PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Koordinasi - Bagian 2

PK Biologi XI - Semester 1 - Sistem Koordinasi - Bagian 2

BIOLOGI SMA/MA

Kelas XI Semester I




BAB 9
Sistem Koordinasi


Pendalam Materi

Mengamati Pancaindra dan Fungsinya



G. Sistem Saraf Tepi (SST)


Sistem saraf tepi (sistem saraf perifer) terdiri atas jaringan saraf yang berada di luar otak dan di luar medula spinalis. Sistem ini meliputi saraf kranial yang berasal dari otak dan saraf spinal yang berasal dari medula spinalis. Pada sistem saraf tepi, terdapat ganglion (ganglia = jamak), yaitu struktur lonjong yang mengandung badan sel neuron dan sel glia yang ditunjang oleh jaringan ikat.


1. Saraf Kranial


Saraf kranial (cranial nerve, CN) terdiri atas 12 Sebagian besar tersusun dari serabut sensor dan motor, tetapi pasang saraf. beberapa saraf hanya tersusun dari serabut sensor.


2. Saraf Spinal


Setiap saraf spinal terdiri atas satu radiks dorsal (posterior) dan ventral (anterior). Setiap radiks yang memasuki atau meninggalkan korda membentuk 7-10 cabang radiks (rootlet). Radiks dorsal terdiri atas kelompok serabut sensor yang memasuki korda, sedangkan radiks ventral terdiri atas kelompok serabut motor dari korda. Bagian yang membesar pada radiks dorsal disebut ganglion radiks dorsal yang mengandung neuron sensor.


Saraf spinal terdiri atas 31 pasang saraf yang muncul dari segmen-segmen medula spinalis dan diberi nama sesuai nama ruas tulang belakang, yaitu saraf serviks 8 pasang (C1-C8), saraf toraks 12 pasang (T1-T12), saraf lumbar 5 pasang (L1-L5), saraf sakrum 5 pasang (S1-S5), dan saraf koksiks 1 pasang. Saraf spinal berfungsi mempersarafi otot leher dan bahu, kulit kepala, dada, dinding abdomen (perut), paha, genetalia luar, panggul, bokong, dan kaki.


SST (sistem saraf tepi) meliputi serat-serat saraf yang membawa informasi antara sistem saraf pusat dan bagian tubuh lainnya (perifer). Berdasarkan arah impuls yang dibawanya, SST dibagi menjadi divisi aferen dan eferen. Divisi aferen (a = menuju/ke, feren = membawa) membawa informasi dari reseptor yang terletak pada bagian eksternal tubuh atau reseptor somatik (misalnya, kulit merasakan dingin) maupun bagian internal tubuh atau viseral (misalnya, lambung merasakan lapar) menuju ke SSP. Divisi eferen (e = dari, feren = membawa) membawa instruksi dari SSP ke organ efektor otot atau kelenjar yang melaksanakan perintah agar dihasilkan efek yang sesuai.


Sistem saraf eferen dibagi menjadi sistem saraf somatik dan sistem saraf otonom. Sistem saraf somatik terdiri atas serat-serat neuron motor yang terdapat pada otot rangka. Sementara itu, sistem saraf otonom terdiri atas serat-serat yang terdapat pada otot polos, otot jantung, dan kelenjar. Sistem saraf otonom dibagi menjadi dua jenis berdasarkan fungsinya, yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis.


a. Sistem saraf simpatis


Serat saraf simpatis berasal dari segmen toraks dan lumbar medula spinalis. Sebagian besar serat praganglion sangat pendek, memiliki sinapsis, dan memiliki badan sel neuron pascaganglion yang berada di dalam ganglion pada rantai ganglion simpatis di sepanjang kedua sisi medula spinalis. Serat pascaganglion panjang, berasal dari rantai ganglion dan berakhir di organ efektor. Serat praganglion mengeluarkan neurotransmiter, asetilkolin, sedangkan serat pascaganglion mengeluarkan noradrenalin (norepinefrin) sehingga disebut serat adrenergik. Baik asetilkolin maupun norepinefrin berfungsi sebagai pembawa pesan kimiawi.


