PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Koordinasi - Bagian 3

PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Koordinasi - Bagian 3

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 9
Sistem Koordinasi


Pendalam Materi

Mengamati Pancaindra dan Fungsinya



III. Sistem Indra


A. Indra Penglihat (Mata)


Mata adalah sistem optik yang memfokuskan berkas cahaya pada fotoreseptor dan mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf. Bagian-bagian mata, yaitu sebagai berikut.


1. Aksesori mata, meliputi:


•Alis untuk melindungi mata dari keringat.

•Orbita merupakan lekukan tulang berisi bola mata.

•Kelopak mata berfungsi melindungi mata dari kekeringan dan debu.

•Otot mata (dua pasang otot rektus dan 1 pasang otot sadak) berfungsi untuk menggerakkan mata ke arah vertikal, horizontal, dan menyilang.

•Air mata mengandung garam, mukosa, dan lisozim untuk membasahi permukaan mata dan mempertahankan kelembapannya.


2. Struktur mata

a. Lapisan luar bola mata terdiri atas sebagai berikut.

•Tunika fibrosa merupakan lapisan terluar yang keras.

•Sklera merupakan bagian dinding mata yang tersusun dari jaringan ikat fibrosa berwarna putih, memberikan bentuk pada bola mata, dan sebagai tempat perlekatan otot ekstrinsik.

•Kornea berfungsi untuk mentransmisi dan memfokuskan cahaya.


b. Lapisan tengah bola mata terdiri atas sebagai berikut.

•Koroid merupakan bagian yang terpigmentasi, berfungsi untuk mencegah refleksi internal berkas cahaya, dan mengandung banyak pembuluh darah untuk memberikan nutrisi.

•Badan siliari mengandung pembuluh darah dan otot bersilia yang berfungsi dalam akomodasi penglihatan (mengubah fokus objek).

•Iris merupakan bagian yang berwarna pada mata serta terdiri atas jaringan ikat dan otot untuk mengendalikan diameter pupil.

•Pupil merupakan ruang terbuka yang bulat pada iris untuk dilalui cahaya.


c. Lensa merupakan struktur bikonveks yang bening di belakang pupil dan bersifat elastis.


d. Rongga mata memiliki ruang anterior berisi aqueous humor (cairan bening yang mengandung nutrisi untuk lensa dan kornea), sedangkan ruang posterior berisi vitreous humor (gel transparan untuk mempertahankan bentuk bola mata dan posisi retina terhadap kornea).


e. Retina (selaput jala) merupakan lapisan terdalam mata, tipis dan transparan. Retina tersusun dari bagian-bagian berikut.

•Bagian luar terpigmentasi dan menyimpan vitamin A.

•Bagian dalam merupakan lapisan jaringan saraf dari sel-sel batang dan sel-sel kerucut. Sel batang mengandung pigmen rodopsin, tidak sensitif terhadap warna, dan bekerja pada intensitas cahaya rendah (malam hari). Sementara itu, sel kerucut mengandung iodopsin, sensitif terhadap warna, dan bekerja saat intensitas cahaya tinggi (siang hari).

•Lutea makula merupakan area berkas berwarna kekuningan terletak agak lateral dari pusat.

•Fovea sentralis (bintik kuning) merupakan pelekukan sentral lutea makula yang mengandung sel kerucut dan tidak memiliki sel batang. Bintik kuning merupakan pusat visual mata (bayangan objek yang terfokus di bagian ini akan diinterpretasikan oleh otak). Jika bayangan benda jatuh tepat di bintik kuning, bayangan akan terlihat dengan jelas.

  •Saraf mata terbentuk dari akson sel-sel ganglion yang keluar dari mata dan bergabung di sisi superior kelenjar hipofisis membentuk kiasma optik.

  •Bintik buta (diskus optik), merupakan bagian yang tidak mengandung fotoreseptor.


