PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Gerak - Bagian 5

PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Gerak - Bagian 5

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 4
Sistem Gerak


Pendalam Materi


Mengamati Peristiwa Patah Tulang


 V. Gangguan Sistem Gerak


Gangguan sistem gerak dapat terjadi pada tulang, persendian, maupun otot. Penyebabnya bermacam-macam, seperti infeksi mikroorganisme, kerusakan fisik akibat kecelakaan, kekurangan garam mineral dan vitamin, gangguan fisiologis, beban aktivitas yang berlebihan, atau kesalahan sikap tubuh.



A. Gangguan pada Tulang



1. Fraktur adalah patah tulang, terjadi jika tenaga yang melawan tulang lebih besar daripada kekuatan tulang. Jenis dan parahnya patah tulang dipengaruhi oleh usia penderita, kelenturan tulang, jenis tulang, dan seberapa besar kekuatan yang melawan tulang.


a. Fraktur simpleks (sederhana/tertutup), yaitu tulang yang patah tidak tampak dari luar.

b. Fraktur kompleks (majemuk/terbuka), yaitu tulang yang patah tampak dari luar karena tulang telah menembus kulit atau kulit mengalami robekan.

c. Fraktur avulsi, yaitu patah tulang yang disebabkan oleh kontraksi otot yang kuat sehingga menarik bagian tulang tempat tendon melekat. Fraktur avulasi sering terjadi pada bahu dan lutut.

d. Fraktur patologis terjadi jika tumor atau kanker telah tumbuh ke dalam tulang dan menyebabkan tulang menjadi rapuh.

e. Patah tulang kompresi (penekanan) disebabkan oleh tekanan suatu tulang terhadap tulang lainnya. Patah tulang kompresi sering terjadi pada wanita lanjut usia yang tulang belakangnya rapuh karena osteoporosis.

f. Fraktur karena tergilas menyebabkan retakan atau pecahan tulang.



2. Gangguan tulang belakang merupakan akibat dari distrofi otot, sindrom Marfan, sindrom Down, sikap tubuh yang buruk, atau penyakit lainnya.


a. Kifosis adalah bentuk tulang belakang melengkung ke arah luar tubuh atau ke belakang yang mengakibatkan penderita menjadi terlihat bongkok.

b. Lordosis adalah tulang belakang bagian lumbar (pinggang) melengkung ke arah dalam tubuh atau ke depan.

c. Skoliosis adalah tulang belakang melengkung ke samping kiri atau ke samping kanan yang membuat penderita bungkuk ke samping.

d. Sublubrikasi adalah kelainan pada tulang belakang bagian leher yang menyebabkan kepala berubah ke arah kiri atau kanan.



3. Gangguan fisiologis tulang, antara lain sebagai berikut.


a. Osteoporosis adalah tulang rapuh, keropos, dan mudah patah. Osteoporosis terjadi akibat berkurangnya hormon testosteron pada laki-laki atau hormon estrogen pada wanita. Osteoporosis juga disebabkan oleh kurangnya asupan kalsium.

b. Rakitis adalah pelunakan tulang pada anak-anak karena kekurangan atau gangguan metabolisme vitamin D, magnesium, fosfor, dan kalsium. Rakitis berpotensi menyebabkan tulang kaki menjadi bengkok membentuk huruf O atau X.

c. Mikrosefalus adalah kelainan pertumbuhan tengkorak sehingga kepala berukuran lebih kecil dari ukuran normal. Mikrosefalus terjadi akibat kegagalan pertumbuhan otak saat bayi setelah terkena infeksi, misalnya meningitis.

d. Hidrosefalus (kepala air) adalah gangguan aliran cairan di dalam otak (cairan serebrospinal) yang menyebabkan pelebaran rongga tempurung otak sehingga kepala membesar.

e. Layuh semu adalah tulang tidak bertenaga akibat infeksi, misalnya infeksi sifilis.



B. Gangguan pada Sendi


1. Terkilir atau keseleo (sprain) adalah gangguan sendi akiba gerakan yang tidak biasa, dipaksakan, atau bergerak secan tiba-tiba. Terkilir dapat menyebabkan memar, bengkak, d rasa sakit.