Sistem simpatis mendorong respons-respons yang mempersiapkan tubuh untuk beraktivitas fisik berat dalam situasi darurat atau stres yang disebut respons lawan (respons lari). Oleh karena itu, tubuh membutuhkan hal-hal yang mendukung situasi tersebut, misalnya jantung berdenyut lebih cepat dan kuat, tekanan darah meningkat, saluran napas membuka lebar, glikogen dan simpanan lemak diuraikan untuk menghasilkan energi, dan keringat meningkat.


b. Sistem saraf parasimpatis


Serat saraf parasimpatis berasal dari area kranial (otak) dan sakrum (di bagian bawah medula spinalis). Serat praganglion parasimpatis lebih panjang daripada serat praganglion simpatis, karena mencapai ganglion terminal di dalam atau di dekat organ efektor. Serat pascaganglion sangat pendek dan berakhir di sel sel organ. Serat praganglion maupun pascaganglion pada sistem saraf parasimpatis mengeluarkan neurotransmiter yang sama, yaitu asetilkolin sehingga disebut serat kolinergik.


Sistem parasimpatis bekerja pada keadaan tenang (santai) dan mendorong fungsi tubuh untuk istirahat dan mencerna sehingga akan memperlambat aktivitas yang ditingkatkan oleh sistem saraf simpatis, misalnya denyut jantung lambat atau normal. Jadi, fungsi sistem parasimpatis berlawanan dengan sistem simpatis.


H. Gangguan Sistem Saraf


1. Meningitis adalah peradangan pada selaput otak (meningia) dengan gejala bertambahnya jumlah dan berubahnya susunan cairan serebrospinal. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri atau virus.


2. Ensefalitis adalah peradangan jaringan otak, biasanya disebabkan oleh virus.


3. Neuritis adalah gangguan pada saraf tepi akibat peradangan, keracunan, atau tekanan. Gejala penyakit ini adalah rasa sakit yang hebat pada malam hari.


4. Rasa baal (kebas) dan kesemutan adalah gangguan pada sistem saraf sensor yang dapat disebabkan oleh gangguan metabolisme, tertutupnya aliran darah, atau kekurangan vitamin neurotropik (B1, B6, dan B12).


5. Epilepsi (ayan) adalah penyakit saraf menahun yang menimbulkan serangan mendadak berulang-ulang tidak beralasan. Penyakit ini dapat disebabkan oleh trauma kepala (cedera), tumor otak, kerusakan otak saat proses kelahiran, stroke, dan alkohol. Ayan bukan termasuk penyakit keturunan.


6. Alzheimer adalah sindrom kematian sel-sel otak secara bersamaan sehingga otak tampak mengecil dan kemampuan daya mengingat berkurang. Sering diderita oleh orang berusia 65 tahun ke atas.


7. Gegar otak (commotio cerebri) adalah bergeraknya jaringan otak dalam tengkorak yang menyebabkan perubahan fungsi mental atau tingkat kesadaran. Gegar otak ditandai dengan gejala awal kebingungan atau pingsan selama beberapa menit.



II. Sistem Endokrin (Hormon)


Sistem endokrin adalah sekumpulan kelenjar dan organ yang memproduksi hormon. Hormon (Yunani, horman = yang menggerakkan) adalah senyawa organik pembawa pesan kimiawi di dalam aliran darah menuju ke sel-sel atau jaringan tubuh. Hormon hanya dapat memengaruhi sel-sel target yang memiliki reseptor khusus. Pengaruh hormon terhadap jaringan tubuh tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat (beberapa detik) hingga beberapa tahun. Jumlah hormon dalam aliran darah hanya sedikit jika dibandingkan dengan jumlah glukosa atau kolesterol. Sistem endokrin berinteraksi dengan sistem saraf berfungsi mengatur aktivitas tubuh seperti metabolisme, homeostasis (misalnya, Pengendalian tekanan darah dan kadar gula darah), pertumbuhan, Perkembangan seksual dan siklus reproduksi, siklus tidur, serta siklus nutrisi.