1. Mekanisme Melihat


Mekanisme melihat suatu benda adalah sebagai berikut:

1. Cahaya yang dipantulkan oleh benda ditangkap oleh mata, kemudian menembus kornea dan diteruskan melalui pupil.

2. Intensitas cahaya yang telah diatur oleh pupil diteruskan menembus lensa mata ke retina.

3. Daya akomodasi lensa mata mengatur cahaya agar jatuh tepat di bintik kuning retina

4. Pada bintik kuning, impuls cahaya disampaikan oleh saraf optik ke otak.

5. Cahaya yang disampaikan ke otak akan diinterpretasikan sehingga kita bisa mengetahui apa yang kita lihat.


Mata yang dapat memfokuskan cahaya tepat pada bintik kuning disebut mata normal (emetropia). Mata normal dapat melihat benda pada jarak jauh maupun dekat. Jarak benda terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas disebut titik jauh. Jarak benda terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas disebut titik dekat. Semakin bertambah umur, semakin jauh pula titik dekat seseorang.


2. Adaptasi terhadap Gelap dan Terang


Adaptasi gelap dan terang adalah penyesuaian penglihatan secara otomatis terhadap intensitas cahaya yang memasuki retina saat bergerak dari tempat gelap ke tempat terang, atau sebaliknya. Adaptasi gelap maksimum 20 menit, sedangkan adaptasi terang sekitar 5 menit.


Dalam cahaya terang, semua rodopsin yang ada akan terurai dengan cepat dan hanya tersisa sedikit untuk membentuk potensial aksi dalam sel batang. Oleh karena itu, jika berpindah dari tempat yang intensitas cahayanya tinggi ke tempat yang intensitas cahayanya rendah, diperlukan waktu adaptasi beberapa saat untuk menyintesis ulang dan mengumpulkan cadangan rodopsin agar dapat melihat kembali dengan jelas pada intensitas cahaya rendah. Sintesis rodopsin dan iodopsin memerlukan vitamin A. Sementara itu, vitamin B dibutuhkan untuk mendukung fungsi sempurna retina dan jaringan saraf.


Adaptasi gelap dan terang juga melibatkan refleks pupil. Pupil berfungsi sebagai jalan masuknya cahaya ke mata. Pupil mata akan melebar jika kondisi ruangan gelap dan akan menyempit jika kondisi ruangan terang.


3. Gangguan/Kelainan Mata


•Miopia (rabun jauh) merupakan gangguan berupa mata tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh karena fokus bayangan jatuh di depan retina. Umumnya, terjadi pada pelajar remaja. Rabun jauh dapat dibantu dengan kacamata lensa minus (cekung/konkaf).

•Hipermetropia (hiperopia/rabun dekat), tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat karena fokus bayangan jatuh di belakang retina. Rabun jauh dapat dibantu dengan kacamata berlensa plus (cembung/konveks).

•Presbiopia merupakan gangguan berupa mata tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat maupun jauh. Gangguan ini dapat dibantu dengan kacamata lensa rangkap dan umum terjadi pada orang lanjut usia (lansia).

•Kebutaan merupakan gangguan berupa mata tidak dapat melihat benda apapun, umumnya disebabkan oleh kecelakaan. Kerabunan merupakan gangguan berupa mata hanya dapat melihat dengan samar-samar, umumnya disebabkan oleh kecelakaan.

•Rabun senja merupakan gangguan berupa mata tidak bisa melihat dengan jelas pada saat sore hari saja, akibat kekurangan vitamin A.

•Buta warna merupakan penyakit keturunan yang menyebabkan seseorang tidak mampu mempresentasikan warna. Buta warna total merupakan kelainan yang menyebabkan mata sama sekali tidak dapat membedakan warna. Warna yang dapat dilihat hanyalah warna hitam, abu-abu, dan putih. Buta warna parsial merupakan kelainan yang menyebabkan mata tidak dapat membedakan warna tertentu.

•Katarak merupakan penebalan kepada lensa mata yang menyebabkan penglihatan seseorang menjadi buram. Gangguan ini umum terjadi pada orang lanjut usia.

•Astigmatisma merupakan gangguan berupa kelengkungan kornea yang tidak merata. Gangguan ini dapat menyebabkan ketidakteraturan lengkung-lengkung permukaan bias mata. Akibatnya, menyebabkan cahaya tidak fokus pada satu titik retina (bintik kuning). Astigmatisma dapat dibantu dengan kacamata silinder/operasi.

