konsentrasi stelsel. Konsentrasi stelsel adalah strategi memusatkan perhatian dan kekuatan pertahanan di wilayah yang telah dikuasainya. Akan tetapi, siasat tersebut belum efektif mengakhiri Perang Aceh.
Rakyat Aceh melancarkan perang gerilya di bawah pimpinan Teuku Umar. Gerakan pasukan Teuku Umar terus mengalami kemajuan. Dalam perkembangannya, Teuku Umar berpura-pura menyerah kepada Belanda. Setelah mendapatkan senjata dan uang yang cukup, Teuku Umar kembali bergabung dengan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Cut Nyak Dien. Strategi ini berhasil memperdaya pasukan Belanda.

    Pasukan Aceh di bawah pimpinan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien semakin kuat Dalam perkembangannya, pasukan Aceh melakukan perampasan senjata milik pasukan Belanda. Teuku Umar dan Cut Nyak Dien juga menerapkan siasat perang gerilya yang menyulitkan Belanda.
Perlawanan yang dilakukan rakyat Aceh berhasil membuat Belanda kewalahan. Belanda kemudian menyusun strategi lain untuk mengakhiri Perang Aceh. Strategi Belanda dilakukan dengan mendatangkan tokoh yang menguasai agama Islam bernama Snouck Hurgronje ke Aceh. Tugas Snouck Hurgronje adalah menyelidiki adat istiadat dan sosial budaya masyarakat Aceh. Setelah melakukan penyelidikan, Snouck Hurgronje memberikan beberapa saran kepada pemerintah kolonial Belanda tentang rakyat Aceh. Beberapa saran tersebut sebagai berikut.

      a) Pasukan Aceh tidak menghiraukan sultan karena sultan tidak berkuasa.
      b) Pasukan Belanda harus mengadakan perang dengan gerak cepat sehingga pasukan Aceh mengalami kesulitan untuk mencari perlindungan.
      c) Pasukan Belanda sebaiknya tidak menawarkan perundingan karena perundingan tidak akan diterima pasukan Aceh.
      d) Pasukan Belanda harus memerangi golongan agama karena golongan ini sangat berpengaruh
      e) Pasukan Belanda menggunakan siasat untuk kemakmuran rakyat.

3) Perang Aceh Fase Ketiga (1896-1904)

    Pada Perang Aceh fase ketiga Belanda menerapkan taktik yang disarankan oleh Snouck Hurgronje. Melalui taktik tersebut, Belanda berhasil mencerai-beraikan para pemimpin perlawanan. Teuku Umar bergerak ke Aceh bagian barat dan Panglima Polim bergerak di Aceh bagian timur. Di Aceh bagian barat Teuku Umar mempersiapkan pasukannya untuk melakukan penyerangan secara besar besaran. Akan tetapi, persiapan serangan Teuku Umar sudah diketahui Belanda. Belanda segera menyerang benteng pertahanan Teuku Umar. Dalam pertempuran yang terjadi pada 1899 Teuku Umar gugur. Sementara itu, Panglima Polim akhirnya menyerah kepada Belanda pada 1903.
Perlawanan rakyat Aceh belum berakhir. Perlawanan berlanjut di bawah komando Cut Nyak Dien. Meskipun renta raganya, semangat Cut Nyak Dien tetap membara. Cut Nyak Dien terus mengobarkan gerilya melawan Belanda. Meskipun demikian, pos pertahanan Cut Nyak Dien berhasil dikepung tentara Belanda pada 1906. Dalam pengepungan tersebut Cut Nyak Dien berhasil ditangkap.


8. Perang Batak

    Batak merupakan nama sebuah suku di wilayah Sumatera Utara. Penduduk daerah ini diperintah oleh seorang raja yang berkedudukan di Bakkara, Tapanuli dan memiliki kekuatan politik bergelar Sisingamangaraja. Sejak 1870 yang menjadi raja adalah Patuan Bosar Ompu Pulo Batu yang bergelar Sisingamangaraja XII. Pada 1878 Sisingamangaraja XII memimpin rakyat Batak mengangkat senjata melawan Belanda. Mengapa rakyat Batak mengobarkan perang terhadap Belanda?