A. Karakteristik Kelenjar Endokrin


Kelenjar endokrin memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.

•Merupakan kelenjar buntu karena tidak memiliki saluran (duktus) dan menyekresikan hormon langsung ke dalam cairan di sekitar sel-sel.

•Pada umumnya, menyekresi lebih dari satu jenis hormon, kecuali kelenjar paratiroid yang hanya menyekresi hormon paratiroid.

•Memiliki sejumlah sel sekretori yang dikelilingi banyak pembuluh darah dan ditopang oleh jaringan ikat.

•Masa aktivitas kelenjar endokrin dalam menghasilkan hormon berbeda-beda, ada yang seumur hidup (contohnya, hormon metabolisme), dimulai pada masa tertentu (contohnya, hormon kelamin), atau bekerja sampai masa tertentu (contohnya, hormon pertumbuhan).

•Sekresi hormon dapat distimulasi atau dihambat oleh kadar hormon lainnya dan senyawa nonhormon (misalnya, glukosa dan kalsium) dalam darah serta impuls saraf.


B. Kelenjar Endokrin dan Sekresi Hormon


Kelenjar endokrin pada manusia meliputi hipofisis (pituitari), tiroid, paratiroid, adrenal, pankreas, pineal, dan timus.


1. Hipofisis (pituitari) merupakan organ berbentuk oval, melekat di bagian dasar hipotalamus otak, sebesar kacang, dan memiliki berat 0,5 gram. Hipofisis terbagi menjadi tiga bagian, yaitu lobus anterior, intermedia, dan posterior.


a. Hipofisis lobus anterior menghasilkan hormon hormon sebagai berikut.


(1) Hormon pertumbuhan (growth hormonel GH) atau hormon somatotropin (STH) yang berfungsi sebagai berikut.


•Mengendalikan pertumbuhan dan perbanyakan sel-sel tubuh. Contoh, pada pertumbuhan tulang dan pertambahan massa otot rangka.

•Menyebabkann hati memproduksi somatomedin yang berperan dalam pertumbuhan tulang dan kartilago.

•Mempercepat laju sintesis protein dengan cara meningkatkan pemasukan asam amino melalui membran sel.

•Menurunkan laju penggunaan karbohidrat oleh sel-sel tubuh sehingga menambah kadar glukosa darah.

•Meningkatkan pemakaian lemak untuk energi


Abnormalitas sekresi growth hormone/GH:

•Kerdil (dwarfism), yaitu kekurangan (hiposekresi) GH selama masa anak-anak sehingga pertumbuhan terhenti.

•Gigantisme, yaitu kelebihan (hipersekresi) GH selama masa remaja sebelum penutupan cakram epifisis sehingga menyebabkan pertumbuhan tulang panjang berlebihan.

•Akromegali, yaitu pembesaran tulang yang tidak proporsional, seperti penambahan ketebalan tulang pipi pada wajah serta pembesaran pada tangan dan kaki. Akromegali terjadi akibat hipersekresi GH selama masa remaja setelah penutupan cakram epifisis.


(2) Hormon perangsang tiroid (tirotropin, thyroid stimulating hormone/TSH) berfungsi meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan sel-sel kelenjar tiroid (kelenjar gondok), laju produksi hormon tiroksin, dan metabolisme sel. Pajanan udara dingin dalam waktu lama akan merangsang produksi tiroksin sehingga mempercepat metabolisme untuk menghangatkan tubuh.


(3) Hormon adrenokortikotropik atau kortikotropin (adrenocorticotropic hormone/ACTH) berfungsi merangsang kelenjar korteks adrenal untuk menyekresi glukokortikoid (hormon untuk metabolisme karbohidrat).


(4) Hormon gonadotropin atau gonadotropik yang mengatur fungsi gonad. Hormon gonadotropin terdiri atas sebagai berikut.


FSH (follicle stimulating hormone)

•Pada wanita, FSH berfungsi menstimulasi pertumbuhan folikel ovarium dan memproduksi hormon estrogen.

