PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Reproduksi - Bagian 3

PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Reproduksi - Bagian 3

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 10
Sistem Reproduksi


Pendalam Materi


Mengamati Fungsi Organ-organ pada Sistem Reproduksi Manusia


E. Pembuahan (Fertilisasi), Kehamilan (Gestasi), dan Persalinan (Partus)


1. Pembuahan (Fertilisasi)


Fertilisasi adalah penyatuan sperma dengan oosit sekunder untuk membentuk zigot. Zigot merupakan sel diploid dengan kromosom yang berasal dari ayah dan ibu. Sekitar 250-400 juta sperma masuk ke dalam vagina melalui ejakulasi semen laki-laki. Akrosom sperma melepaskan enzim hidrolitik untuk menembus sel korona radiata dan zona pelusida oosit, kemudian zona pelusida menjadi kebal (tidak dapat tertembus oleh sperma lainnya).


2. Kehamilan (Gestasi)


Setelah terjadi fertilisasi, berlanjut ke masa gestasi (kehamilan), yaitu perkembangan embrio menjadi janin hingga kelahiran bayi. Lama kehamilan 266 hari (38 minggu) dari waktu fertilisasi hingga kelahiran. Waktu fertilisasi tidak dapat diketahui secara pasti, tanggal kelahiran dihitung berdasarkan waktu haid terakhir. Jika siklus menstruasi dihitung 28 hari, partus terjadi pada hari ke-288 (40 minggu atau 9 bulan kalender).


Dua minggu pertama setelah fertilisasi, zigot membelah secara mitosis dengan cepat menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, kemudian 16-32 sel yang berbentuk seperti bola padat, disebut morula. Morula tumbuh menjadi blastosit (sel bola berongga) yang berisi cairan blastosoel. Sel-sel blastosit bagian luar (tropoblas) membentuk tonjolan-tonjolan ke arah endometrium, menghasilkan enzim proteolitik yang mengikis sel-sel endometrium dan pembuluh darah, membantu implantasi, serta membentuk plasenta (ari-ari) dan membran yang membungkus embrio. Plasenta berfungsi sebagai sistem pencernaan, pernapasan, dan ekskresi bagi janin.

Janin dilindungi oleh beberapa membran, yaitu sebagai berikut.


•Amnion membentuk langit-langit berongga yang terisi cairan amnion (ketuban). Amnion berfungsi melindungi janin dari guncangan, perubahan suhu, serta memungkinkan bayi bergerak dengan bebas.

•Kantong kuning telur (sakus vitelinus) terbentuk di dalam endoderm serta berfungsi sebagai organ pencernaan dan pernapasan awal, membentuk sel-sel darah dan pembuluh darah, serta pertumbuhan gonad primitif embrio.

•Korion merupakan membran terluar yang membentuk vili korionik (jonjot endometrium) dan plasenta serta menyekresikan hormon HCG.

•Alantois merupakan membran yang mengandung banyak pembuluh darah (arteri dan vena umbilikus) dan membentuk tali pusar yang menghubungkan janin dengan plasenta pada endometrium uterus ibu.


Sel-sel blastosit bagian dalam berkembang menjadi embrioblas (bakal embrio) yang memiliki tiga lapisan jaringan dasar, yaitu sebagai berikut.

•Ektoderm (lapisan terluar) akan membentuk sistem saraf, indra, kulit, dan kelenjar endokrin.

•Endoderm (lapisan dalam) membentuk saluran pencernaan dan pernapasan.

•Mesoderm (lapisan tengah) terbentuk di antara ektoderm dan endoderm. Mesoderm akan membentuk sistem rangka, urinaria, sistem sirkulasi, dan sistem reproduksi.


Semua sistem organ tubuh janin telah terbentuk setelah minggu ke-8. Perkembangan janin (fetus) selanjutnya berkaitan dengan diferensiasi organ-organ sebagai berikut:

•Pada minggu ke-9 sampai ke-12 (bulan ke-3), terjadi pertumbuhan panjang tubuh yang cepat, genitalia luar berdiferensiasi menjadi organ reproduksi laki-laki atau perempuan. Pertumbuhan kepala terjadi dengan lambat.

•Pada minggu ke-13 sampai ke-16 (bulan ke-4), terbentuk karakteristik wajah, rambut, alis, dan tangan. Panjang janin sekitar 13-17 cm.

•Pada minggu ke-17 sampai ke-20 (bulan ke-5), pertumbuhan melambat, sudah terbentuk kaki dan tangan, kulit tertutup rambut halus serta dilapisi campuran sebum dan sel-sel epidermis yang mati. Gerakan janin semakin cepat sehingga dapat dirasakan oleh ibu.

