PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Sirkulasi - Bagian 2

PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Sirkulasi - Bagian 2

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 5
Sistem Sirkulasi


Pendalam Materi



Mengamati Jantung dan Darah pada Manusia


 B. Mekanisme Pembekuan Darah


1. Proses Pembekuan Darah


Apabila terjadi luka dan darah keluar, maka trombosit (keping darah) akan bersentuhan dengan permukaan luka yang kasar dan pecah sehingga mengeluarkan tromboplastin (trombokinase). Trombokinase bersama sama dengan ion Ca dan vitamin K akan mengubah protrombin menjadi trombin. Trombin akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin yang akan menghalangi keluarnya sel-sel darah hingga terjadi pembekuan darah dalam waktu sekitar lima menit.


2. Faktor-Faktor Pembekuan Darah


a. Protrombin adalah senyawa globulin yang larut dalam plasma darah. Protrombin dibuat di dalam hati dengan bantuan vitamin K. Protrombin akan diubah menjadi trombin.

b. Fibrinogen adalah protein plasma yang disintesis di hati dan dapat diubah menjadi fibrin.

c. Ion kalsium merupakan ion anorganik dalam plasma dan serta dapat diperoleh dari makanan dan tulang. Ion kalsium diperlukan pada seluruh tahap proses pembekuan darah.

d. Tromboplastin (trombokinase) adalah protein plasma (enzim) yang disintesis di dalam hati dan memerlukan vitamin K dalam bekerja. Enzim ini merupakan faktor antihemofilia (FAH).

e. Vitamin K adalah vitamin yang sangat penting dalam sintesis protrombin dan faktor pembekuan lainnya di dalam hati, diabsorpsi dari usus, dan bergantung pada garam empedu yang diproduksi hati. Jika saluran empedu tersumbat oleh batu empedu, pembekuan darah akan berkurang.



C. Golongan Darah


Golongan darah adalah klasifikasi darah suatu individu berdasarkan ada atau tidak adanya zat antigen warisan pada permukaan membran sel darah merah. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah tersebut. Antigen dan berupa protein, polisakarida, atau molekul lainnya yang dapat merangsang tubuh untuk menghasilkan antibodi dalam plasma darah. Reaksi antigen dengan antibodi dapat menyebabkan aglutinasi (penggumpalan) sel darah merah sehingga antigen disebut juga aglutinogen, sedangkan antibodi disebut juga aglutinin. Di dunia ini, sebenarnya ditemukan sekitar 46 jenis antigen, tetapi yang sangat dikenal hanya antigen ABO dan Rh (rhesus). Penyebaran golongan darah di dunia bervariasi, bergantung pada populasi atau ras, misalnya sekitar 40 45% bangsa Eropa memiliki golongan darah Rh (rhesus negatif). sedangkan bangsa Indonesia hampir 100% memiliki Rh (rhesus positif) atau kurang dari 1% yang memiliki Rh (rhesus negatif).


1. Penggolongan Darah Sistem ABO


Penggolongan darah sistem ABO ditemukan oleh ilmuwan Austria bernama Karl Landsteiner pada tahun 1930. Penggolongan darah sistem ABO dilakukan berdasarkan ada atau tidak adanya antigen (aglutinogen) tipe A dan tipe B pada permukaan eritrosit serta antibodi (aglutinin) tipe c (anti-A) dan tipe B (anti-B) di dalam plasma darahnya.


2. Penggolongan Darah Sistem Rh (Rhesus)


Penggolongan darah sistem rhesus ditemukan oleh Karl Landsteiner dan Wiener pada tahun 1940 setelah melakukan riset dengan darah kera rhesus (Macaca mulatta), yaitu spesies kera yang banyak dijumpai di India dan Tiongkok.


Penggolongan darah sistem rhesus berdasarkan ada atau tidak adanya aglutinogen (antigen) RhD pada permukaan sel darah merah. Antigen RhD berperan dalam reaksi imunitas tubuh. Individu yang memiliki antigen RhD disebut Rh (rhesus positif), sedangkan individu yang tidak memiliki antigen RhD disebut Rh (rhesus negatif). Individu Rh (rhesus negatif) tidak memiliki aglutinin anti-RhD dalam plasma darahnya, tetapi akan memproduksi aglutinin anti-RhD jika bertemu dengan darah Rh (mengandung antigen RhD).


a. Pengaruh faktor rhesus pada transfusi darah

Jika seseorang yang memiliki darah Rh (rhesus negatif) diberi darah dari donor Rh (rhesus positif), orang tersebut akan segera memproduksi aglutinin anti-RhD. Transfusi tersebut pada awalnya tidak membahayakan, tetapi transfusi darah Rh* selanjutnya akan mengakibatkan hemolisis sel darah merah donor karena aglutinin anti-RhD pada resipien yang terbentuk sudah banyak. Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit sehingga hemoglobin terlepas bebas ke plasma darah. Akibatnya, ginjal harus bekerja keras mengeluarkan sisa pecahan sel-sel darah merah tersebut. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan tujuan transfusi darah gagal, tetapi akan memperparah kondisi resipien.