•Pada laki-laki, FSH berfungsi menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan spermatozoa dalam tubulus seminiferus testis.


LH (luteinizing hormone)

•Pada wanita, LH bekerja sama dengan FSH menstimulasi produksi estrogen. LH berperan dalam ovulasi dan sekresi progesteron.

•Pada laki-laki, LH menstimulasi sel-sel interstisial tubulus seminiferus testis untuk memproduksi androgen (testosteron).


(5) Hormon prolaktin (PRL) disekresikan pada saat hamil dan menyusui.


b. Hipofisis lobus intermedia (tengah) menghasilkan endorfin dan melanocyte stimulating hormone (MSH).


Hormon ini juga dihasilkan di lobus anterior.

•Endorfin merupakan zat penghilang nyeri alamiah yang merespons stres dan aktivitas, seperti olahraga.

•MSH merangsang pembentukan pigmen dan penyebaran sel-sel penghasil pigmen (melanosit) pada epidermis.


c. Hipofisis lobus posterior, menghasilkan hormon ADH (antidiuretic hormone) dan oksitosin.


•ADH berfungsi menurunkan volume air yang hilang dalam urine melalui peningkatan reabsorpsi air dari tubulus kontortus distal dan duktus kolektivus di ginjal. Hiposekresi ADH menyebabkan diabetes insipidus (produksi urine berlebihan) disertai rasa haus yang terus-menerus. Hipersekresi ADH menyebabkan peningkatan volume darah.

•Oksitosin berfungsi menstimulasi kontraksi otot polos pada saat melahirkan dan pengeluaran ASI pada ibu menyusui. Pelepasan oksitosin dan ASI dihambat oleh stres emosional.


2. Tiroid (kelenjar gondok) terdiri atas folikel-folikel dalam dua lobus lateral yang terletak di bawah laring. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin (tetraiodotironin/T) sebanyak 90% dan triiodotironin (T) sebanyak 10% dari seluruh sekresi tiroid. Hormon tersebut terbuat dari asam amino tirosin yang mengandung iodin. Jika kekurangan jodin dalam waktu yang lama, tiroid akan membengkak (penyakit gondok/goiter). Hormon tiroksin berfungsi meningkatkan laju metabolisme sel, menstimulasi konsumsi oksigen, meningkatkan pengeluaran energi panas, serta mengatur pertumbuhan dan perkembangan normal tulang, gigi, jaringan ikat, dan saraf.


Abnormalitas sekresi tiroid:

•Hipotiroidisme (penurunan sekresi hormon)menyebabkan penurunan metabolisme, konstipasi, reaksi mental lambat, dan peningkatan simpanan lemak. Pada anak anak, menyebabkan kretinisme yang ditandai dengan keterlambatan mental dan fisik. Pada orang dewasa, menyebabkan miksedema yang ditandai dengan terjadinya edema (akumulasi air dan musin di bawah kulit).

•Hipertiroidisme (sekresi hormon berlebihan) menyebabkan peningkatan metabolisme, berat badan menurun, gelisah, diare, frekuensi denyut jantung meningkat, toksisitas hormon, dan penyakit Grave (pembengkakan jaringan di bawah kantong mata sehingga bola mata menonjol).


3. Paratiroid (kelenjar anak gondok) terdiri atas empat organ kecil berukuran sebesar biji apel dan terletak pada permukaan belakang tiroid. Paratiroid menyekresi hormon parathormon (parathyroid hormone/PTH). PTH berfungsi mengendalikan keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh melalui mekanisme berikut.


•Stimulasi aktivitas osteoklas (sel penghancur tulang) yang menyebabkan pengeluaran kalsium,

•Pengaktifan vitamin D yang diperlukan untuk mengabsorpsi kalsium dalam makanan

•Stimulasi reabsorpsi kalsium dari tubulus ginjal sehingga menurunkan ion kalsium dalam urine dan meningkatkan kadar kalsium dalam darah


Abnormalitas sekresi PTH:

•Hiperparatiroidisme menyebabkan peningkatan aktivitas osteoklas dan pelemahan tulang.

