PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Reproduksi - Bagian 1

PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Reproduksi - Bagian 1

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 10
Sistem Reproduksi


Pendalam Materi


Mengamati Fungsi Organ-organ pada Sistem Reproduksi Manusia



Perhatikan gambar organ-organ penyusun sistem reproduksi berikut. Kemukakan beberapa pertanyaan kepada guru Anda mengenai hal-hal yang ingin Anda ketahui berkaitan dengan sistem reproduksi pada manusia. Misalnya, bagaimanakah proses terbentuknya janin di dalam sistem reproduksi wanita?


Manusia bereproduksi untuk melestarikan jenisnya melalui kelahiran anak-anaknya. Sistem reproduksi manusia diperlukan untuk bereproduksi. Pada bab ini, akan dibahas organ-organ penyusun sistem reproduksi laki-laki maupun wanita, hormon hormon kelamin, pembentukan sel kelamin, kehamilan dan persalinan, gangguan sistem reproduksi, teknologi reproduksi, dan metode kontrasepsi.



I. Sistem Reproduksi Laki-laki


Sistem reproduksi laki-laki tersusun dari organ-organ yang terletak di luar tubuh dan di dalam tubuh. Organ yang terletak di luar tubuh berupa penis dan skrotum, sedangkan organ yang terletak di dalam tubuh berupa saluran pengeluaran dan kelenjar yang menghasilkan hormon-hormon kelamin.



A. Organ Reproduksi Laki-laki


Organ reproduksi laki-laki meliputi skrotum, testis, saluran pengeluaran, kelenjar aksesori, dan penis.


1. Skrotum (kantong pelir) berupa kantong longgar dari kulit, fasia (selaput pembungkus otot), dan otot polos yang membungkus testis di luar tubuh. Skrotum berjumlah sepasang dan dipisahkan oleh septum internal. Setiap skrotum berisi satu testis. Fasia skrotum mengandung otot Dartos yang mampu berkontraksi membentuk kerutan sebagai respons terhadap udara dingin dan rangsangan seksual. Skrotum juga mengandung otot kremaster yang berfungsi mengatur suhu lingkungan testis beberapa derajat lebih rendah daripada suhu tubuh.


2. Testis merupakan sepasang organ lunak yang berbentuk oval dengan ukuran panjang 4-5 cm dan diameter 2,5 cm. Setiap testis dilapisi oleh tunika albuginea, yaitu kapsul jaringan ikat yang merentang ke arah dalam membentuk sekitar 250 lobulus. Di dalam lobulus, terdapat pintalan tubulus seminiferus sebagai tempat terjadinya spermatogenesis. Di dalam tubulus seminiferus, terdapat lapisan epitelium germinal yang mengandung sel-sel batang (spermatogonium), sel-sel Sertoli, dan sel-sel interstisial (Leydig). Sel-sel Sertoli berfungsi memberikan nutrisi bagi spermatozoid yang sedang berkembang dan menghancurkan sel germinativum yang cacat (gagal). Sementara itu, sel sel Leydig berfungsi menyekresikan hormon androgen (testosteron dan dihidrotestosteron).


3. Saluran reproduksi meliputi epididimis, saluran vas deferens, saluran ejakulasi (duktus ejakulatorius), dan uretra.


a. Epididimis merupakan saluran berliku-liku yang sangat panjang (4-6 m), terletak di sepanjang sisi belakang testis, serta berfungsi menyimpan sperma (sekitar enam minggu) hingga menjadi dewasa, motil, dan fertil. Selama eksitasi seksual (ereksi dan meningkatnya keinginan seksual), otot polos dinding saluran akan berkontraksi dan mendorong sperma masuk ke vas deferens.

b. Saluran vas deferens berupa saluran lurus kelanjutan dari epididimis yang meninggalkan skrotum hingga mencapai rongga perut melalui kanalis inguinalis menuju ke kantong semen (vesikula seminalis).

c. Saluran ejakulasi (duktus ejakulatorius) merupakan saluran pendek (sekitar 2 cm) yang menerima sperma dari vas deferens dan menyalurkan sekresi vesikula seminalis. Kedua duktus ejakulatorius bermuara ke uretra.

d. Uretra merupakan saluran kelamin dari kantong semen dan saluran pembuangan urine dari kandung kemih sampai ke ujung penis.


4. Kelenjar aksesori meliputi vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretral).


a. Vesikula seminalis merupakan kantong berkelok-kelok yang bermuara ke dalam duktus ejakulatorius, berukuran panjang sekitar 5 cm, serta menghasilkan cairan kental bersifat basa yang kaya akan fruktosa untuk menutrisi dan melindungi sperma.

b. Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih, menyelubungi uretra bagian atas, serta menghasilkan cairan basa menyerupai susu yang akan meningkatkan motilitas sperma pada pH optimum 6,0-6,5. Kelenjar prostat membesar saat usia remaja hingga usia 20 tahun. Namun, terkadang pada usia sekitar 70 tahun, ukurannya terus bertambah sehingga mengganggu perkemihan.

c. Kelenjar Cowper (bulbouretral) merupakan kelenjar kecil dengan ukuran dan bentuk menyerupai kacang polong yang bermuara ke dalam uretra di penis serta menghasilkan cairan bersifat basa yang mengandung mukus (lendir) untuk pelumasan.