b. Pengaruh faktor rhesus terhadap janin saat kehamilan

Faktor rhesus tidak berpengaruh terhadap kesehatan, tetapi perlu diperhatikan oleh pasangan ayah-ibu dengan rhesus yang berbeda. Jika ibu memiliki darah rhesus positif dan janin yang dikandungnya memiliki rhesus negatif, perbedaan ini tidak menimbulkan masalah. Namun, jika ibu memiliki darah rhesus negatif, sedangkan janin yang dikandungnya memiliki rhesus positif (warisan dari ayah), tubuh ibu secara alamiah akan bereaksi membentuk zat antibodi anti-RhD untuk melindungi tubuh ibu sekaligus melawan "benda asing" (antigen RhD darah janin). Akibatnya sel darah merah janin akan pecah dan hancur (hemolisis). Kondisi ini dapat menyebabkan kematian janin di dalam rahim atau jika lahir bayi menderita eritroblastosis fetalis, yaitu pembengkakan hati dan limpa, anemia, penyakit kuning (jaundice), dan gagal jantung.


Eritroblastosis fetalis dapat dicegah dengan pemberian injeksi anti-D (Rho) imunoglobulin atau RhoGam pada ibu. RhoGam akan menghancurkan sel darah merah janin yang beredar dalam darah ibu sebelum sel darah merah janin memicu pembentukan antibodi ibu yang dapat menembus ke dalam sirkulasi darah janin. Hal tersebut akan membuat janin terlindung dari serangan antibodi ibu. Injeksi RhoGam terus diulang pada setiap kehamilan selanjutnya, yaitu kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya.



D. Uji Golongan Darah


Uji golongan darah dilakukan dengan serum. Uji golongan darah sistem ABO menggunakan serum anti-A, anti-B, dan anti-AB. Sementara itu, uji golongan darah sistem Rh (rhesus) menggunakan serum anti-D (anti-Rho). Analisis golongan darah dilakukan berdasarkan hasil reaksi penggumpalan darah terhadap jenis serum yang digunakan.



E. Transfusi Darah


Transfusi darah adalah proses mentransfer darah atau produk berbasis darah dari seseorang ke sistem peredaran darah orang lain. Transfusi darah bertujuan untuk menyelamatkan jiwa yang dilakukan pada kondisi medis tertentu, misalnya kehilangan darah dalam jumlah besar akibat dari trauma, operasi, atau tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Transfusi darah juga dapat digunakan untuk mengobati anemia berat, trombositopenia (berkurangnya trombosit) yang disebabkan oleh penyakit darah, gangguan pembekuan darah (hemofilia), dan kelainan darah sel sabit (siklemia) yang memerlukan transfusi darah lebih sering.


Pada awalnya, proses transfusi menggunakan darah secara keseluruhan, tetapi praktik medis modern biasanya hanya menggunakan komponen darah. Darah harus disimpan di dalam lemari es untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan memperlambat metabolisme sel. Transfusi dilakukan 20-30 menit setelah unit darah (kantong darah) dikeluarkan dari lemari tempat penyimpanan agar pasien tidak menggigil. Sebelum proses transfusi rincian pribadi pasien dicocokkan dengan darah yang akan ditransfusikan, untuk mengurangi risiko reaksi transfusi. Sebuah unit darah yang berisi darah 250-500 mL biasanya diberikan selama cmpat jam.


Orang yang memberikan darahnya disebut donor sedangkan orang yang menerima darah disebut resipien. Pada saat transfusi darah diberikan, plasma darah dari donor diencerkan oleh plasma darah resipien sehingga aglutinin (antibodi) donor tidak dapat menyebabkan aglutinasi (penggumpalan). Namun, aglutinogen (antigen) pada sel donor sangat penting dalam transfusi. Jika golongan darah donor tidak cocok dengan golongan darah resipien, maka aglutinin (antibodi) dalam plasma darah resipien akan menggumpalkan sel darah merah donor. Akibatnya, pembuluh darah kecil akan tersumbat dan terjadi hemolisis yang akan melepaskan hemoglobin ke dalam aliran darah. Hemoglobin yang terbawa ke tubulus ginjal akan mengendap dan menutup tubulus sehingga ginjal menjadi tidak berfungsi.


Golongan darah O disebut donor universal karena golongan darah O tidak memiliki aglutinogen (antigen) untuk digumpalkan sehingga dapat diberikan kepada resipien semua golongan darah, asalkan volume transfusinya sedikit. Golongan darah AB disebut resipien universal karena tidak memiliki aglutinin (antibodi) dalam plasma darahnya yang akan menggumpalkan darah sehingga dapat menerima darah dari donor semua golongan darah.








Post a Comment

0 Comments