•Hipoparatiroidisme menyebabkan penurunan kadar kalsium dalam darah, peningkatan iritabilitas sistem neuromuskular, dan tetanus (kejang otot rangka).


4. Adrenal (suprarenalis/kelenjar anak ginjal) terletak di kutub atas ginjal, berwarna kuning, dan tertanam pada jaringan adiposa. Kelenjar adrenal terdiri atas korteks di bagian luar dan medula di bagian dalam. Kelenjar adrenal bagian medula menghasilkan hormon sebagai berikut.

•Adrenalin (Epinefrin) meningkatkan frekuensi jantung, metabolisme, dan konsumsi oksigen.

•Noradrenalin (Norepinefrin) meningkatkan tekanan darah dan menstimulasi otot jantung.


Kelenjar adrenal bagian korteks menghasilkan hormon:

•Aldosteron mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian kadar natrium dan kalium dalam darah.

•Glukokortikoid (kortisol, kortison, dan kortikosteron) memengaruhi metabolisme glukosa, protein, lemak, serta menjaga membran lisosom sehingga mencegah kerusakan jaringan.

•Gonadokortikoid (steroid kelamin) sebagai prekursor pengubahan testosteron dan estrogen oleh jaringan lain.


Abnormalitas sekresi kelenjar adrenal:

•Hiposekresi menyebabkan penyakit Addison dengan gejala ketidakseimbangan natrium dan kalium dalam darah sehingga kulit menghitam.

•Hipersekresi menyebabkan peningkatan tekanan darah, cushings disease (kelemahan otot serta penumpukan lemak di leher dan wajah), sindrom adrenogenital (terjadi pubertas dini), serta wanita dewasa yang memiliki karakteristik laki-laki (tumbuh rambut di wajah, suara menjadi berat, dan perkembangan otot).


5. Pankreas merupakan organ berbentuk pipih yang terletak di bagian belakang bawah lambung. Pankreas sebagai endokrin menghasilkan hormon sebagai berikut.

•Glukagon dihasilkan oleh sel alfa, berfungsi meningkatkan penguraian glikogen hati menjadi glukosa sehingga kadar gula darah meningkat dan sintesis glukosa dari sumber nonkarbohidrat dalam hati.

•Insulin dihasilkan oleh sel beta, berfungsi menurunkan katabolisme lemak dan protein, menurunkan kadar gula darah, serta meningkatkan sintesis protein dan lemak.

•Somatostatin dihasilkan oleh sel delta, merupakan penghalang hormon pertumbuhan dan penghambat sekresi glukagon dan insulin.

•Polipeptida pankreas meru┼┐akan hormon pencernaan yang dilepaskan setelah makan, fungsi belum diketahui.


Abnormalitas sekresi kelenjar pankreas:

Defisiensi insulin menyebabkan diabetes melitus. Diabetes melitus dapat disebabkan oleh faktor genetik, obesitas, penyakit autoimun, virus, lingkungan, ekonomi, dan budaya.


6. Pineal (epifisis serebri) terletak di langit-langit otak serta menghasilkan melatonin yang berpengaruh pada pelepasan gonadotropin dan menghambat produksi melanin. Produksi melatonin terendah terjadi pada siang hari dan terbesar pada malam hari.


7. Timus terdiri atas dua lobus berwarna kemerah-merahan, yang terletak di bagian posterior toraks di atas jantung. Pada bayi yang baru lahir, bentuknya sangat kecil, hanya sekitar 10 gram. Ukurannya bertambah pada masa remaja! pubertas, menjadi sekitar 30-40 gram. Namun, setelah dewasa berangsur-angsur menyusut. Timus menghasilkan timosin untuk pengendalian perkembangan sistem imunitas.


8. Ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Testis menghasilkan hormon testosteron. Plasenta menghasilkan gonadotropin korion, estrogen, progesteron, dan somatotropin.








Post a Comment

0 Comments