PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Pertahanan Tubuh - Bagian 1

PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Pertahanan Tubuh - Bagian 1

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 11
Sistem Pertahanan Tubuh


Pendalam Materi

Mengamati Peristiwa yang Terjadi di Masyarakat



Bacalah kutipan artikel berikut. Kemukakan beberapa pertanyaan kepada guru Anda mengenai hal-hal yang ingin Anda ketahui berkaitan dengan penyakit sistem pertahanan tubuh, yaitu AIDS. Misalnya, mengapa angka kematian penderita AIDS hampir mencapai 100%?


Sistem pertahanan tubuh (sistem imunitas) adalah sistem pertahanan yang berperan dalam mengenal, menghancurkan, serta menetralkan benda-benda asing atau sel-sel abnormal yang berpotensi merugikan bagi tubuh. Kemampuan tubuh untuk menahan atau menghilangkan benda asing serta sel-sel abnormal disebut imunitas (kekebalan). Pada bab ini, akan dibahas fungsi sistem pertahanan tubuh, mekanisme sistem pertahanan tubuh yang meliputi pertahanan nonspesifik maupun spesifik, faktor yang memengaruhi sistem pertahanan tubuh, serta gangguan sistem pertahanan tubuh.



I. Fungsi Sistem Pertahanan Tubuh


Sistem pertahanan tubuh memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut.

•Mempertahankan tubuh dari patogen invasif (dapat masuk ke dalam sel inang), misalnya virus dan bakteri.

•Melindungi tubuh terhadap suatu agen dari lingkungan cksternal yang berasal dari tumbuhan dan hewan (makanan tertentu, serbuk sari, dan rambut binatang) serta zat kimia (obat-obatan dan polutan).

•Menyingkirkan sel-sel yang sudah rusak akibat suatu penyakit atau cedera sehingga memudahkan penyembuhan luka dan perbaikan jaringan.

•Mengenali dan menghancurkan sel abnormal (mutan), seperti kanker.


Sistem imunitas tubuh dapat melakukan respons imunitas yang tidak pada tempatnya sehingga terjadi alergi atau penyakit autoimun. Penyakit autoimun adalah penyakit yang timbul ketika tubuh membentuk antibodi yang melawan sel miliknya sendiri.



II. Mekanisme Pertahanan Tubuh


Tubuh manusia memiliki dua macam mekanisme pertahanan tubuh, yaitu pertahanan nonspesifik (alamiah) dan pertahanan spesifik (adaptif).


A. Pertahanan Nonspesifik (Alamiah)


Pertahanan nonspesifik merupakan imunitas bawaan sejak lahir, berupa komponen normal tubuh yang selalu ditemukan pada individu sehat, dan siap mencegah serta menyingkirkan dengan cepat antigen yang masuk ke dalam tubuh. Pertahanan ini disebut nonspesifik karena tidak ditujukan untuk melawan antigen tertentu, tetapi dapat memberikan respons langsung terhadap berbagai antigen untuk melindungi tubuh. Jumlah komponennya dapat meningkat oleh infeksi, misalnya jumlah sel darah putih akan meningkat jika terjadi infeksi.


Pertahanan nonspesifik meliputi pertahanan fisik, kimia, dan mekanis terhadap agen infeksi; fagositosis; inflamasi; serta zat antimikroorganisme nonspesifik yang diproduksi oleh tubuh.


1. Pertahanan Fisik, Kimia, dan Mekanis terhadap Agen Infeksi


a. Kulit yang sehat dan utuh menjadi garis pertahanan pertama terhadap antigen. Sebaliknya, kulit yang rusak atau hilang (misalnya, akibat luka bakar) akan meningkatkan risiko infeksi. Luka kecil jarang menyebabkan infeksi yang parah karena luka kecil dapat diatasi oleh respons imunitas kulit.

b. Membran mukosa, yang melapisi permukaan bagian dalam tubuh, menyekresikan mukus sehingga dapat memerangkap antigen serta menutup jalan masuk ke sel epitel. Contohnya, partikel yang besar dalam saluran pernapasan akan dikeluarkan saat bersin dan batuk. Partikel kecil dan mikroorganisme yang mungkin lolos dari pertahanan mukus akan ditangkap oleh silia sel epitel untuk dikeluarkan atau ditelan bersama mukus ke dalam saluran pencernaan.

c. Cairan tubuh yang mengandung zat kimia antimikroorganisme membentuk lingkungan yang buruk bagi beberapa mikroorganisme. Contohnya, lisozim yang terkandung dalam keringat, ludah, air mata, dan air susu ibu (ASI) dapat menghancurkan lapisan peptidoglikan dinding sel bakteri. Laktooksidase dan asam neuraminat dalam ASI dapat menghancurkan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus sp. Zat antimikroorganasime lainnya adalah HCl dalam lambung, enzim proteolitik, empedu dalam usus halus, serta keasaman cairan vagina.

d. Pembilasan oleh air mata, saliva, dan urine berperan juga dalam perlindungan terhadap infeksi.


2. Fagositosis


Fagositosis merupakan garis pertahanan ke-2 bagi tubuh terhadap agen infeksi. Fagositosis meliputi proses penelanan dan pencernaan mikroorganisme dan toksin yang berhasil masuk ke dalam tubuh. Proses ini dilakukan oleh neutrofil dan makrofag (derivat monosit). Neutrofil dan makrofag bergerak ke seluruh jaringan secara kemotaksis (dipengaruhi oleh zat kimia). Zat kimia tersebut diproduksi oleh mikroorganisme, leukosit lain, atau komponen sel darah lainnya. Makrofag dapat dibedakan beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.