•Mata juling (strabismus) merupakan suatu kondisi ketika kedua mata tampak tidak searah atau memandang pada dua titik yang berbeda. Strabismus disebabkan oleh faktor keturunan, komplikasi penyakit mata, gangguan otot dan saraf, atau kecelakaan. Gangguan ini dapat diatasi dengan operasi.


B. Indra Pembau (Hidung)


Hidung (nasal) sebagai indra pembau (penciuman) memiliki kemoreseptor olfaktori yang berfungsi menerima rangsangan berupa bau atau zat kimia yang berbentuk gas. Kemoreseptor olfaktori merupakan neuron khusus yang terletak pada epitelium olfaktori di langit-langit rongga hidung. Epitelium olfaktori mengandung sel penunjang, sel basal, dan sel olfaktori. Sel olfaktori berupa neuron bipolar yang berakhir pada rambut- rambut halus (silia) yang menonjol ke dalam mukus di dalam rongga hidung


Mekanisme menghidu: gas masuk ke hidung → larut pada selaput mukosa → merangsang silia sel reseptor rangsangan diteruskan ke otak untuk diolah jenis bau dapat diketahui.


Kemoreseptor olfaktori mengadaptasi bau dengan cepat, tetapi terkadang tidak dapat menyadari bau yang menyengat hingga sekitar 1 menit. Penyakit influenza menghasilkan lendir/ sputum sehingga menghalangi bau untuk mencapai ujung saraf pembau.


1. Gangguan Indra Pembau


•Hiposmia (indra penciuman kurang mampu mencium bau) dan anosmia (indra penciuman sama sekali tidak dapat mencium bau) dapat disebabkan oleh tersumbatnya rongga hidung, misalnya akibat polip, pilek, atau tumor. Hiposmia dan anosmia berpotensi mengakibatkan gangguan pada indra pengecap lidah sehingga seseorang menjadi kurang berselera makan.


•Hiperosmia (lebih peka terhadap bau-bauan), contohnya kemampuan untuk mengenali bau parfum seseorang sebelum tampak orangnya. Hiperosmia dapat terjadi akibat sakit kepala, migrain, penyakit Addison, dan pengaruh obat-obatan.


•Sinusitis, yaitu radang tulang-tulang tengkorak di sekitar hidung yang berongga dan berisi udara. Gejala penyakit ini adalah sering batuk dan pilek.


•Polip, yaitu pembengkakan jaringan yang terjadi di dalam hidung dan pengeluaran banyak cairan/lendir. Polip berkaitan dengan penyakit THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), seperti alergi, inflamasi mukosa, asma, infeksi, dan radang. Polip dapat diatasi dengan cara operasi.


C. Indra Pengecap (Lidah)


Lidah sebagai indra pengecap memiliki kemoreseptor berupa kuncup pengecap (taste bud). Kuncup pengecap terdapat pada papila lidah, palatum (langit-langit) lunak, epiglotis, dan faring. Papila lidah dapat dibedakan menjadi empat macam berdasarkan bentuknya, yaitu sebagai berikut.


•Papila filiformis berbentuk kerucut, kecil, menutupi bagian dorsum lidah (permukaan atas), dan tidak mengandung kuncup pengecap.

•Papila fungiformis berbentuk bulat, banyak terdapat di dekat ujung lidah, dan mengandung lima kuncup pengecap pada setiap papila.

•Papila sirkumvalata berbentuk menonjol dan tersusun seperti huruf V, banyak terdapat di bagian belakang lidah, serta mengandung 100 kuncup pengecap.

•Papila foliata berbentuk seperti daun, terletak di bagian tepi pangkal lidah, dan mengandung sekitar 1.300 kuncup pengecap di setiap lipatannya.


Kuncup pengecap terdiri atas sel-sel penunjang dan sel sensor (sel pengecap) yang berambut. Substansi yang dirasakan harus berbentuk cairan atau larut dalam air ludah. Area kepekaan rasa pada lidah adalah sebagai berikut.

•Pengecap rasa manis terdapat di bagian ujung lidah.

•Pengecap rasa asin terdapat pada hampir seluruh area lidah, tetapi reseptor banyak terkumpul di bagian samping.

•Pengecap rasa asam terdapat di bagian samping lidah agak ke belakang.

•Pengecap pahit terdapat di bagian belakang pangkal lidah.








Post a Comment

0 Comments