2. Dislokasi adalah pergeseran tulang penyusun sendi dari posisi normal.


3. Osteoartritis adalah kerusakan dan keausan tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan pada sendi. Penyebab osteoartritis adalah proses penuaan, cedera, kelemahan tulang, atau peng. gunaan sendi yang terlalu berat.


4. Ankilosis adalah sendi tidak dapat digerakkan dan ujung. ujung antartulang terasa bersatu.


5. Urai sendi adalah robeknya selaput sendi yang diikuti oleh terlepasnya ujung tulang sendi.


6. Artritis adalah peradangan pada sendi, yang disertai bengkak, kaku, keterbatasan bergerak. dan rasa sakit, Bentuk-bentuk artritis, antara lain sebagai berikut.

a. Artritis reumatoid adalah penyakit yang timbul karena sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan yang sehat sehingga menyebabkan peradangan yang merusak sendi. Penyakit ini lebih sering diderita oleh wanita berusia 25-55 tahun.

b. Artritis gout adalah kelebihan asam urat di dalam tubuh (hiperutikemia) yang berlangsung bertahun-tahun sehingga terjadi penumpukan asam urat yang mengkristal pada sendi. Penyakit ini sering diderita oleh laki-laki berusia 40-50 tahun.

c. Artritis psoriatik adalah radang sendi yang terjadi pada orang-orang yang menderita psoriasis pada kulit atau kuku. Psoriasis merupakan kelainan kulit menahun yang menyebabkan timbulnya bercak-bercak merah di kulit.

d. Artritis sika adalah berkurangnya minyak sendi (cairan sinovial) yang menimbulkan bunyi dan rasa sakit ketika digerakkan.

e. Artritis eksudatif adalah timbulnya getah radang berupa cairan nanah pada rongga sendi dan menimbulkan rasa sakit jika digerakkan.

f. Artritis septik adalah radang sendi yang disebabkan oleh infeksi bakteri.



C. Gangguan pada Otot


1. Hipertrofi adalah gangguan akibat otot yang berkembang menjadi lebih besar. Hipertrofi dapat disebabkan oleh aktivitas otot yang kuat, berulang-ulang, dan terus-menerus serta nutrisi yang banyak. Hipertrofi terjadi pada orang yang sering berolahraga atau bekerja keras.


2. Atrofi adalah gangguan akibat otot yang mengecil. Atrofi dapat terjadi jika otot tidak digunakan atau tidak digerakkan, misalnya karena kelumpuhan, pemasangan gips, atau penyakit poliomielitis.


3. Distrofi otot adalah penurunan kemampuan otot karena kelainan genetik.


4. Tetanus adalah penyakit kejang otot akibat otot berkontraksi terus-menerus hingga tidak mampu lagi berkontraksi. Tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani.


5. Kram adalah keadaan saat otot tiba-tiba terasa tegang, sulit digerakkan, dan disertai rasa nyeri. Kram terjadi karena tidak melakukan pemanasan dengan benar sebelum berolahraga, kurang lancarnya aliran darah pada bagian tubuh tertentu, kondisi udara dingin, ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh terutama natrium dan kalium, serta kekurangan vitamin tiamin (B1), asam pantotenat (B5), dan piridoksin (B6).


6. Miastenia gravis adalah ketidakmampuan otot berkontraksi schingga penderita mengalami kelumpuhan. Miastenia gravis merupakan penyakit autoimun (sistem kekebalan tubuh kacau dan menyerang tubuh sendiri). Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan kelenjar timus. Miastenia gravis lebih sering terjadi pada wanita dan biasanya mulai timbul pada usia 20-40 tahun.


7. Otot robek adalah robeknya serabut otot yang berakibat bengkak, rasa nyeri, dan pendarahan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh gerakan yang tiba-tiba ketika berolahraga sehingga menyebabkan luka.


8. Otot terkilir (strain) adalah robeknya otot bagian tendon karena teregang melebihi batas normal. Otot terkilir disebabkan oleh pembebanan secara tiba-tiba pada otot.









Post a Comment

0 Comments