•Pada minggu ke-21 sampai ke-25 (bulan ke- 6), kulit tampak berkerut dan kemerahan serta berat janin mencapai 900 gram.

•Pada minggu ke-26 sampai ke-29 (bulan ke- 7), kulit berlemak sehingga tidak berkerut dan kelopak mata sudah tidak menempel.

•Pada minggu ke-30 sampai ke-33 (bulan ke-8), testis sudah turun ke dalam skrotum dan semua indra sudah mulai berfungsi.

•Pada minggu ke-34 sampai ke-38 (bulan ke-9), panjang janin sekitar 50 cm, berat badan sekitar 3,25 kg, kepala menghadap ke serviks, dan siap dilahirkan. Jika bokong yang menghadap ke serviks, disebut sungsang.


3. Persalinan (Partus)


Persalinan adalah proses kelahiran bayi. Persalinan dipengaruhi oleh hormon relaksin, estrogen, oksitosin, prostaglandin, dan CRH (corticotropin releasing hormone). Persalinan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu dilatasi serviks, kelahiran bayi, dan kelahiran plasenta.


a. Dilatasi serviks (pembukaan), yaitu serviks dipaksa melebar untuk jalan kepala bayi (sekitar 10 cm). Tahap ini paling lama, terjadi mulai dari beberapa jam hingga 24 jam.

b. Kelahiran bayi, yaitu bayi mulai bergerak melewati serviks dan vagina. Ibu dapat membantu mengeluarkan bayinya dengan cara sengaja mengontraksikan otot-otot dinding abdomen (perut) bersamaan dengan kontraksi uterus ("mengejan"). Kelahiran bayi berlangsung selama 30-90 menit.

c. Kelahiran plasenta terjadi segera setelah bayi lahir. Uterus berkontraksi lagi untuk memisahkan plasenta dari miometrium dan mengeluarkannya melalui vagina. Kelahiran plasenta berlangsung 15-30 menit.



F. Terjadinya Anak Kembar


Berdasarkan asal-usul zigot, kembar dibedakan menjadi dua macam, yaitu kembar fraternal (dizigotik) dan identik (monozigotik).


•Kembar fraternal (dizigotik) terjadi karena terbentuknya zigot yang berasal dari sel telur yang berbeda. Proses ovulasi terkadang dapat melepaskan lebih dari satu sel telur yang matang. Selanjutnya, sel-sel telur tersebut dibuahi oleh sel-sel sperma dalam waktu yang bersamaan sehingga terdapat lebih dari satu zigot yang akan tumbuh menjadi janin. Janin kembar fraternal mempunyai plasenta, tali pusar, dan kantong ketuban yang berbeda. Bakat melahirkan anak kembar dizigotik bersifat genetik (dapat diwariskan kepada keturunannya).


Kembar identik (monozigotik) terjadi ketika satu sel telur dibuahi oleh satu sperma yang kemudian menghasilkan satu zigot. Zigot tersebut membelah menjadi dua embrio yang berbeda dan berkembang menjadi dua janin yang berbagi amnion atau plasenta yang sama. Meskipun berbagi plasenta, tetapi biasanya janin memiliki tali pusar dan kantong ketuban yang berbeda.



G. Laktasi


Laktasi adalah proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI (air susu ibu). Laktasi dipengaruhi oleh beberapa hormon sebagai berikut.

•Selama kehamilan, estrogen merangsang perkembangan duktus (saluran) kelenjar, sedangkan progesteron merangsang pembentukan alveolus lobulus dalam payudara. Sejak bulan ke-2 kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL (human placental lactogen) yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan areola. Prolaktin dan somatomammotropin korionik merangsang perkembangan kelenjar mamae dengan menyintesis enzim-enzim untuk memproduksi susu.

•Penurunan mendadak estrogen dan progesteron akibat keluarnya plasenta saat kelahiran akan memicu laktasi.

•Oksitosin merangsang pengeluaran susu. Stres psikologis ibu dapat menghambat pengeluaran susu. Sebaliknya, sikap positif ibu yang sedang menyusui akan mendukung keberhasilan proses menyusui.


1. Manfaat ASI bagi Bayi


•Mudah dicerna dan mengandung nutrisi yang optimal baik, secara kuantitas maupun kualitas. Komposisi susu setiap spesies sesuai dengan kebutuhan tumbuh dan kembang masing-masing spesies. ASI mengandung air, lemak trigliserida, laktosa (gula susu), sejumlah protein, vitamin, mineral kalsium, dan fosfor.

•Meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Kolostrum (susu yang dihasilkan pada tahap akhir kehamilan dan beberapa hari setelah kelahiran) sangat baik untuk bayi karena mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi, terutama imunoglobulin A (IgA) yang dapat melindungi usus dari infeksi serta mencegah alergi makanan. Kolostrum agak kental dan berwarna kekuningan.

•Meningkatkan kecerdasan bayi. ASI mengandung zat gizi DHA (docosa hexaenoic acid) dan AA (arachidonic acid) untuk menunjang pertumbuhan otak dan sistem penglihatan (retina); laktosa untuk pertumbuhan otak; kolesterol untuk pembentukan mielin jaringan saraf, taurin untuk mengatur detak jantung, menstabilkan membran sel, dan memelihara sel-sel otak; kolin untuk meningkatkan daya ingat: serta mengandung lebih dari 100 macam enzim.

•Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan anak. Anak akan merasa nyaman dalam pelukan ibu.


2. Manfaat Menyusui bagi Ibu

•Berat badan cepat kembali normal setelah hamil dan melahirkan.

•Merangsang uterus untuk kembali ke bentuk semula (involusi).

•Sebagai kontrasepsi alamiah karena menyusui cenderung mencegah ovulasi (meskipun bukan cara kontrasepsi yang efektif).

•Mengurangi risiko kanker payudara, kanker ovarium, kanker rahim, osteoporosis, dan artritis.

•Mengurangi stres dan gelisah.

•Menghemat pengeluaran keuangan keluarga.



III. Gangguan Sistem Reproduksi


1. Gangguan Sistem Reproduksi Wanita


•Dismenore adalah rasa nyeri pada saat haid tanpa tanda-tanda infeksi, disebabkan oleh sekresi prostaglandin yang berlebihan sehingga merangsang kontraksi otot polos miometrium dan konstriksi (penyempitan) pembuluh darah uterus.

•Penyakit radang panggul (PRP) adalah radang saluran genitalia (uterus, tuba Fallopi, dan ovarium) akibat infeksi bakteri seperti Escherichia coli, Neisseria gonorrhoeae, dan Chlamydia trachomatis.

•Kanker payudara dipengaruhi oleh faktor genetik, hormon, dan lingkungan. Umumnya, diderita oleh wanita berusia 45-64 tahun.

•Amenore primer, yaitu gejala tidak terjadinya menstruasi hingga usia 17 tahun. Amenore sekunder, yaitu tidak terjadi menstruasi selama 3-6 bulan pada wanita yang telah mengalami siklus menstruasi sebelumnya.

•Ovarium polikistik, yaitu gangguan berupa terdapat banyak kista berdiameter 10 mm atau kurang pada ovarium. Kista adalah tumor jinak berisi cairan yang terbungkus oleh selaput semacam jaringan.

•Kanker vagina biasanya disebabkan oleh infeksi virus.

•Kanker serviks, yaitu terjadi pertumbuhan sel abnormal pada lapisan epitel mulut rahim.

•Kanker ovarium ditandai dengan rasa pegal pada panggul yang luar biasa dan perdarahan.

•Endometriosis, yaitu gangguan berupa terdapat jaringan endometrium di luar uterus, misalnya di ovarium atau tuba Fallopi.

•Penyempitan tuba Fallopi menghalangi jalan masuknya sperma sehingga sulit mendapatkan keturunan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor genetik atau infeksi kuman.

•Mola hidatidosa (hamil anggur), yaitu kegagalan dalam pembentukan janin sehingga tidak ada janin yang tumbuh di dalam rahim, melainkan hanya gelembung (mola) dan darah yang membeku. Hamil anggur diduga terjadi akibat kurang gizi atau gangguan sistem peredaran darah rahim.

•Mioma uterus (uterine myoma) adalah tumor jinak berupa daging yang tumbuh pada dinding rahim.


2. Gangguan Sistem Reproduksi Laki-laki


•Disfungsi ereksi (erectile dysfunction/impotensi), yaitu ketidakmampuan laki-laki mempertahankan ereksi.

•Ginekomastia, yaitu pembesaran payudara laki-laki akibat produksi estrogen yang berlebihan.

•Kanker penis biasanya terjadi pada laki-laki yang tidak dikhitan sehingga terjadi penimbunan sekresi kental di bawah prepusium. Hal tersebut meningkatkan risiko infeksi menular seksual.