a. Latar Belakang Perang

    Setelah Perang Padri berakhir, Belanda terus meluaskan pengaruhnya. Belanda mulai memasuki tanah Batak seperti Mandailing, Angkola, Padang Lawas, Sipirok, bahkan sampai Tapanuli. Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi kekuasaan Raja Batak, Sisingamangaraja XII. Masuknya dominasi Belanda ke tanah Batak juga disertai dengan misi penyebaran agama Kristen. Penyebaran agama Kristen ini ditentang oleh Sisingamangaraja XII karena dikhawatirkan perkembangan agama Kristen akan menghilangkan tatanan tradisional dan bentuk kesatuan negeri yang telah turun-temurun. Oleh karena itu, Sisingamangaraja XII menyatakan perlawanan terhadap Belanda.

b. Jalannya Perang

    Pada 1878 Belanda secara resmi melancarkan gerakan militer untuk menaklukkan Batak. Peristiwa ini mengawali terjadinya Perang Batak. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Schelten menuju Bahal Batu untuk menyerang Batak. Sementara itu, rakyat Batak di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII melakukan per lawanan terhadap gerakan pasukan Belanda di Bahal Batu.
Sisingamangaraja XII beserta pasukannya berusaha memberikan perlawanan sekuat tenaga. Akan tetapi, kekuatan pasukan Batak tidak seimbang dengan kekuatan tentara Belanda, sehingga pasukan Sisingamangaraja XII harus ditarik mundur. Meskipun demikian, pasukan Sisingamangaraja XII tetap melakukan penyerangan terhadap pos-pos pertahanan Belanda.

    Dalam perkembangannya, Perang Batak semakin meluas ke daerah-daerah lain. Setelah berhasil meng gagalkan berbagai serangan yang dilancarkan pasukan Sisingamangaraja XII, Belanda mulai bergerak ke Bakkara. Bakkara merupakan benteng dan istana Kerajaan Sisingamangaraja. Dengan jumlah pasukan yang cukup banyak, Belanda mulai mengepung Bakkara. Belanda berhasil menduduki Bakkara setelah gencar melakukan serangan terhadap benteng dan istana Kerajaan Sisingamangaraja. Sisingamangaraja XII dan sisa pasukannya berhasil meloloskan diri dan menyingkir ke daerah Paranginan di bagian selatan Danau Toba.

    Belanda terus mengejar Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja XII terus bergerak ke Lintong, Tambunan, Lagu Boti, dan Balige. Dengan kekuatan pasukannya, Belanda dapat menguasai tempat-tempat itu semua sehingga daerah di sekitar Danau Toba berhasil dikuasai Belanda. Kedudukan pejuang Batak semakin terdesak. Pada 1905 Belanda mendatangkan bantuan dari berbagai penjuru seperti dari utara (Aceh), barat (Sibolga), dan selatan (Sumatra Barat). Dengan pasukan bantuan tersebut, Belanda dapat melakukan pengepungan secara intensif terhadap pasukan Sisingamangaraja XII.

c. Berakhirnya Perang

    Pada 1907 pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Hans Christofel melakukan penyisiran terhadap kampung-kampung di daerah Tapanuli. Penyisiran tersebut bertujuan menangkap Sisingamangaraja XII. Dalam peristiwa ini, Belanda berhasil menangkap Boru Sagala, istri Sisingamangaraja XII dan dua putra Sisingamangaraja XII. Tidak lama berselang, Boru Situmorang, ibu kandung Sisingamangaraja XII juga tertangkap dan dijadikan tawanan oleh Belanda.
Sisingamangaraja XII tetap tidak bersedia menyerahkan diri meskipun istri dan keluarganya telah tertangkap dan menjadi tawanan Belanda. Bersama para pengikutnya, Sisingamangaraja XII tetap berjuang melawan Belanda hingga akhirnya gugur dalam pertempuran di tepi Sungai Aek Sibulbulon pada 17 Juni 1907.

    Demikian beberapa bentuk perlawanan rakyat Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda hingga awal abad XX. Dengan semangat pantang menyerah, rakyat Indonesia di berbagai daerah mengobarkan perlawanan sengit terhadap pemerintah kolonial Belanda. Perjuangan dengan penuh semangat, pantang menyerah, dan kegigihan telah dikobarkan rakyat Indonesia. Akan tetapi, perjuangan rakyat Indonesia pada saat itu belum mampu menghancurkan dominasi pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Meskipun demikian, semangat pantang menyerah dan kegigihan patut Anda teladan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.







Post a Comment

0 Comments