•Makrofag jaringan ikat (histiosit) merupakan makrofag yang menetap atau berkeliaran.

•Makrofag dan prekursornya (monosit) yang bergabung untuk membentuk sel raksasa asing (sel multinukleus) sebagai barrier (penahan) di antara massa benda asing yang besar dan jaringan tubuh. Contohnya, pada penderita tuberkulosis.

•Sistem fagosit mononukleus (sistem retikuloendotelial) merupakan kombinasi antara monosit fagositik, makrofag bergerak, dan makrofag jaringan tetap. Makrofag jaringan tetap, contohnya makrofag alveolus pada paru-paru, sel Kupffer dalam hati, sel Langerhans pada epidermis, mikroglia pada sistem saraf pusat, sel mesangial pada ginjal, dan sel retikular dalam limpa, nodus limfa, timus, serta sumsum tulang.


3. Inflamasi (peradangan)


Inflamasi adalah reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera. Penyebabnya antara lain terbakar, toksin, produk bakteri, gigitan serangga, atau pukulan keras. Inflamasi dapat bersifat akut (jangka pendek) atau kronik (berlangsung lama). Tanda-tanda lokal respons inflamasi, yaitu kemerahan, panas, pembengkakan, nyeri, atau kehilangan fungsi. Efek inflamasi menyebabkan demam (suhu tubuh tinggi abnormal) hingga infeksi teratasi dan leukositosis (peningkatan jumlah leukosit dalam darah) karena produksi leukosit dalam sumsum tulang meningkat.


Tujuan akhir dari inflamasi adalah membawa fagosit dan protein plasma ke jaringan yang terinfeksi/rusak untuk mengisolasi, menghancurkan, menginaktifkan agen penyerang, membersihkan debris (sel-sel yang rusak atau mati), serta mempersiapkan proses penyembuhan dan perbaikan jaringan.


Rangkaian peritiwa inflamasi, yaitu sebagai berikut.

•Sel yang cedera/rusak memproduksi faktor kimiawi, misalnya histamin (berasal dari sel mast), serotonin (dari trombosit), derivat asam arakidonat (prostaglandin, leukotrin, dan tromboksan), dan kinin (protein plasma yang teraktivasi).

•Faktor kimiawi tersebut menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah), meningkatnya aliran dan volume darah, serta meningkatnya permeabilitas kapiler yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh sehingga terjadi perdarahan dan edema (peningkatan cairan ekstraseluler). Akibatnya, jaringan menjadi tampak kemerahan (eritema), nyeri berdenyut, bengkak, dan panas.

•Pembatasan area cedera terjadi akibat terlepasnya fibrinogen dari plasma ke jaringan. Selanjutnya, fibrinogen berubah menjadi fibrin membentuk bekuan yang mengisolasi area kerusakan dari jaringan yang utuh.

•Kemotaksis fagosit (neutrofil dan monosit) ke arca cedera. Prosesnya terjadi dalam dua tahap, yaitu marginasi (fagosit melekat ke dinding endotelium kapiler yang rusak) dan diapedesis (migrasi fagosit melalui dinding kapiler menuju ke area yang rusak). Neutrofil lebih awal tiba di area yang rusak, kemudian disusul oleh monosit yang akan berubah menjadi makrofag.

•Fagositosis terhadap agen infeksi pada area cedera. Neutrofil dan makrofag akan terurai oleh enzim dan mati setelah menelan banyak mikroorganisme. Sel darah putih, sel jaringan yang mati, dan berbagai cairan tubuh membentuk nanah (pus). Nanah bergerak ke permukaan tubuh atau rongga internal untuk dihancurkan dan diabsorpsi tubuh.


Jika respons inflamasi tidak dapat mengatasi cedera atau infeksi, akan terbentuk abses (kantong nanah) yang dikelilingi oleh jaringan yang terinflamasi. Abses harus dikeluarkan dari tubuh karena sulit terurai.


Tahap pemulihan, yaitu regenerasi jaringan atau pembentukan jaringan parut untuk menggantikan jaringan yang rusak melalui pembelahan mitosis dan proliferasi sel-sel yang sehat di sekitar jaringan yang rusak.


4. Zat antimikroorganisme nonspesifik yang diproduksi tubuh Zat antimikroorganisme nonspesifik ini dapat bekerja tanpa adanya interaksi antigen dan antibodi sebagai pemicu. . Interferon (IFN), yaitu protein antivirus yang dapat disintesis oleh sebagian besar sel tubuh sebagai respons terhadap infeksi virus, stimulasi imunitas, dan stimulan kimia. Interferon berfungsi menghalangi multiplikasi virus. Contohnya, IFN-C (diproduksi oleh leukosit yang terinfeksi virus) dan IFN-B (diproduksi oleh fibroblas yang terinfeksi virus).


Komplemen, yaitu beberapa jenis protein plasma yang tidak aktif, tetapi dapat diaktifkan oleh berbagai bahan dari antigen, seperti liposakarida bakteri. Aktivasi komplemen bertujuan untuk menghancurkan mikroorganisme atau antigen asing, tetapi terkadang menimbulkan kerusakan jaringan tubuh sendiri.







Post a Comment

0 Comments