•Hipogonadisme, yaitu penurunan fungsi testis akibat gangguan hormon. Hipogonadisme dapat menyebabkan kemandulan, impotensi, dan berkurangnya karakter sekunder laki-laki.

•Kriptorkidisme, yaitu kegagalan testis turun ke dalam skrotum sejak masih bayi sehingga testis berada pada lingkungan suhu yang lebih tinggi daripada suhu optimum spermatogenesis. Kriptorkidisme ditangani dengan pemberian hormon HCG dan pembedahan.

•Uretritis (radang uretra) dan epididimitis (radang epididimis) disebabkan oleh mikroorganisme (Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis) yang ditularkan melalui hubungan seksual.

•Orkitis (radang testis) dapat terjadi setelah radang epididimis atau penyakit parotitis (gondongan).

•Prostatitis (radang kelenjar prostat) mengakibatkan pembengkakan sehingga menimbulkan rasa nyeri dan kesulitan berkemih. Prostatitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri dan sering terjadi pada pria lanjut usia.



IV. Teknologi Sistem Reproduksi


•Amniosentesis adalah teknik pengambilan cairan amnion untuk dianalisis secara genetik dan biokimia. Amniosentesis bertujuan untuk mendeteksi adanya kelainan genetik, misalnya siklemia atau hemofilia. Amniosentesis umumnya dilakukan terhadap wanita hamil yang berusia lebih dari 35 tahun atau penderita kelainan kromosom.

•USG (ultrasonografi) adalah teknik diagnostik menggunakan gelombang ultrasonik untuk menampilkan keadaan kesehatan, organ internal, ukuran tubuh, dan jenis kelamin bayi dalam rahim ibu.

•Fertilisasi in vitro (teknik bayi tabung) dilakukan untuk membantu pasangan yang sulit mendapatkan keturunan. Mekanismenya, ovum difertilisasi dengan sperma pada media kultur untuk menghasilkan embrio, kemudian embrio diimplantasikan ke uterus agar terjadi kehamilan.



V. Metode Kontrasepsi dalam Program Kependudukan dan KB (Keluarga Berencana)


Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan sekitar 250 juta jiwa, dengan angka pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun. Angka tersebut tinggi sehingga program KB dengan dogan "dua anak cukup tetap harus dilakukan secara intensif untuk mengendalikan angka kelahiran


Pasangan suami-istri yang ingin menghindari kehamilan dapat memilih metode kontrasepsi. Prinsip metode kontrasepsi adalah menghambat pergerakan sperma ke ovum, mencegah ovulasi, atau mencegah implantasi zigot.


•Kontrasepsi alami dilakukan dengan sistem kalender (tidak melakukan hubungan seks selama masa subur wanita).

•Koitus interuptus, yaitu pengeluaran penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi.

•Kontrasepsi kimiawi, misalnya menggunakan jeli, busa, krim. dan supositoria spermisida (pembunuh sperma). Zat-zat tersebut bersifat toksik bagi sperma.

•Metode sawar mekanis, yaitu mencegah pergerakan sperma ke tuba Fallopi. Contohnya, diafragma, kondom untuk laki-laki/ wanita, serta sterilisasi. Sterilisasi merupakan metode permanen untuk mencegah penyatuan sperma dengan ovum melalui operasi. Jenis sterilisasi, yaitu sebagai berikut.

  a. Vasektomi, yaitu pemotongan vas deferens, kemudian kedua ujung saluran diikat agar sperma tidak dapat mengalir sehingga cairan semen tidak mengandung sperma.

  b. Tubektomi (ligasi tuba), yaitu pemotongan dan pengikatan saluran tuba Fallopi sehingga ovum tidak memasuki uterus.

•Pencegahan ovulasi dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Pil KB mencegah ovulasi dengan menekan sekresi gonadotropin. Pil KB mengandung steroid sintetik mirip estrogen dan progesteron.

b. Susuk KB (alat kontrasepsi di bawah kulit/ implant) berisi levonorgestrel yang menghambat ovulasi, menipiskan endometrium, serta menghambat pergerakan sperma karena lendir serviks mengental dan berjumlah sedikit.

c. Suntik KB mengandung depor medroxyprogesterone acetate (progestin) yang bekerja menghambat ovulasi dan mengentalkan lendir serviks.

•Penghambatan implantasi dilakukan dengan cara memblokade implantasi, contohnya IUD (intrauterine device) atau AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) yang bekerja mencegah sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding rahim.








Post a Comment

0 Comments