5. Penis terdiri atas tiga bagian, yaitu akar, badan, dan glans penis. Penis berfungsi sebagai organ kopulasi serta pengeluaran urine dan semen. Kulit penis tipis dan tidak berambut, kecuali bagian dekat akar organ.


•Glans penis banyak mengandung ujung-ujung saraf sensoris. Glans penis tertutup oleh lipatan kulit longgar prepusium (kulup), kecuali jika diangkat melalui sirkumsisi (khitan).

•Badan penis terdiri atas tiga massa jaringan erektil silindris yang berongga-rongga dan banyak mengandung pembuluh darah, yaitu dua korpus kavernosum dan satu korpus spongiosum yang membungkus uretra, Jika terdapat rangsangan seksual, jaringan berongga akan terisi penuh oleh darah yang mengakibatkan penis mengembang dan tegang, disebut ereksi.

•Titik kulminasi aksi seksual laki-laki ditandai dengan ejakulasi (penyemprotan semen). Cairan semen berwarna abu-abu kekuningan dengan pH 6,8-8,8. Volume cairan semen yang dikeluarkan saat ejakulasi sekitar 1-0 mL (rata-rata 3 mL), yang mengandung 90% air dan 50-120 juta sperma/mL. Volume sperma sekitar 5% dari volume total cairan semen. Setelah ejakulasi, sperma mampu bertahan hidup sekitar 24-72 jam dalam saluran reproduksi wanita. Sperma dapat disimpan beberapa hari atau dibekukan untuk disimpan lebih dari satu tahun.



B. Hormon Kelamin Laki-laki


Hormon kelamin laki-laki diproduksi oleh testis, hipofisis, dan hipotalamus.


1. Hormon testiskular


a. Testosteron memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut.

(1) Pada saat janin, untuk diferensiasi saluran kelamin internal dan genitalia luar serta menstimulasi penurunan testis ke dalam skrotum.

(2) Ketika mencapai usia pubertas, testosteron berfungsi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan ciri-ciri seks sekunder, seperti perkembangan organ genitalia; pendistribusian rambut sebagai ciri khas laki-laki; pembesaran laring penebalan pita suara yang menghasilkan suara rendah; meningkatkan ketebalan dan tekstur kulit sehingga kulit menjadi lebih gelap dan kasar; meningkatkan aktivitas kelenjar keringat dan sebasea yang terkadang memicu timbulnya jerawat, serta meningkatkan massa otot dan tulang, laju metabolisme, jumlah sel darah merah, dan kapasitas pengikatan oksigen.


b. Androstenedion sebagai perkusor untuk hormon estrogen pada laki-laki.


c. Dihidrotestosteron (DHT) berfungsi untuk pertumbuhan prenatal dan diferensiasi genitalia laki-laki.


d. Inhibin dan protein pengikat androgen dihasilkan oleh sel-sel Sertoli dan berfungsi untuk merespons sekresi FSH.


2. Hormon hipofisis


a. FSH (follicle stimulating hormone) memiliki reseptor pada sel tubulus seminiferus yang berperan dalam spermatogenesis.


b. LH (luteinizing hormone) atau ICSH (interstitial cell stimulating hormone) memiliki reseptor pada sel-sel interstisial yang berfungsi merangsang sel-sel interstisial di dalam testis untuk berkembang dan menyekresikan testosteron.


3. Hormon hipotalamus, yaitu GnRH (gonadotropin releasing hormone), berfungsi merangsang kelenjar hipofisis mengeluarkan LH dan FSH serta mengatur mekanisme umpan balik negatif dalam sintesis dan sekresi testosteron. Jika kadar testosteron menurun, produksi GnRH meningkat. GnRH selanjutnya menstimulasi sekresi FSH dan LH. FSH menstimulasi spermatogenesis, sedangkan LH menstimulasi produksi testosteron. Perkembangan pubertas dipicu oleh peningkatan sekresi GnRH.



C. Gametogenesis pada Laki-laki (Spermatogenesis)


Gametogenesis pada laki-laki disebut spermatogenesis dan terjadi di tubulus seminiferus dalam testis. Spermatogenesis memerlukan waktu sekitar 74 hari. Tahapan spermatogenesis, yaitu sebagai berikut.


1. Mitosis

Spermatogonium berkromosom diploid (2n) yang terletak berdekatan dengan membran basalis tubulus seminiferus berproliferasi melalui pembelahan secara mitosis dan berdiferensiasi menjadi spermatosit primer (2n).


2. Meiosis

Setiap spermatosit primer (2n) membelah pada meiosis I dan membentuk dua spermatosit sekunder (n). Dua spermatosit sekunder (n) membelah pada meiosis II menjadi empat spermatid (n).


3. Spermiogenesis

Masing-masing spermatid (n) mengalami maturasi (pematangan) menjadi spermatozoa (sperma) berkromosom haploid (n). Sperma berukuran 60 um dan terdiri atas kepala, leher, dan ekor. Kepala sperma memiliki nukleus dan dilapisi oleh akrosom yang mengandung enzim untuk menembus ovum. Leher sperma mengandung mitokondria yang memproduksi ATP atau energi untuk pergerakan sperma.


4. Spermiasi Sperma yang sudah dewasa bergerak ke lumen tubulus seminiferus, menuju ke tubulus rekti (tubulus lurus), anyaman saluran testis (rete testis), dan duktus eferen. Sperma selanjutnya akan disalurkan ke epididimis. Pergerakan sperma tersebut disebabkan oleh kontraksi peristaltik otot saluran.







Post a Comment

0 Comments